Love You A

Love You A
Part 86


__ADS_3

Setelah sampai di kediaman Mateo, Agam menarik tangan Baby untuk masuk ke dalam mansion. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan hukuman pada wanita itu yang sudah berani melupakan apa yang pernah dikatakannya, bahwa seluruh yang ada di dalam diri Baby adalah miliknya dan yang boleh menyentuhnya hanya ia seorang.


"A jalannya pelan-pelan!" Baby hampir terjatuh karena tidak bisa mengimbangi langkah kaki Agam yang berjalan dengan cepat.


Namun Agam tidak mempedulikan perkataan Baby, ia terus berjalan memasuki mansion tersebut dengan langkah kaki penuh semangat. Tapi langkahnya langsung terhenti dan semangatnya menghilang saat melihat dua orang yang sangat dikenalnya tengah duduk di atas sofa, mereka tidak lain dan tidak bukan adalah ke-dua orang tuanya.


"Kenapa mereka datang di waktu yang tidak tepat," gumam Agam dalam hati sembari menghela napasnya dengan kasar.


Sementara itu Baby yang berjalan di belakang, langsung menabrak punggung suaminya saat pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti? Sakit tahu?" Baby mengusap keningnya lalu berjalan ke sisi Agam, dan betapa terkejutnya ia saat melihat kedua sosok yang saat ini tengah tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Uncle David.. Aunty Mini..." rasa terkejutnya gini berganti dengan rasa bahagia saat melihat kedua orang tua yang berstatus sebagai mertuanya ada di mansion tersebut, karena itu artinya Agam tidak akan berani berbuat macam-macam kepadanya.


"Sayang kenapa masih memanggil Aunty? Panggil aku Mom," Mini berdiri dari duduknya seraya merentangkan kedua tangannya.


Baby yang mengerti keinginan Mom Mini yang minta untuk dipeluk, langsung berjalan hendak menghampiri ibu mertuanya itu. Namun baru saja dua langkah kakinya berjalan, ia merasakan tubuhnya seperti melayang di udara saat Agam kembali menggendongnya.


"A..." pekik Mini dengan terkejut saat melihat putranya menggendong Baby dengan sangat kasar dan sedikit memaksa.


"Tapi A..." belum sempat Mini mengejar putranya, tangannya lebih dulu ditarik oleh suaminya.


"Jangan ganggu mereka!" ujar David dengan santai.

__ADS_1


"Tapi mereka, —"


"Mereka sedang membuat cucu untuk kita, jadi lebih baik kita pergi dari sini." David berjalan lebih dulu menuju pintu keluar, meninggalkan Mini yang tampak masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Sayang tunggu aku!" teriak Mini saat menyadari David sudah meninggalkannya seorang diri di ruangan tersebut, ia pun segera menyusul suaminya meski ada sedikit rasa tidak rela.


Bukan tidak rela karena putranya sedang membuatkannya seorang cucu, tapi karena ia harus menunda sesuatu yang ingin dikatakannya mengenai keinginan putri kedua mereka yang ingin tinggal di Jakarta. Mini ingin meminta pendapat Agam terutama meminta putranya untuk menjaga adiknya itu, karena ia tidak bisa meninggalkan kedua putrinya yang lain, kedua putrinya yang sangat manja dan tidak bisa diatur.


*


*

__ADS_1


Sementara itu di tempat yang lainnya, Agam berjalan memasuki ruang kamarnya lalu menurunkan Baby dengan perlahan di atas tempat tidur. Kemudian ia berjalan menuju nakas yang ada di samping ranjang untuk mengambil sesuatu yang selama ini disimpannya. Sesuatu yang sejak dulu ingin ia berikan pada Baby, namun selalu ditunda hanya karena perasaan ego yang ada dihatinya yang berkata jangan dan memilih untuk menyimpan benda tersebut. Tapi saat ini sudah tidak ada alasan bagi dirinya untuk terus menyimpan benda tersebut, karena pemilik barang itu kini sudah menjadi istrinya.


__ADS_2