
Agam yang ditarik paksa keluar dari ruang rawat, hanya bisa diam mengikuti langkah Aunty Luna tanpa banyak tanya. Padahal ia penasaran apa yang membuat Aunty Luna terlihat cemas hingga ingin bertemu dengan dokter yang menangani Baby, karena sebelumnya Agam melihat keadaan gadis itu baik-baik saja, dan mereka tengah berbincang sambil berbisik hingga ia tidak tahu apa saja yang dibicarakan oleh ibu dan anak itu.
Setelah sampai di ruangan dokter Riyan, dokter khusus yang menangani putrinya. Luna pun langsung menceritakan apa yang terjadi pada Baby, dan bertanya bagaimana bisa putrinya melupakan ingatannya tentang mencintai pria pujaan hatinya itu.
Luna tidak peduli bertanya seperti itu walaupun Agam ada di sampingnya, karena ia yakin keponakannya yang berstatus sebagai suami putrinya tidak akan kecewa mendengar Baby melupakan semua ingatan yang berhubungan dengan perasaan cintanya. Karena Agam jelas-jelas tidak mencintai putrinya jadi tidak masalah bukan?
Tapi tanpa Luna sadari Agam terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan erat, saat mengetahui gadis yang selama ini mengejar-ngejar dirinya telah melupakan rasa cinta itu. Pantas saja Agam merasa pandangan mata Baby berubah, sudah tidak ada lagi sorot mata memuja pada gadis itu, dan sudah tidak ada lagi tatapan penuh cinta yang sering ia lihat di kedua manik tersebut.
"Jadi maksud Anda putriku itu melupakan semua ingatannya yang berhubungan dengan perasaan cintanya terhadap A, sebagai bentuk pertahanan diri dari alam bawah sadarnya?" tanya Luna setelah mendengar penjelasan dari dokter Ryan.
"Ya, gejala ini muncul ketika seseorang mengalami syok mental yang parah saat mengalami suatu kejadian. Hingga mereka memilih untuk menghapus bagian yang tidak ingin mereka ingat. Anda bisa melihatnya semacam mekanisme pertahanan diri." Jelas dokter Ryan panjang lebar.
__ADS_1
Brak.
Luna dan dokter Riyan terkejut saat Agam tiba-tiba saja menggebrak meja dengan sangat keras.
"A kau kenapa?" tanya Luna sembari mengusap dadanya, ia benar-benar terkejut melihat apa yang dilakukan Agam.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Agam dengan dingin dan raut wajah yang datar. "Bisa-bisanya dia ingin menghapus semua ingatannya yang berhubungan dengan rasa cintanya kepadaku, di saat aku sudah terjebak dalam pernikahan konyol ini." Gumam Agam tak terima.
"Yakin kau baik-baik saja?"
*
__ADS_1
*
"Di mana Mom?" tanya Baby saat melihat hanya Agam yang masuk ke dalam ruangannya.
"Aunty Luna ada di luar sedang berbicara dengan Mommy ku." Agam menatap intens Baby sembari berjalan mendekati gadis itu. Jika kemarinan ia menjaga jarak dengan Baby karena masih terkejut dengan semua yang terjadi, kini Agam mendekati gadis itu untuk mencari tahu apa benar dia lupa pada rasa cintanya. "Apa ini masih sakit?" Agam mengusap kepala Baby dengan lembut tanpa memutus kontak mata mereka.
"Sudah tidak," jawab Baby dengan kikuk karena ditatap dengan jarak yang begitu dekat. "Kak kau mau apa?" Baby mendorong dada bidang sepupunya yang terus mendekat kearahnya, hingga membuat Baby mundur kebelakang.
"Kenapa?" tanya Agam saat mendapatkan penolakan dari Baby, penolakan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini.
"Ih geli tahu." Baby bergidik saat wajahnya tadi sempat sangat dekat dengan wajah Agam, bahkan hidung mereka bersentuhan.
__ADS_1
"Geli? Bagaimana dengan ini?" Agam menarik tengkuk Baby lalu mencium bibir gadis itu, sebuah ciuman yang hanya sesaat karena Baby mendorong tubuhnya dengan kasar. Dan di detik berikutnya ia harus menutup telinganya saat mendengar teriak gadis itu.
"Mommy...."