
Setelah sempat diomeli oleh Mom Luna yang terkenal cerewet, dan suka seenaknya berbicara. Agam memilih keluar dari ruang rawat Baby, untuk melihat twin yang dirawat di ruang NICU.
Dengan di temani oleh perawat, Agam masuk ke ruangan NICU untuk melihat secara langsung kedua bayi kembarnya yang lahir dengan keadaan prematur. Di tatapnya tubuh mungil twin yang berada di inkubator, dengan hati yang bahagia bercampur rasa haru. Matanya tak kuasa untuk berkaca-kaca saat melihat twin yang lahir dengan selamat, terutama saat melihat bayi laki-lakinya yang sudah membuat Agam lemas tak berdaya bahkan sampai pingsan.
"Hei Baby Boy," sapa Agam dengan tersenyum, lalu matanya menatap pada putrinya. "Hai Baby girl." Agam berkata dengan kening yang berkerut saat menyadari sesuatu. "Kenapa ke dua nya tidak ada satu pun yang mirip denganku atau Baby?" tanya Agam pada dirinya sendiri.
Dan perawat yang berada di sebelahnya, hanya bisa tersenyum. "Mereka masih sangat kecil Tuan, jadi wajah mereka belum terlihat mirip ayah atau ibu nya."
Agam menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu bertanya pada perawat tersebut keadaan twin. Dan syukurlah keadaan keduanya baik meskipun berat badan bayi kembarnya sangat rendah. Oleh karena itu twin harus di rawat intensif selama beberapa hari kedepan, atau bisa jadi selama beberapa Minggu tergantung dengan kondisi twin itu sendiri.
"Sus, tolong jaga mereka!" pinta Agam setelah mendengar semua penjelasan dari perawat tersebut mengenai kondisi bayi kembarnya.
__ADS_1
"Baik Tuan," perawat itu mempersilahkan tuan Agam untuk keluar, karena tidak boleh berlama-lama di ruangan NICU yang harus tetap steril.
"Bagaimana twin?" tanya Baby setelah melihat Agam kembali ke ruangannya.
"Mereka baik sayang, kau jangan khawatir!" Agam tidak menceritakan yang sesungguhnya kalau kedua bayi mereka ada di ruang NICU, dan harus di rawat intensif karena berat badannya yang rendah. Karena Dad Dafa sebelumnya sudah memberitahu untuk tidak mengatakan keadaan twin pada Baby.
"Aku ingin melihat twin, bawa mereka A," pinta Baby. Karena ingin memastikan keadaan bayi kembarnya yang terlahir dengan tubuh yang sangat kecil. Membuat Baby merasa khawatir apalagi dokter yang diminta untuk membawa twin ke ruangannya belum juga datang.
"Tapi Mom, aku—"
"Baby...!" Luna berkata dengan tegas namun dengan tatapan penuh kasih.
__ADS_1
Hingga membuat Baby terdiam dan mau tidak mau mengikuti apa yang dikatakan Mom Luna.
"A jaga Baby! Kami ingin melihat keadaan twin!" Ucap Luna setelah melihat putrinya tertidur.
Agam menganggukkan kepalanya.
"Ingat, di jaga!" Dafa yang sejak tadi diam di ruangan tersebut, ikut berkata dengan penuh penekanan. Dia masih kesal pada Agam yang dinilainya tidak bisa menjaga Baby, hingga harus melahirkan di usia kandungan yang baru tujuh bulan.
Agam kembali menganggukkan kepalanya, tanpa berniat sedikitpun untuk menyahuti perkataan Dad Dafa dan Mom Luna. Karena ia tahu kedua mertuanya masih marah kepadanya yang dianggap tidak becus menjaga putri mereka. Putri kesayangan dan putri satu-satunya keturunan keluarga Arbeto.
"Sayang kau harus cepat pulih, dan kau harus kuat! Kita bersama-sama menjaga Twin." Ucap Agam sembari mengusap kepala Baby dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1