
Agam masuk ke dalam mobil sambil menggendong istrinya yang tengah menangis. "Ayo cepat jalan!" perintah Agam pada supirnya.
"Tapi Tuan, Anda—"
"Cepat jalan!" Agam mengulangi perintahnya dengan membentak, karena semakin cemas saat mendengar Baby yang berteriak kesakitan.
"Ba-baik Tuan," supir itu pun segera menginjak pedal gas saat mendengar kemarahan tuannya. Padahal dia hanya ingin memberitahu pada Tuan Agam, kalau pria itu belum memakai pakaian dan hanya mengenakan handuk.
"A sakit..." Baby terus menangis sambil menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Agam menggenggam tangan istrinya dan berusaha menenangkan wanita itu.
"Tahan.. tahan.. kau pikir rasa sakit bisa ditahan." Sentak Baby sambil terus menangis. "Mommy, aku ingin bertemu mommy ku."
Agam yang mengerti dengan keinginan istrinya, hendak mengambil ponsel dari saku celana. "Oh my God!" Ia terkejut saat menyadari tidak mengenakan celana, dan lebih terkejut lagi saat melihat hanya handuk yang melilit di pinggangnya tanpa dalaman. "*Pa*ntas saja dari tadi terasa dingin." Agam merutuki kebodohan yang dilakukannya karena terlalu panik dengan keadaan Baby.
"A cepat telepon Mommy ku!" Baby mengulangi permintaannya saat melihat Agam hanya diam saja.
"Sayang ponselku tertinggal di mansion." Jawab Agam sembari menengok kebelakang mobil, dimana ada pakaiannya yang selalu tersedia di sana. Ingin rasanya Agam mengambil pakaian tersebut, namun niat itu diurungkannya karena Baby yang berada di pangkuannya tidak mungkin diturunkan. Agam pun memutuskan untuk mengambil dan mengenakan pakaiannya setelah sampai di rumah sakit.
__ADS_1
"Tapi aku ingin ditemani Mommy ku," Baby yang menangis semakin histeris hingga tanpa sadar mencakar tangan suaminya.
Agam yang merasakan sakit ditangannya hanya bisa meringis dalam hati. Dia pun berinisiatif meminjam ponsel pada supirnya untuk menghubungi ibu mertua, dan keluarga besar lainnya. Lama Agam menunggu panggilan tersebut diangkat, dan di dering ke lima akhirnya mom Luna mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, siapa ini?" tanya Luna saat tak mengenali nomer ponsel yang menghubunginya.
"Mom ini aku A."
"A?" Luna yang bingung menatap layar ponsel untuk memastikan apa benar yang menghubunginya itu Agam Mateo, tapi setelah dilihat itu bukan nomer menantunya. "Kau pakai nomer siapa?" tanya Luna.
"Mom, Baby...." ucap Agam tanpa menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
"Baby mau mengandung, eh maksudku Baby mau melahirkan." jawab Agam.
"Melahirkan? Tapi usia kandungan Baby baru tujuh bulan."
"Iya Mom, tapi twin sepertinya—"
"A...!" teriak Baby.
__ADS_1
Membuat Agam dengan spontan melempar ponsel milik supirnya, tanpa peduli sambungan itu masih terhubung.
"Kenapa sayang?" tanya Agam dengan cemas.
"Twin ingin keluar!" ucap Baby dengan suara tertahan, saat merasakan sebuah desakan yang kuat di perutnya.
"What? Ta-tapi kita belum sampai di rumah sakit," Agam yang cemas dan bingung hanya bisa memerintahkan supirnya untuk menambah kecepatan.
Akh.
Baby berteriak dengan kencang begitupun dengan Agam saat tangannya di gigit oleh wanita itu. Sungguh rasa sakit yang sangat luar bisa saat gigi Baby, menancap dengan sempurna di telapak tangannya.
Dan teriakan-teriakan itu terus terdengar di sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit, sampai membuat supir yang mengendarai mobil tersebut menggelengkan kepalanya. Karena merasa seperti sedang berada di sebuah film, dengan judul mengantar istri majikan yang akan melahirkan di dalam mobil.
"A aku sudah tidak kuat..." Baby menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"No sayang kau harus kuat!" Agam terus menyemangati Baby tanpa peduli rasa sakit di tangannya. "Twin jangan keluar dulu! Di sini tidak ada dokter," Agam mencoba bernegosiasi dengan kedua anaknya sambil mengusap perut Baby.
"Tidak bisa A, aku..." Baby mengejan saat sesuatu di perutnya kembali mengajak ingin keluar. "Hu..hu..." Baby menarik napas sambil mengejan kembali.
__ADS_1
Sementara Agam yang bingung dengan situasi yang dihadapinya saat ini, meminta supir untuk lebih cepat mengendari mobilnya. Karena Agam tidak mau twin sampai lahir di dalam mobil.