
Setelah mendengar celotehan Tita tentang hubungan suami-istri, kini Boy dan Baby kembali berbicara serius mengenai Agam. Sementara Tita memilih keluar kamar karena harus mengangkat panggilan telepon dari Mom Daniela.
"Aku lelah kak, harus berpura-pura hilang ingatan di depan A, dan juga Sky."
"Sky?" Boy mengerutkan keningnya.
Baby menganggukkan kepalanya lalu menceritakan apa yang terjadi tadi siang, ketika Sky mencium bibirnya sehingga Agam marah, dan kemarahan pria itu hampir saja membuat mereka melakukan hubungan suami-istri.
Boy yang mendengarkan cerita adiknya langsung tertawa terbahak-bahak, ia tertawa karena membayangkan bagaimana wajah Agam yang marah saat melihat Baby di cium oleh pria lain.
"Kak kenapa kau malah tertawa?" gerutu Baby dengan kesal.
Boy tidak menjawab pertanyaan Baby, ia masih asik tertawa sambil terus membayangkan kemarahan Agam. Tapi tawa itu terhenti saat ia menyadari kalau adiknya itu dicium oleh pria lain.
"Berani sekali pria itu mencium mu? Dan kau juga." Boy menjewer telinga adiknya dengan gemas. "Kenapa kau diam saja saat dicium?"
"Ish, bagaimana tidak diam. Aku itu terkejut dan tidak menyangka Sky berani menciumku." Ucap Baby seraya mengusap telinganya yang terasa perih ditarik oleh Boy Arbeto.
"Terkejut atau kau menikmatinya?" Sindir Boy dengan telak saat melihat sekilas bibir adiknya yang tersenyum.
"Sedikit menikmati, karena ciuman itu hanya sekedar kecupan sesaat. Mungkin akan lebih wow rasanya jika ciuman itu sedikit lama." Baby bercerita seraya memperagakan bibirnya seolah-olah sedang mencium seseorang.
Plak
__ADS_1
Boy reflek menepuk kening adiknya.
"Kak sakit tahu." Baby mengusap keningnya dengan wajah yang ditekuk.
"Habis kau membuatku geli." Boy bergidik seraya duduk menjauh dari adiknya. "Oh ya, tadi kau bilang A marah karena kau diam saja saat pria itu mencium mu?" tanya Boy, yang mulai serius kembali dengan perbicangan mereka.
Baby menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Itu artinya A sudah mulai mencintaimu." Ucap Boy.
"Kau salah kak, dia tidak mencintai aku. Karena kalau A mencintaiku dia pasti sudah mengatakannya." Baby menghela napasnya dengan berat.
"Dengar Baby, bagi seorang pria mengatakan kata cinta itu tidak harus dengan kata-kata. Tapi bisa dengan perbuatan."
"Contohnya?" tanya Baby dengan wajah yang bingung.
"Yah mulai lagi." Gumam Boy dalam hati, karena perbicangan ini pastinya akan membutuhkan waktu yang lama dan berakhir dengan pertengkaran dirinya dengan Tita. Karena jika istrinya itu sudah mengungkit masa lalu pasti yang dibahas adalah kesalahannya.
Sementara Baby hanya tertawa kecil saat melihat kakak dan kakak iparnya yang mulai berdebat, dan ia memilih untuk keluar dari kamar tersebut dari pada menjadi sasaran dari keduanya.
*
*
__ADS_1
"Kau mau kemana?"
Baby terkejut saat tangannya di tarik oleh seseorang, ketika kakinya baru saja melangkah keluar dari kamar Boy Arbeto. "Kak A," pekik Baby saat mengetahui orang yang menarik tangannya adalah Agam. "Tunggu kak!" Baby menahan langkahnya saat pria itu hendak membawanya. "Kita mau kemana?"
"Kita pulang!"
"Tidak kak, aku tidak mau." Baby tidak ingin kembali ke mansion Mateo, karena di tempat itu dirinya akan terus merasa takut Agam akan melakukan hal yang tidak-tidak, ditambah Baby juga takut jika kebohongannya akan terbongkar dan membuat pria itu marah.
"Kita harus pulang Baby!"
"Tidak mau!"
Agam dan Baby saling tarik menarik karena bersikeras dengan keinginannya masing-masing.
Brak.
Kedua orang yang tadi berdebat langsung terdiam saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan sangat kasar.
"Kalian sedang apa? Cepat kita ke ruang makan, karena makan malam sudah siap!" Ucap Boy lalu berjalan melewati keduanya begitu saja dengan wajah yang kusut dan datar.
Baby dan Agam saling menatap dengan bingung saat melihat sikap Boy Arbeto, dan kebingungan mereka bertambah saat kembali mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup dengan kasar.
"Kalian jangan diam saja disini! Ayo kita makan malam." Tita menarik tangan Baby.
__ADS_1
Membuat Agam hanya bisa diam dan menghela napasnya dengan kasar, saat rencananya untuk membawa Baby pulang ke mansion Mateo gagal lagi.
"Sepertinya kami memang harus melakukannya di mansion utama." Gumam Agam dengan seringai tipis dibibirnya.