
Kediaman keluarga Bernade.
"Bagaimana bisa kalian tidak tahu info sepenting itu?" Cindy memarahi kedua orang yang berdiri dihadapannya, dua orang informan yang ia kerjakan untuk mencari info tentang Agam Mateo dan Baby Arbeto.
"Maaf Nona, tapi kami benar-benar tidak tahu," kedua orang tersebut menundukkan kepalanya.
Cindy mendengus kesal sembari memijit pelipisnya, ia tidak pernah menyangka pria yang sangat dicintainya itu ternyata sudah menikah dengan Baby Arbeto. Sungguh sangat miris bukan? Karena Agam Mateo lebih memilih menikah dengan sepupunya sendiri dari pada menikahinya.
"Tadi kami sudah memeriksa, dan ternyata benar Tuan Agam Mateo dan Nona Baby Arbeto sudah terdaftar sah secara negara sebagai pasangan suami-istri."
"Sial!" umpat Cindy dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Kami juga mendapat informasi, Tuan Agam Mateo dan seluruh keluarga besarnya malam ini akan berangkat ke Paris, mereka akan menghadiri acara pernikahan putri dari Tuan Richard."
"Bagus! Apa ada info yang lainnya?"
"Tidak ada Nona."
"Baiklah, kalian boleh pergi!" usir Cindy.
Setelah kedua anak buahnya pergi, Cindy yang marah dan kecewa mengetahui pria yang sangat dicintainya itu sudah menjadi milik wanita lain, meluapkan segala emosi dihatinya dengan menangis. Ia menangis menumpahkan seluruh beban di dalam hatinya, setelah selama ini berpura-pura tegar di depan semua orang terutama di depan kedua orangtuanya.
Mungkin jika wanita lain yang ada di posisinya pasti akan menjadi gila, atau mungkin bunuh diri disaat pria yang paling dicintainya pergi begitu saja tepat dihari pernikahan mereka. Tapi Cindy tidak melakukan hal tersebut dan berusaha untuk tetap tegar karena yakin bisa merebut kembali prianya. Tapi sekarang keyakinan itu menghilang seketika setelah mengetahui Agam Mateo sudah menikah dengan Baby Arbeto, dan itu artinya sudah tidak ada kesempatan baginya untuk mendapatkan pria itu.
__ADS_1
"Cindy sayang..." Nyonya Bernade yang baru masuk ke dalam ruangan, begitu terkejut saat melihat putri kesayangannya tengah menangis pilu. Dipeluknya Cindy dengan penuh kasih sayang sembari mengusap punggung rapuh itu dengan perlahan.
"Mom.. A, dia..." Cindy tidak bisa melanjutkan perkataannya, yang dilakukannya kini hanya menangis meski ia tahu dengan menangis tidak akan bisa menyelesaikan permasalah hatinya.
"Hentikan Cindy! Lupakan pria itu! Karena dia tidak baik untukmu," Nyonya Bernade yang mengetahui kenapa putrinya menangis dari dua orang informan yang tadi sempat berpapasan dengannya, memutuskan masuk ke ruang kerja untuk melihat kondisi putrinya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Cindy sedang menangis pilu. Hati seorang ibu mana yang tidak terluka melihat putri yang dibesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, menangis hanya karena pria yang tidak bertanggungjawab seperti Agam Mateo.
"Tapi Mom, aku mencintainya."
"Tapi dia sudah menikah dengan wanita lain," Bernade mengusap rambut putrinya. "Lupakan dia sayang," pintanya.
Cindy menggelengkan kepalanya dengan isak tangis yang semakin keras. "Aku tidak bisa melupakannya termasuk luka dihati ini," ia memegang dadanya.
__ADS_1
"Dengar sayang! Apa kau kira Mom dan Dad tidak sakit hati melihatmu dicampakkan seperti itu? Mom dan Dad bahkan memberanikan diri melawan keluarga Mateo, karena tidak terima putri kesayangan kami dipermalukan seperti itu. Meskipun taruhannya bisnis keluarga kita akan hancur karena Perusahaan Mateo akan mengambil seluruh saham mereka, dan membatalkan kerjasamanya tapi kami tidak perduli semua itu."