
Beberapa bulan kemudian.
Perutnya yang sudah semakin besar membuat Baby kadang susah untuk berjalan, padahal usia kandungannya baru tujuh bulan tapi perutnya sudah sebesar ibu hamil sembilan bulan.
"Di sana saja!" perintah Baby sambil berjalan dengan pelan ke arah suaminya. Karena saat ini mereka berdua sedang mendekorasi kamar, untuk Baby mereka yang ternyata berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Ya, Baby mengandung bayi kembar dan itu mengapa perutnya jauh lebih besar dari wanita hamil kebanyakan. Berat badan Baby pun meningkat dengan tajam, karena semua makan masuk ke dalam perutnya tanpa terkontrol. Hingga dokter memberi nasihat agar Baby bisa menjaga pola makannya.
"Di sini?" tanya Agam dengan penuh kesabaran, karena ini sudah ke sepuluh kalinya pria itu memindahkan baby Box berwarna biru yang ada dihadapannya. "Oh ya ampun, pantas saja para pelayan angkat tangan dan memilih menyerah," gumam Agam dalam hati.
Para pelayan tersebut bahkan memilih dipotong gajinya saja dari pada melanjutkan pekerjaan mereka menata kamar twin. Karena sejak jam sepuluh pagi hingga kini jam lima sore, Baby selalu meminta posisi barang diganti secara berkali-kali. Untung saja Agam pulang cepat hari ini sehingga bisa membantu, dan menjaga Baby karena wanita itu sejak tadi tidak mau diam.
"Ya di sana," jawab Baby dengan tersenyum, karena akhirnya semua beres ketika suaminya datang, dan ikut membantu mendekor kamar Baby twin mereka.
"Baguslah! Sekarang kita istirahat karena aku takut kalian kenapa-kenapa," Agam mengusap perut buncit istrinya dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Oke..." Baby merangkul lengan Agam sambil berjalan keluar dari kamar twin. "Tapi tunggu dulu!" Baby menatap kebelakang. "Baby box untuk Putri kita lebih baik di ganti ke posisi semula."
Gubrak.
Agam sampai terjatuh di atas lantai karena permintaan istrinya itu. Bagaimana tidak terjatuh lemas karena sudah berulangkali diganti letak posisinya, Baby justru meminta agar letak Baby box putri mereka kembali pada posisi awal.
"A kau kenapa?" tanya Baby dengan kening yang berkerut, tidak mungkin suaminya itu lelah bukan? Karena dia saja tidak merasakan lelah sedikitpun duduk diam melihat Agam dan para karyawan nya bekerja.
"Sayang, kita lanjutkan besok oke." Agam berusaha berdiri meski lututnya terasa lemas.
"What? Kau bilang hanya memindahkan? Apa kau tidak sadar, memindahkan barang versi mu itu adalah memindahkan satu barang secara berulang-ulang kali," ucap Agam namun hanya dalam hati. "Sayang bukankah dua bulan lagi kau baru melahirkan, jadi besok saja kita pindahkan." Bujuk Agam.
Baby menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku mau sekarang! Karena siapa tahu twin lahir hari ini atau besok?"
"Jangan bicara seperti itu," Agam mengecup bibir istrinya. "Baiklah aku pindahkan." Akhirnya Agam memilih mengalah dari pada mendengar perkataan Baby yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Nah ini baru Daddy nya twin," seru Baby dengan bahagia. Menatap Agam yang tengah memindahkan Baby box berwarna pink ke tempat semula, di dekat Baby Box milik putra mereka nantinya.
"Bagaimana? Disini sudah benar?" tanya Agam. setelah memindahkan Baby box tersebut.
"Ya sayang," sahut Baby dengan tersenyum.
"Ya sudah, sekarang kau istirahat! Karena aku ingin berendam terlebih dahulu." Agam berjalan sembari melepaskan kancing kemejanya.
"A tunggu dulu!" Baby menghentikan langkahnya.
"Apalagi sayang?" Agam terus melangkah kakinya karena tidak mau memindahkan barang-barang twin lagi.
"A....!" teriak Baby dengan keras saat merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
Agam yang mendengar teriakkan Baby langsung menengok kebelakang, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Baby yang kesakitan sambil mengusap perutnya. Dengan cepat Agam berlari kearah Baby dan menggendong wanita itu keluar dari kamar twin.
__ADS_1