Love You A

Love You A
Part 79


__ADS_3

"Jadi kau memanggilku hanya untuk—"


"Menemani aku bergadang." Sahut Boy dengan cuek seraya membaringkan tubuhnya di atas sofa. "Tita mengusirku dari dalam kamar, jadi malam ini kau temani aku."


"What?" pekik Agam dengan wajah tak percaya, bisa-bisanya pria yang berstatus sebagai sepupu sekaligus kakak iparnya itu mengganggu kegiatan celup-mencelupnya hanya untuk menemani pria itu bergadang. "Kau gila." Agam mengumpat dengan kesal.


"Hei jaga bicaramu," Boy yang tak terima langsung menegakkan tubuhnya kembali.


Agam menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari tempat duduk untuk kembali ke dalam kamar milik gadisnya, atau yang lebih tepat wanitanya. Karena beberapa menit yang lalu istrinya itu sudah bukan gadis lagi karena sudah berhasil ia masuki.


"Mau kemana kau?"


"Kamar." Jawab Agam dengan singkat, padat, dan jelas.

__ADS_1


"Ke kamar? Lalu bagaimana denganku? Kau tega membiarkan aku sendirian?" Boy tak percaya sepupunya yang selalu menemaninya di kala suka, dan duka, justru meninggalkan dirinya seorang diri di ruangan tersebut.


Agam tidak mempedulikan perkataan Boy, karena yang terpenting saat ini adalah melanjutkan percintaan yang sempat tertunda, dari pada meladeni ocehan sepupunya yang gila itu.


"A.. woi!" teriak Boy dengan wajah yang kesal karena Agam tidak mempedulikannya sama sekali. "Aku akan memecat kau jadi sepupu!"


"No problem." Sahut Agam dengan setengah berteriak.


"Aku akan memecatmu jadi adik ipar," Boy kembali berteriak.


"****!" Boy mengumpat seraya menatap punggung Agam dengan kening yang berkerut, memperlihatkan sang pemilik wajah itu tengah berpikir dengan keras. "Kalau kau tidak mau menemani, aku akan minta Baby tidur di kamar Tita." Ancam Boy dengan senyum penuh kemenangan saat melihat langkah sepupunya itu terhenti.


Agam terdiam ditempatnya dengan menahan amarah, lalu menghela napasnya dengan kasar saat berjalan kembali ketempat Boy Arbeto. Kalau saja tidak ingat pria yang saat ini tengah tersenyum itu sepupu sekaligus kakak iparnya, maka sudah sejak tadi Agam melayangkan pukulan maut nya.

__ADS_1


"Good," Boy menepuk pundak Agam lalu dengan santainya kembali berbaring di atas sofa. Tidak menghiraukan sepupunya yang terlihat kesal padanya. "Kenapa kau begitu takut Baby tidur di kamar Tita?" tanya Boy seraya memejamkan kedua matanya.


"Aku tidak takut," jawab Agam sambil duduk di atas sofa. "Aku hanya tidak yakin Baby bisa berjalan ke kamar Tita setelah yang tadi kami lakukan."


"What?" Boy reflek mengangkat tubuhnya untuk duduk, matanya yang tadi tertutup kini terbelalak bahkan seperti ingin keluar dari tempatnya. "Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Boy dengan suara beratnya.


"Ck, tentu saja bercinta." Jawab Agam dengan sarkas dan raut wajah yang datar tanpa ekspresi apapun.


"Kau...." Boy menarik kaos yang dikenakan Agam, tatapan matanya menajam dengan rahang yang mengeras hingga memperlihatkan otot-otot di sekitarnya.


"Kenapa? Kau marah?" Agam menarik tangan Boy dari kaos yang dikenakannya, meskipun tidak berhasil dan berakhir dengan tangan mereka yang saling mencengkram kuat satu dan lainnya.


"Aku? Marah?" Boy tertawa sambil melepaskan cengkraman tangannya. "Untuk apa aku marah? Kalian itu sudah menikah jadi hal yang wajar untuk bercinta." Ia menatap sepupunya yang terlihat bingung dengan reaksi yang diberikannya. "Jadi bagaimana?"

__ADS_1


Agam yang masih bingung dengan sikap Boy yang sempat marah lalu tiba-tiba tertawa, hanya menautkan kedua alisnya atas pertanyaan sepupunya itu.


__ADS_2