
Baby yang merasakan sakit di bagian intinya dengan refleks mendorong tubuh Agam, dan entah kekuatan dari mana ia bisa membuat pria itu terjatuh. Dan setelahnya Baby segera mundur dan terduduk dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.
"Sakit kak." Ucap Baby dengan isak tangis dibibirnya, menatap miliknya yang terasa perih saat sesuatu yang keras memaksa untuk masuk.
"Kau pikir aku tidak sakit?" Agam berdiri lalu duduk di atas ranjang, mengusap punggungnya yang terasa perih seraya menatap juniornya yang masih menegang. Ia tak menyangka ternyata susah juga untuk membobol seorang gadis, karena baru saja pucuknya masuk Baby sudah menjerit kesakitan hingga melukai punggungnya. "Kita coba lagi, aku janji akan perlahan."
"Tidak mau." Baby menghindar saat Agam mendekat.
"Tanggung Baby." Agam mengusap air mata di pipi gadisnya lalu mengecup kedua mata itu dengan lembut. "Aku janji akan melakukannya dengan perlahan."
"Aku tidak mau kak, lagi pula kenapa kau bersikeras ingin melakukannya? Kenapa kak?" tanya Baby yang tidak mengerti kenapa Agam ingin sekali menyentuhnya, padahal ia ingat betul pria itu tidak mencintainya dan selalu menganggapnya sebagai adik sendiri.
"Karena aku mencintaimu dan ingin memiliki mu seutuhnya," ucap Agam dengan menatap intens wajah gadis yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Mencintaiku?" Baby tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Tapi bagaimana bisa? Kita baru menikah bahkan belum ada satu Minggu, jadi bagaimana bisa kau mencintai aku?"
Agam diam tidak menjawab pertanyaan Baby, dengan perlahan namun pasti ia membawa gadis itu kedalam pelukannya. "I love you Baby Arbeto." Bisik nya lalu mengecup bibir yang sudah menjadi candunya, membaringkan tubuh Baby dan memulai kembali yang tadi sempat tertunda.
Ah.
Baby berteriak untuk yang kedua kalinya, namun kali ini lebih keras karena sakit yang dirasakannya pun dua kali lipat.
"Keluarkan! Cepat keluarkan! Sakit sekali." Teriak Baby berusaha untuk mendorong kembali tubuh Agam, bahkan tangannya kini menjambak rambut pria yang ada diatas tubuhnya itu.
Ah.
Teriak Baby untuk yang ketiga kalinya, namun teriakan itu langsung menghilang saat bibirnya dibungkam oleh bibir tebal milik Agam. Lama mereka saling berciuman hingga keduanya terdiam dengan mata yang menatap satu dan lainnya saat tautan bibir mereka terlepas.
__ADS_1
"Kau milikku seutuhnya." Ucap Agam dengan senyum penuh rasa bangga, karena kini gadis yang sudah tidak lagi gadis itu sudah berhasil ia miliki, meski dengan perjuangan yang cukup panjang dan rasa sakit di tubuhnya karena punggung yang dicakar, bokongnya yang sakit saat terjatuh di lantai, dan rambutnya yang terasa rontok saat dijambak.
"Kak sakit." Lirih Baby hingga kembali menangis saat miliknya terasa dibelah dan dirobek oleh benda tajam.
"Sekarang tidak akan sakit lagi."
Baru saja Agam ingin bergerak, namun tiba-tiba saja pintu kamar diketuk dari luar, membuat keduanya saling menatap lalu melihat kearah pintu.
"Baby buka pintunya!" Boy kembali mengetuk pintu kamar adiknya.
"Kak, itu kak B."
"Sudah biarkan saja." Agam kembali ingin bergerak.
__ADS_1
"Kak buka dulu pintunya! Sepertinya penting."
"****!" umpat Agam saat mendengar suara Boy Arbeto yang semakin keras memanggil namanya dan juga nama Baby. Dan dengan terpaksa Agam pun menyudahi percintaan mereka yang baru saja mencelup, dan belum sempat untuk bergerak. Karena miliknya sudah lebih dulu layu setelah konsentrasinya buyar saat mendengar teriakan Boy Arbeto.