
"Apa itu?" tanya Baby saat melihat kotak kecil yang berada ditangan suaminya.
Agam tidak menjawab pertanyaan Baby, ia menarik tangan istrinya untuk berdiri lalu membalik tubuh mungil itu untuk menghadap cermin besar yang ada diruangan tersebut.
"Ini milikmu," Agam mengenakan benda tersebut ke leher jenjang wanitanya.
"Kak ini..." Baby menatap benda yang melingkar di lehernya, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sebuah kalung dengan inisial huruf A dan B yang dulu ingin dibelinya namun di larang oleh Agam kini sudah terpasang dengan cantik di lehernya. "Kau membelinya?" Baby menyentuh kalung tersebut sembari membalik tubuhnya, menatap pria yang sangat dicintainya itu dengan binar kebahagiaan di kedua matanya.
Agam menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis dibibirnya. "Kau suka?" tanyanya sembari menarik pinggang Baby lalu mengecup bibir ranum milik istrinya.
__ADS_1
"Aku suka, terima kasih A." Ucap Baby sembari memeluk Agam tanpa menyadari dirinya sudah memanggil pria itu tanpa embel-embel kata kak di depannya. "Aku tidak menyangka kau tenyata membelinya."
"Dan aku tidak menyangka kau mengingat tentang kalung itu," bisik Agam dengan seringai tipis dibibirnya.
Deg.
Baby melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Agam dengan bingung, namun itu hanya sesat karena kebingungan itu berubah menjadi ketakutan saat menyadari kebodohannya yang sudah kelepasan berbicara tentang kalung dan memanggil Agam dengan sebutan A.
"Aku sudah tahu kau berpura-pura hilang ingatan," Agam mendekatkan wajahnya hingga kening mereka saling bersentuhan, bahkan ia bisa merasakan hembusan napas Baby menerpa diwajahnya.
__ADS_1
"A-apa? Tapi sejak kapan?" Baby benar-benar terkejut saat Agam mengetahui kebohongannya.
"Itu tidak penting, tapi aku mohon jangan pernah melupakan lagi rasa cintamu." Agam menangkup wajah Baby dengan kedua tangannya. "Hatiku sakit saat melihat tidak ada cinta di kedua matamu." Ia kembali teringat saat pertama kali Baby terbangun dari koma, dan tidak lagi melihat pancaran penuh cinta di kedua mata tersebut.
"A aku..." perkataannya tenggelam saat bibirnya kembali dikecup oleh Agam, kecupan yang awalnya sangat lembut kini berubah menjadi sangat menuntut saat tangan pria itu menekan tengkuknya. Memperdalam ciuman mereka dengan penuh gairah yang membara dan baru melepaskan ciuman tersebut setelah keduanya kehabisan oksigen. "A kau tidak marah padaku karena sudah berbohong?"
"Siapa bilang aku tidak marah?" Agam mengusap bibir wanitanya yang terlihat bengkak karena perbuatannya. "Dan sekarang saatnya kau dihukum Baby Arbeto," Agam mendorong perlahan tubuh mungil itu hingga terlentang di atas tempat tidur, lalu menghimpitnya hingga tak menyisakan jarak sedikit pun diantara mereka. "Ini hukuman karena kau sudah berbohong," Agam ******* bibir ranum wanita yang ada dibawahnya, lalu menggigitnya dengan gemas.
"A sakit," Baby mengusap bibirnya yang terasa semakin bengkak setelah tautan bibir mereka terlepas.
__ADS_1
"Dan ini hukuman karena sudah diam saja saat Sky menyentuh pipi mu." Agam mencium pipi wanitanya dengan gigitan kecil ditengah kecupan tersebut, membuat pipi istrinya kini terlihat memerah karena perbuatannya.
Tak berhenti sampai di situ, dengan perlahan namun pasti ciuman itu turun dileher jenjang wanitanya, meninggalkan banyak tanda cinta di sana dan semakin bersemangat melakukan hal yang lebih saat mendengar ******* yang keluar dari bibir mungil istrinya.