
Luna segera membuka layar ponselnya, lalu memperlihatkan foto-foto yang diambil pada saat akad nikah itu pada putrinya.
"Oh my God ini!" Baby tidak percaya saat melihat foto-foto tersebut, dan di detik berikutnya ia pun tidak sadarkan diri.
"Baby...."
Teriak semua orang yang ada di ruangan, tapi tidak dengan Agam. Pria itu justru menghela napasnya saat tebakan nomer dua lah yang terjadi, yaitu pingsannya seorang Baby Arbeto.
"Biar aku yang bawa ke dalam kamar." Agam mengambil alih Baby dari pelukan Mom Luna, dan membawanya ke dalam kamar.
Seluruh keluarga pun ikut masuk ke dalam kamar Agam karena mengkhawatirkan keadaan Baby.
"Bagaimana ini? Aku takut Baby kenapa-kenapa." Luna mengusap kepala putrinya.
"Mom tenang saja dia hanya pingsan." Sahut Agam. "Dan lebih baik kalian pulang, biar aku yang akan menjelaskan pada Baby saat dia sadar nanti."
Luna menatap suaminya dan dijawab anggukan kepala oleh Dafa, mereka pun pulang ke Mansion utama. Sementara itu Mini dan David memilih ikut pergi bersama keluarga Arbeto karena tidak ingin menganggu Agam dan Baby. Lagi pula mereka ingin menghabiskan waktu bersama Luna dan Dafa, sebelum mereka kembali ke negara tempat ketiga putri mereka kuliah.
__ADS_1
*
*
Emm...
Baby membuka kedua matanya dengan perlahan, menatap langit-langit ruangan yang terasa sangat familiar baginya.
"Kau sudah bangun?" Agam yang semula duduk di sofa berjalan mendekati Baby.
"Kak A..." Baby mengerjapkan kedua matanya, lalu langsung terduduk di atas ranjang setelah mengingat apa yang terjadi. "Dimana Mom? Dimana Dad? Dimana kak B dan kak Tita?" semua pertanyaan itu ia ucapkan saat melihat hanya ada dirinya dan Agam diruangan tersebut.
"Kalau begitu aku harus pulang." Baby hendak turun dari atas ranjang, namun ditahan oleh Agam yang membuat dirinya kembali duduk.
"Tempatmu saat ini di sini, di Mansion Mateo bersamaku. Jangan bilang kau lupa kalau kita sudah menikah." Selidik Agam.
"Tidak aku tidak mau, walaupun kita sudah menikah tapi aku tidak mau hidup bersamamu."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mau?" Agam menarik kedua bahu Baby hingga membuat mereka tak berjarak.
"Karena kita saudara sepupu, aku sudah menganggap mu seperti kakakku sendiri sama seperti kak B, jadi mana mungkin kita bisa hidup bersama sebagai suami istri."
Deg.
Agam terdiam, perkataan Baby mengingatkan dirinya pada saat ia menolak cinta gadis itu.
"Tapi kenyataannya kita sudah menikah, mau tidak mau kau harus tinggal bersamaku!" Ucap Agam dengan tegas.
"Kak A kau itu mengerti tidak? Kita ini saudara sepupu, dan lagi aku tidak bisa hidup bersama dengan manusia dingin seperti kulkas enam belas pintu." Ketus Baby dengan bibir yang mengerucut tajam.
"Kulkas enam belas pintu?" Agam menautkan kedua alisnya dengan wajah yang bingung.
"Ya." Baby menatap wajah Agam yang dari dulu sampai sekarang tetap datar tanpa ekspresi apapun. "Aku tidak bisa membayangkan kita tinggal bersama, dan tidur di ranjang yang sama. Oh my God, membayangkannya saja sudah membuatku—" Baby tidak melanjutkan perkataannya, ia lebih memilih mengekspresikannya dengan raut wajah yang bergidik ngeri dan geli.
"Tidak usah dibayangkan cukup dirasakan." Sahut Agam dengan dingin, menahan rasa emosinya saat melihat ekspresi wajah Baby yang terlihat takut dah geli saat membayangkan hubungan mereka.
__ADS_1
Padahal disini yang seharusnya menolak dan merasa geli adalah dirinya, karena sejujurnya Agam pun tidak bisa membayangkan hidup bersama Baby dan tidur di satu ranjang yang sama dengan gadis itu, apalagi saat membayangkan bagaimana malam pertama mereka, membuat bulu kuduk Agam merinding seketika.
"Tidak...!" teriak Agam dan Baby bersamaan saat membayangkan bagaimana kehidupan mereka kedepannya.