Love You A

Love You A
Part 45


__ADS_3

Merasa namanya dipanggil, Baby langsung menatap kebelakang lalu tersenyum saat melihat Agam berlari kearahnya.


"Hei kau baik-baik saja?" Agam menatap intens gadis yang ada dihadapannya, ia begitu bahagia saat melihat sosok yang sejak tadi membuatnya cemas ternyata dalam keadaan baik-baik saja tidak terluka sedikitpun.


Baby sendiri hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan langsung menghindar saat Agam ingin memeluknya.


"Aku begitu khawatir padamu." Agam ingin mendekati Baby namun gadis itu seperti menjaga jarak dengannya.


"A aku baik-baik saja dan merasa sangat bahagia, karena kau ada disini mencariku. Dan itu artinya aku mempunyai tempat yang istimewa di hatimu." Baby tersenyum sembari menatap intens wajah pria yang sangat ia cintai.


"Ck, tentu saja kau istimewa karena kau adalah adik dari Boy Arbeto dan adik sepupuku."


Senyum dibibir Baby langsung menghilang berganti dengan raut kesedihan."Sampai akhir pun kau selalu menganggap aku sepupumu."


"Baby bukan begitu, aku—" Agam menghentikan ucapannya saat mendengar suara ponselnya berdering, dan langsung mengangkat panggilan tersebut saat melihat nama Mars tertera di layar ponselnya.


"Kau dimana?" tanya Mars saat sambungan ponselnya terhubung.


"Aku di—" Agam menengok ke kanan dan ke kiri lalu ke belakang, mencari tahu saat ini dirinya ada di lorong mana. Ia pun berjalan mencari seseorang yang lewat untuk bertanya, namun tidak ada satu orang pun di lorong itu kecuali dirinya dan juga Baby.


"Sudahlah cepat kau kemari! Kami ada di ruang ICU."

__ADS_1


"Ruang ICU memangnya siapa yang di rawat?" tanya Agam dengan bingung.


"Kau masih saja bertanya, tentu saja Baby." Ucap Mars dengan kesal.


"Baby? Tapi dia—" Agam menengok kebelakang namun tidak ada siapapun di sana. "Baby kau dimana?" Agam berjalan mencari keberadaan gadis yang baru saja ia ajak bicara.


"Kenapa kau mencari Baby? Bukankah sudah aku katakan dia ada di ruang ICU, jadi cepat kau kemari! Karena sebelum Baby tidak sadarkan diri dia terus memanggil namamu."


Deg.


"Tidak ini tidak mungkin, Baby baik-baik saja. Aku baru saja berbicara dengannya." Tangan Agam bergetar sambil terus berjalan mencari keberadaan Baby.


"A kau itu gila, mana mungkin kau berbicara dengan Baby? Karena saat ini Baby ada di ruang ICU, mobilnya menabrak pembatas jalan saat dia ingin menghindari...."


"Baby kau jangan bercanda, cepat keluar!" dengan putus asa Agam berlari mencari keberadaan gadis itu, dan tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan di detik berikutnya pandangan matanya berubah menjadi gelap.


*


*


"Bagaimana keadaannya?" tanya Mars pada dokter yang memeriksa Agam.

__ADS_1


"Tuan Agam baik-baik saja, dan sebentar lagi dia akan sadar." Jawab dokter.


"Syukurlah." Mars kini bisa bernapas dengan lega, karena sejak tadi ia khawatir dengan keadaan sepupunya itu yang ia temukan di lorong ruangan dekat dengan kamar mayat yang jarang dilewati oleh orang. Untung saja ia dapat melacak keberadaan Agam melalui ponsel sepupunya itu.


"A are you okay?" tanya Mars saat melihat sepupunya mulai sadarkan diri.


Agam yang ditanya hanya diam saja sembari menatap keseluruhan ruangan. "Baby! Mars dimana Baby?" tanya Agam saat teringat keberadaan gadis itu.


"Baby ada di ruang ICU, dan sampai sekarang belum sadarkan diri."


"Tidak, itu tidak mungkin. Baby baik-baik saja bahkan aku sempat berbicara dengannya."


"A kau itu sudah sadar belum? Atau masih berhalusinasi?" Mars menatap dokter yang ada di sampingnya.


"Ck, aku harus mencari Baby." Agam turun dari ranjang dengan tergesa-gesa, lalu keluar dari ruangan dengan wajah yang bingung.


"Kalau kau ingin bertemu Baby, ikut aku!"


Dengan diam dan tanpa banyak bicara ia berjalan mengikuti Mars dari belakang, dan saat mereka berhenti di sebuah ruangan ia bisa melihat Mom Luna, Dad Dafa, Boy, dan juga Tita sedang duduk dengan raut wajah penuh dengan kesedihan.


"Masuklah!" Mars membuka pintu ruangan.

__ADS_1


Agam pun berjalan masuk hingga langkah kakinya terhenti dan wajahnya seketika itu juga memucat, saat melihat sosok yang tadi terlihat baik-baik saja, kini terbaring lemah dengan kedua mata tertutup dengan alat bantu pernapasan di kedua lubang hidung gadis itu.


"Baby..."


__ADS_2