
"Bagaimana rasanya bercinta dengan adikku?" tanya Boy masih dengan tawa dibibirnya, ia tidak bisa membayangkan percintaan seperti apa yang sudah dilakukan oleh adik dan sepupunya itu. Tapi yang jelas pasti rasanya sangat aneh bercinta dengan wanita yang kita tahu betul kecilnya seperti apa, terlebih lagi sudah dianggap seperti adik sendiri.
"Rasanya tanggung."
"Tanggung? Jawaban apa itu? Mana ada rasa tanggung." Boy kembali tertawa.
"Tanggung karena baru aku celup kau sudah menganggu."
"What? Jadi kalian tadi,..." Boy tidak melanjutkan perkataannya, karena suaranya kini berganti dengan suara tawa yang begitu kencang. Bahkan suara tawa itu menggelegar ke seluruh ruangan sampai membuat beberapa pengawal yang bertugas menjaga di dalam mansion datang berhamburan. Dan setelah puas tertawa, Boy menyuruh para pengawal tersebut untuk kembali ke tempat mereka setelah menjelaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Bisa-bisanya kau tertawa! Di saat kepalaku rasanya ingin meledak karena perbuatan mu." Agam berkata dengan tajam lalu beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke kamar, dan kali ini ia sangat yakin Boy Arbeto tidak akan menghalanginya, karena pria itu tengah asik tertawa tanpa peduli dengan kepergiannya.
Setelah puas tertawa, Boy menatap ke sekeliling ruangan saat tersadar dirinya seorang diri di ruangan tersebut. "Dimana A?" gumamnya lalu beranjak dari atas sofa menuju kamar tidurnya, ia memutuskan untuk membujuk Tita dari pada tidur seorang diri di kamar lainnya.
__ADS_1
Sementara itu Agam yang sudah masuk ke dalam kamar dengan harapan ingin melanjutkan percintaan mereka, kini hanya bisa menghela napasnya dengan berat saat melihat istrinya sudah tertidur dengan nyenyak. Di dekatinya wajah cantik Baby lalu mengecup keningnya dengan perlahan agar tidak menganggu tidur wanitanya.
"Pasti tadi sakit," gumamnya sembari mengusap mata Baby yang terlihat sebab. Usapan itu perlahan turun ke bibir lalu dengan senyum penuh arti Agam mencium sekilas bibir yang terlihat bengkak akibat perbuatannya. "Akhirnya kau kembali." Bisik Agam lalu menatap sekelilingnya dimana sprei yang tadi dikenakan sudah berganti dengan yang baru. Agam yakin sebelum tidur Baby pasti menganti seprei itu terlebih dahulu mengingat ada bercak darah di seprei yang lama.
Setelah puas memandangi wajah Baby ia pun melepas kaosnya, lalu berbaring di samping istrinya setelah sebelumnya menarik tubuh mungil tersebut ke dalam dekapannya. Menghirup dalam aroma rosemary dari rambut Baby, wangi yang akan menjadi candu bagi Agam setelah merasakan semua yang dimiliki oleh wanitanya itu.
*
*
Dan jika mengingat kejadian malam itu membuat pipi nya terasa panas, dan jantungnya berdetak dengan kencang. Bukan hanya karena malam itu dirinya menjadi seorang wanita seutuhnya, tapi di malam itu dengan jelas Baby mendengar Agam mengatakan cinta kepadanya.
Sebuah kata ajaib yang sudah lama ditunggu-tunggu olehnya akhirnya bisa ia dengar, setelah perjuangan yang begitu berat untuk mendapatkan cinta sepupunya itu hingga sampai kecelakaan dan koma.
__ADS_1
"Sudah puas melihat wajahku?"
"Eh," Baby yang terkejut saat menyadari Agam sudah terbangun reflek hendak melepaskan diri dari dekapan suaminya itu.
"Mau kemana, hem?" Agam mengeratkan pelukannya.
"Aku.. aku ingin ke toilet." Baby hendak berdiri namun ia tidak menyangka miliknya masih terasa sakit hingga kembali terjerembab dalam dekapan Agam.
"Kenapa?" tanya Agam dengan khawatir.
"Itu.. anu.. sakit." Baby menundukkan kepalanya.
"Sakit? Apa yang sakit?"
__ADS_1
Baby diam sembari menatap kebawah, dan Agam yang awalnya tidak mengerti kini tersenyum saat menyadari kemana arah tatapan mata istrinya.