
Setelah urusan bisnis antara suaminya dengan Cindy selesai, Baby kembali ketempat di mana Agam dan wanita itu berada. "Cindy tunggu! Bisa kita bicara empat mata," pinta nya saat melihat wanita itu hendak pergi.
Membuat Cindy menghentikan langkahnya, dan secara bersamaan Cindy dan Agam menatap pada Baby.
"Sebentar saja," Baby kembali meminta saat tidak mendengar jawaban dari wanita yang dulu berstatus sebagai calon istri Agam Mateo.
Cindy menganggukkan kepalanya menyetujuinya keinginan Baby, walaupun sebenarnya ia sangat malas berbicara dengan wanita yang sudah merampas kebahagiaannya.
"Terima kasih," Baby pun duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Agam, lalu meminta suaminya itu untuk meninggalkan dirinya dan Cindy untuk berbicara empat mata.
Meskipun Agam sedikit keberatan untuk meninggalkan kedua wanita itu, karena takut terjadi sesuatu diantara Cindy dan Baby mengingat sifat Baby yang keras kepala dan tidak mau mengalah pada orang lain. Tapi mau tidak mau ia pun meninggalkan keduanya, lalu berjalan menuju meja yang ada dibelakang. Agar ia bisa mendengar pembicaraan Baby dengan Cindy, sekaligus berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada keduanya.
"Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Baby?" gumam Agam dalam hati sembari menatap pada wanitanya.
"Tuan, menurut Anda siapa yang akan menang jika keduanya berdebat?" tanya Jonathan yang berdiri di samping Agam Mateo.
__ADS_1
"Menurutmu?" Agam balik bertanya meski di dalam hatinya ia sudah tahu Baby lah pemenangnya.
"Tentu saja Nyonya yang menang, mengingat istri Anda begitu cerewet dan jika sudah berbicara tidak bisa berhenti sekaligus mengerikan jika sedang marah." Ucap Jonathan dengan jujur.
"Kau bilang apa?" Agam mendelik tajam pada asisten pribadinya.
"Eh," Jonathan yang tersadar sudah keceplosan berbicara langsung memutar otaknya. "Maksud aku Nyonya pasti menang, karena keturunan sejati dari seorang Arbeto yang tidak pernah kalah dan mengalah pada siapapun." Ralat Jonathan sembari menelan salivanya dengan susah payah saat mendapatkan tatapan tajam dari tuannya.
Agam menggelengkan kepalanya lalu menatap kembali pada Baby dan Cindy yang sudah mulai berbicara.
"Em.. aku.. aku," Baby bingung harus memulai kata maaf dari mana, karena ia tidak pernah meminta maaf pada siapapun terkecuali pada orang-orang terdekatnya atau sedang reflek setelah melakukan kesalahan.
"Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, aku pergi. Karena banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan." Cindy hendak berdiri dari tempat duduknya.
"Aku minta maaf."
__ADS_1
Deg
Baik Agam dan Cindy termasuk Jonathan begitu terkejut dan tidak pernah menyangka seorang Baby Arbeto meminta maaf pada orang lain.
"Aku minta maaf, karena secara tidak langsung sudah membuat pernikahan kalian gagal. Aku—"
"Kau bukan hanya membuat pernikahan aku gagal, tapi kau juga sudah menghancurkan kebahagiaan aku Baby Arbeto! Kau sudah merebut pria yang paling aku cintai, cinta pertamaku, sekaligus membuat seluruh keluargaku harus menanggung malu karena putri mereka gagal menikah di hari pernikahannya," potong Cindy dengan ketus dan tajam.
"Maaf..." Baby menundukkan kepalanya.
Sementara Agam yang mendengar wanitanya dua kali meminta maaf dan disalahkan oleh Cindy tentu saja tidak terima, karena yang seharusnya disalahkan atas kejadian ini adalah dirinya bukan Baby. Di sini dia lah yang bersalah karena tidak berani mengakui perasaan cintanya sejak awal, yang berakibat fatal dengan sakit hatinya kedua wanita tersebut.
"Hahaha..." Cindy tertawa terbahak-bahak.
Membuat Agam yang hendak menghampiri Baby mengurungkan niatnya, sementara Baby yang mendengar Cindy tertawa langsung menatap wanita yang duduk dihadapannya itu dengan bingung. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Cindy tertawa sedangkan tadi wanita itu marah-marah dan menyalahkan dirinya dengan apa yang terjadi.
__ADS_1