
Beberapa menit setelah keduanya kompak berteriak histeris, kini Baby dan Agam duduk saling berjauhan di mana Agam duduk di atas sofa sedangkan Baby duduk di atas ranjang. Ke-dua nya sesekali mencuri pandang lalu saling memalingkan wajah di saat kedua mata mereka saling bertubrukan.
"Aku..." ucap Baby dan Agam bersamaan seraya menelan salivanya.
"Kau lebih dulu!" ucap Agam pada akhirnya setelah mereka kembali diam selama lima menit.
"Em.. aku ingin pulang." Lirih Baby seraya meremas kedua tangannya.
"Pulang kemana? Bukankah sudah aku katakan tempat tinggalmu di sini bersamaku!"
"Tapi kak aku—"
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kau istirahat! Aku ingin..." Agam sampai bingung ingin melakukan apa di dalam kamarnya sendiri. "Aku ingin membersihkan diri." Ia pun bergegas menuju bathroom, namun baru tiga langkah kakinya berjalan Agam menengok kebelakang. "Mau apa kau?" tanya Agam saat melihat Baby berjalan menuju pintu kamar.
__ADS_1
"Eh, aku.. aku..." Baby tersenyum kaku seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Baby bodoh, seharusnya kau itu kabur setelah Agam masuk ke dalam bathroom." Sesalnya dalam hati.
"Aku tanya kau mau apa?" Agam mengulangi pertanyaannya dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku hanya ingin mengambil minum." Bohong Baby lalu hendak berjalan kembali.
"Apa kau tidak lihat di pojok sana!" Agam menunjuk jari nya kearah sudut ruangan.
Baby menatap arah yang di tunjuk Agam, dan tanpa sadar menepuk keningnya sendiri saat melihat sebuah lemari pendingin yang pastinya terdapat banyak minuman di dalamnya.
"Dengan begini kau tidak bisa lari." Agam mengunci pintu kamarnya.
"Sial!" umpat Baby dalam hati sembari melayangkan sebuah tinjuan, tepat setelah melihat Agam masuk kedalam bathroom. "Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku melarikan diri?" Baby berjalan mondar-mandir di ruangan tersebut dengan wajah yang panik, panik karena memikirkan apa yang akan terjadi diantara dirinya dengan Agam di dalam kamar tersebut. "Tidak, aku tidak bisa."
__ADS_1
Baby berjalan menuju balkon lalu melihat kebawah, lumayan juga jika dirinya harus melarikan diri dengan melompat ke sana, karena saat ini dirinya berada di lantai dua.
"Come on Baby dulu kau sering melarikan diri saat di mansion utama, dan ini tidak ada apa-apanya." Gumamnya pada diri sendiri, dan setelah membulatkan tekadnya ia pun mulai menjalankan rencananya untuk kabur dengan cara turun dari atas balkon.
*
*
Lima belas menit kemudian, Agam yang sudah selesai membersihkan diri keluar dari dalam bathroom. Ia berjalan menuju walk in closet dengan handuk dibawah pinggang yang menutupi tubuh bagian bawahnya, dan saat ia hendak mengambil pakaian ganti, Agam merasa ada sesuatu yang hilang tapi ia sendiri tidak tahu apa.
Agam memandang seluruh isi kamarnya dengan kening yang berkerut mencari sesuatu yang hilang itu, ia pun berjalan menuju tempat tidur dan memeriksa kembali seluruh ruangannya.
"Ah, mungkin hanya perasaan aku saja." Agam kembali berjalan menuju walk in closet. Namun saat ia hendak melepas handuknya Agam pun teringat sesuatu. "Baby..." pekiknya dan segera mencari keberadaan gadis itu. "Sial!" Agam mengumpat dari atas balkon, saat menyadari Baby pasti melarikan diri dengan cara turun kebawah. "Baby Arbeto...." Agam berteriak dengan wajah yang kesal, karena belum ada satu jam gadis itu di mansionnya tapi sudah hilang dengan cara melarikan diri.
__ADS_1
Sementara itu Baby yang sudah ada di dalam taksi, tengah tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil melarikan diri dari mansion Mateo, dengan turun dari atas balkon dan mengelabui penjaga gerbang.