
"Bagaimana A? Aku cantik tidak?" tanya Baby dengan malu-malu, saat melihat suaminya tampak terkejut bahkan sampai menjatuhkan ponselnya.
"Tentu saja Anda sangat cantik," sang pemilik butik yang menjawab. "Benar bukan, Tuan A?"
Agam menelan salivanya dengan susah payah sembari mengambil ponselnya yang terjatuh. Dia tidak memungkiri perkataan sang pemilik butik, Baby terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun model twist dan aksen drapery berwarna new white.
"Kau cantik sayang," Agam tanpa sadar mendekat kearah istrinya, menarik pinggang ramping itu dan membawanya ke dalam pelukan.
Baby yang terkejut dengan sikap Agam, hanya bisa terdiam saat pria itu dengan berani menarik pinggangnya, dan kini mencium bibirnya di depan pemilik butik dan orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Sebuah ciuman singkat namun begitu berkesan di hati Baby karena dilakukan oleh Agam di tempat umum.
"I love u," ucap Agam setelah melepaskan ciuman mereka. Mengusap bibir merah yang baru saja ia kecup dengan perasaan sedih.
__ADS_1
Sedih karena mengingat acara pernikahan mereka waktu itu dilakukan dengan begitu sederhana, bahkan Baby hanya mengenakan pakaian pasien dalam kondisi koma tidak sadarkan diri.
"Aku juga mencintaimu A," balas Baby dengan hati yang bahagia.
Ehem.
Sang pemilik butik sengaja berdeham. "Tuan apa tidak sekalian mencoba tuksedo Anda?
Agam menggelengkan kepala. "Tidak perlu," jawabnya singkat tanpa mengalihkan tatapan pada Baby. "Bagaimana, kau suka dengan gaun nya?" tanya Agam.
Agam tersenyum tipis, bahkan sangat tipisnya sampai tidak ada yang melihat senyuman tersebut. "Kalau begitu cepat ganti pakaian mu! Kita pulang!" bisik Agam.
__ADS_1
Baby yang mengerti arti ucapan Agam semakin malu hingga wajahnya kini memerah seperti tomat, ia pun segera masuk ke ruang ganti pakaian untuk melepaskan gaun pengantin yang dikenakannya. Dan setelah mengobrol sebentar dengan pemilik butik untuk memastikan kembali gaun milik Baby, mereka pun keluar dari butik berjalan masuk ke dalam mobil, setelah sebelumnya Agam membisikkan tempat yang akan ditujunya pada supir.
"A kau bilang kita akan pulang?" tanya Baby saat melihat jalanan yang dilewatinya berlawanan arah dengan mansion Mateo.
"Kita tidak jadi pulang."
"Oh..." ucap Baby dengan sedikit rasa kecewa, karena tadinya ia pikir mereka akan pulang dan seperti biasanya melakukan kegiatan olahraga di atas ranjang. Karena entah mengapa akhir-akhir ini Baby justru bersemangat jika diajak bercinta, bahkan pernah satu waktu Baby yang meminta lebih dulu pada Agam dengan menahan rasa malu.
"Kita akan ke hotel," lanjut Agam sembari mengecup pipi Baby.
"Ke hotel? Tapi..." belum sempat meneruskan perkataannya, bibirnya sudah lebih dulu dilumat oleh Agam. Sebuah ******* yang awalnya lembut kini berubah sangat menuntut saat pria itu menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.
__ADS_1
"Sayang," Baby menahan tangan Agam yang hendak meloloskan pakaiannya. "Kita masih di dalam mobil." Bisik Baby sembari menatap pada supir yang sedang mengendarai mobil.
Agam yang tersadar, merapihkan kembali pakaian Baby sambil berdeham dengan keras untuk menetralisir degup jantungnya yang berdetak dengan cepat. Dan setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mobil yang mereka tumpangi sampai di depan hotel. Tanpa membuang waktu keduanya berjalan masuk ke dalam dengan bergandengan tangan, namun langkah kaki mereka terhenti saat melihat sosok yang sangat dikenalnya, tengah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.