LOVE THE OLD MAN

LOVE THE OLD MAN
MENCARI KEBENARAN (2)


__ADS_3

"Aku kasihan sama Priambodo, dengan masalah ini jabatannya dia pertaruhkan untuk membela aku. Aku yakin dia akan di tekan dari beberapa orang yang ingin menjatuhkannya." ucap Ardian dengan perasaan kuatir akan keadaan mental Priambodo.


"Paman, sekarang aku sudah dewasa. Sudah bisa menjaga diriku sendiri dan mentalku sudah sekuat baja, aku tidak akan membiarkan orang-orang jahat menindasku. Apalagi ada orang jahat yang ingin menyelakai paman, aku tidak akan membiarkannya." ucap Priambodo yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamar tanpa Ardian dan Nayla sadari.


"Pri? sejak kapan kamu datang? aku tidak mendengarnya?" tanya Ardian seraya berusaha duduk bersandar.


"Hati-hati mas." ucap Nayla ikut membantu Ardian agar bisa duduk dengan nyaman.


"Terimakasih Nay." ucap Ardian yang sangat terharu dengan perhatian dan kasih sayang Nayla yang tidak berkurang sedikitpun.


"Barusan paman, saat paman bicara tadi aku sudah mendengarnya." sahut Priambodo seraya mengambil kursi dan duduk di sebelah kanan Ardian.


"Aku hanya menguatirkan kamu saja Pri, karena kamu lebih tahu mana orang yang suka dan yang tidak suka dengan kedudukanmu yang cukup tinggi di usiamu yang masih muda." ucap Ardian dengan serius.


"Paman jangan kuatirkan aku, aku masih bisa mengatasi masalah intern di kantorku. Sekarang yang aku lebih kuatirkan adalah masalah paman. Keluarga Anita terutama Arifin pengacara mereka tidak berhenti menginginkan paman untuk bisa masuk penjara." ucap Priambodo dengan serius.


"Lalu kita harus bagaimana Pri? padahal sangat jelas kalau mas Ardian yang jadi korban." ucap Nayla dengan hati cemas.


"Nay, kamu tenang ya? ingat dengan bayi kita? kamu tidak boleh terlalu banyak berpikir." ucap Ardian seraya menggenggam tangan Nayla agar bisa tenang.


"Kalian tidak perlu kuatir lagi, aku sudah ada dua saksi dan dua bukti yang memberatkan Burhan, tinggal tunggu kabar dari Kenzo yang akan mencari bukti lewat ponsel Burhan, dan kabar dari Alex yang sudah menemukan lokasi Dargo dan kawan-kawannya." ucap Priambodo dengan serius.


"Benarkah itu Pri? akkkhhhh kamu memang ponakan yang sangat pintar. Terimakasih banyak Pri." ucap Nayla dengan refleks memeluk Priambodo dengan perasaan gembira.


Tubuh Priambodo terhuyung ke belakang karena pelukan Nayla yang begitu tiba-tiba.


"Nayla, apa yang kamu lakukan? lihat! kamu telah membuat pamanku cemburu!" ucap Priambodo bercanda.


Dan memang wajah Ardian sedikit memerah saat melihat Nayla memeluk Priambodo dengan sangat erat.

__ADS_1


Mendengar Priambodo menyebut nama Ardian dengan cepat Nayla melepas pelukannya.


"Maafkan aku, aku terlalu gembira mendengar kabar itu tadi, paling tidak mas Ardian tidak akan di penjara karena memang bukan kesalahan mas Ardian." ucap Nayla menatap sekilas wajah Ardian yang memerah.


"Paman, hari ini aku ingin paman membuat rekaman kronologi awal saat paman di culik Anita sampai pada saat paman tidak sadar." ucap Priambodo untuk menambah bukti yang kuat jika Anita yang bersalah.


"Ya Pri, segera aku akan merekamnya dan aku kirim padamu nanti." ucap Ardian dengan serius.


"Ya sudah paman, aku akan ke dokter sebentar untuk meminta berkas hasil pemeriksaan dokter sebagai berkas pendukung dengan bukti-bukti yang lainnya." ucap Priambodo yang harus menyelesaikan semuanya hari ini.


"Hati-hati dalam bekerja Pri." ucap Nayla dengan tersenyum bahagia karena semuanya akan baik-baik saja.


Setelah Priambodo pergi, Nayla menatap Ardian sekilas. Tampak Ardian terdiam seperti ada sesuatu yang menggangu pikirannya.


"Mas, kenapa diam saja?" tanya Nayla dengan sedikit takut karena kesalahan yang tidak di sengajanya tadi.


"Tidak ada apa-apa Nay." ucap Ardian dengan suara pelan.


"Sungguh tidak ada apa-apa Nay, aku mau istirahat sebentar." ucap Ardian kemudian memejamkan matanya.


Sungguh baru kali ini Ardian merasakan takut akan kehilangan Nayla dan merasa dirinya tidak lagi sempurna saat Nayla memeluk dan memuji Priambodo dihadapannya.


"Mas, aku tahu mas Ardian tidak bisa tidur. Maafkan aku ya mas, sungguh aku tidak sengaja melakukannya. Aku terbawa perasaanku yang sedang bahagia karena mas bisa lepas dari masalah yang menakutkan bagiku." ucap Nayla sambil mengusap lembut wajah Ardian.


Ardian membuka matanya setelah mendengar alasan Nayla, dan memang Ardian tahu Nayla memang tidak ada maksud apa-apa. Tapi entahlah mungkin karena rasa cintanya yang lebih besar membuat hatinya ada rasa cemburu.


"Aku tahu kamu tidak bermaksud apa-apa Nay, tapi entahlah ada rasa takut di hatiku kalau kamu akan berpaling pada Priambodo yang lebih sempurna di bandingkan aku." ucap Ardian dengan tatapan matanya yang teduh.


"Mas Ardian, hal itu tidak akan pernah terjadi. Mas Ardian pasti lebih tahu tentang perasaanku pada mas Ardian. Aku sangat mencintaimu mas, dan rasa cinta itu semakin dalam. Apalagi dengan adanya bayi kita yang tumbuh subur dalam kandunganku. Kalian berdualah yang terpenting dalam hidupku yang membuat duniaku menjadi lebih indah dan berwarna." ucap Nayla panjang lebar.

__ADS_1


"Ya Nay, aku senang mendengarnya." ucap Ardian dengan hati yang sangat lega karena Nayla juga sangat mencintainya.


"Sekarang sudah tidak cemburu lagi kan?" tanya Nayla dengan tersenyum.


Ardian menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman di bibirnya.


"Nay, bantu aku untuk membuat rekaman seperti yang di minta Pria. Hari ini harus kita kirim rekaman itu sebagai bukti penunjang." ucap Ardian dengan perasaan lega.


"Ya mas, mas Ardian bercerita saja nanti aku yang akan merekamnya." ucap Nayla seraya mengeluarkan ponselnya.


***


Pria keluar dari ruang dokter sambil membawa berkas salinan hasil pemeriksaan Ardian yang menyatakan Ardian ada memar pada tengkuk lehernya dan juga ada zat bius, juga ada obat perangsang berdosis tinggi yang menyebabkan Ardian kehilangan kesadarannya.


"Drrrrt...Drrrrt... Drrrrt"


Sambil membawa berkasnya, Priambodo mengambil ponselnya dan menerima panggilan dari Kenzo.


"Hallo Pria." panggil Kenzo dengan serius di sana.


"Ya Ken, ada apa? apa ada kabar yang sangat penting sampai kamu menghubungiku?" tanya Priambodo dengan hati berdebar-debar.


"Aku telah mendapatkan dan juga sudah menyalinnya pesan antara Anita dengan Ayah juga pesan dengan Dargo, semuanya sudah aku kirim barusan ke ponselmu." ucap Kenzo yang telah berusaha mengambil ponsel Burhan saat Burhan tidur bersama ibunya.


"Wahh.. kabar yang sangat bagus Ken, aku sangat berterimakasih padamu. Dengan bukti pesan ini sudah cukup untuk bisa membebaskan paman dari semua tuduhan." ucap Priambodo dengan perasaan lega.


"Bagaimana dengan Dargo? apa mereka sudah di temukan?" tanya Kenzo yang masih mengawasi Burhan dalam dua puluh empat jam.


"Masih di kejar Alex, aku masih menunggu kabar darinya juga." jawab Priambodo yang pikirannya menjadi terbagi saat ada panggilan masuk juga dari Alex.

__ADS_1


"Kenzo, ada panggilan masuk dari Alex, kita lanjutkan nanti pembicaraan kita ya." ucap Priambodo dengan hati yang berdebar-debar.


__ADS_2