Love You A

Love You A
Part 77


__ADS_3

Agam membaringkan tubuh mungil Baby dengan perlahan, menghimpitnya dan mengunci pergerakan gadis yang kini ada dibawah tubuhnya.


"Kak jangan!" Baby menahan dada bidang Agam, saat pria yang tengah menindih tubuhnya itu hendak mencium bibirnya, ia tidak ingin Agam kembali menciumnya dan akan berujung kejadian seperti tadi siang.


"Kenapa?" tanya Agam dengan suara seraknya, menahan gairah yang mulai naik hingga keatas ubun-ubun.


"Aku takut, kau tidak lihat tangan ku sudah gemetar seperti ini." Baby memperlihatkan kedua tangannya.


"Takut?" Agam menautkan kedua alisnya. "Tadi siang kau tidak takut sedikitpun, kenapa sekarang kau bilang takut?"


"Tadi siang aku juga takut, kau saja yang memaksa jadi aku—" perkataannya tenggelam saat lagi-lagi Agam mencium bibirnya tanpa permisi, membuat Baby harus menahan napasnya saat bukan hanya ciuman yang ia terima, namun juga sentuhan-sentuhan kecil saat tangan Agam dengan lihainya masuk ke dalam pakaian yang dikenakannya.


Menyingkap pakaian tersebut keatas hingga dengan bebas tangan pria itu menyentuh tubuhnya, membuat kulitnya terasa terbakar saat sentuhan itu kini bermain tepat di ke-dua miliknya yang masih tertutup oleh penghalang.

__ADS_1


"Aku ingin meminta hak ku." Bisik Agam setelah melepaskan tautan bibir mereka, seraya menatap wajah cantik yang ada dibawah kuasa nya.


"Jangan kak!" Baby mencoba untuk terbebas dari himpitan Agam dengan mendorong dada bidang suaminya. "Kau tidak mencintai aku dan kita menikah karena terpaksa, bukankah aku ini sudah kau anggap adik? Dan di dunia ini mana ada seorang kakak meniduri adiknya sendiri." Baby tertawa sinis seraya hendak menurunkan kembali pakaiannya.


"Tapi aku juga suamimu, kau lupa?" Agam menatap Baby dengan intens, sambil menahan tangan gadis itu.


"Iya, tapi kak—"


Agam kembali membungkam bibir Baby, memancing gairah gadis itu agar tidak lagi menolak dirinya. Dan dengan perlahan namun pasti ciuman itu turun, hingga membuat Baby melenguh saat ia mengigit dan meninggalkan jejak di leher jenjang milik gadis itu. Tak mau berhenti sampai di situ, ciumannya semakin turun dan berhenti tepat di tempat yang biasa para pria sukai. Tangannya tidak tinggal diam, bermain di keduanya hingga membuat Baby mendesah tak karuan, membuat gairah Agam semakin tak tertahankan dan dengan cepat menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakannya hingga tanpa sisa.


"Kak sudah cukup! Aku benar-benar takut." Ucap Baby dengan memohon.


"Jangan takut!" Bisik Agam yang sudah bersiap untuk memulai percintaan mereka.

__ADS_1


"Tunggu.. tunggu!" Baby menahan tubuh Agam.


"Apa lagi?" geram Agam dengan frustasi.


"Kak aku ini masih delapan belas tahun, jadi kita tunda dulu. Nanti setelah kakak mencintai aku baru kita—"


"Aku ingin sekarang, titik!" Agam kembali memposisikan miliknya.


"Tapi kak, aku benar-benar takut karena kata orang saat melakukan itu sangat sakit. Dan aku takut sakit." Baby berusaha menahan Agam untuk tidak melakukannya.


"Berhenti berbicara! Kau membuat konsentrasi ku hilang." Agam berkata dengan gusar karena kini moodnya perlahan layu.


"Tapi kak, ah... " teriak Baby dan Agam bersamaan.

__ADS_1


Jika Baby berteriak karena merasakan sakit yang luar biasa di bagian intinya, sedangkan Agam berteriak kesakitan karena punggungnya menjadi korban dari keganasan kuku panjang Baby.


__ADS_2