
Setelah sampai di perusahaan miliknya, Agam langsung masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi kerjanya, tanpa memperdulikan Baby yang terlihat bingung hingga gadis itu hanya berdiri seraya menatap kesekelilingnya.
"Kenapa aku diajak kemari?" tanya Baby pada pria yang berstatus sebagai sepupu sekaligus suaminya.
"Tentu saja untuk bekerja, karena mulai detik ini kau kembali diterima kerja di tempatku." Jawab Agam dengan datar tanpa menatap gadis itu, karena fokusnya kini menatap pada berkas yang ada di tangannya.
"What? Aku tidak salah dengarkan? Kembali kerja di tempatmu? Memangnya aku pernah bekerja denganmu?" rentetan pertanyaan keluar dari bibirnya karena begitu terkejut dengan perkataan Agam.
"Em... " Agam hanya menjawab singkat seraya menadatangani berkas yang sudah diperiksanya.
"Tapi kak, aku—"
Perkataan Baby terhenti saat mendengar pintu ruangan diketuk dari luar.
"Masuk! Ucap Agam saat mendengar suara Jonathan yang meminta ijin masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan ini berkas kerjasama yang diajukan oleh perusahaan milik Bernade." Jonathan memberikan berkas yang ada di tangannya. "Apa Anda yakin ingin bekerjasama dengan perusahaan Bernade? Bukankah Tuan besar sudah menarik semua saham yang ada di perusahaan tersebut dan memutuskan kerjasama mereka?"
Agam hanya diam saja membaca berkas kerjasama yang diajukan oleh perusahaan Bernade, lebih tepatnya yang diajukan oleh Cindy Bernade.
__ADS_1
"Kapan pertemuannya?"
"Lusa Tuan."
Agam menganggukkan kepala seraya menutup berkas yang ada di tangannya, lalu memberikan kembali berkas tersebut pada Jonathan. Ia sudah memutuskan untuk menerima kerja sama tersebut untuk mengurangi rasa bersalahnya, karena telah membatalkan pernikahan mereka dengan cara yang paling menyedihkan bagi seorang wanita yaitu ditinggalkan dihari pernikahannya.
"Kau atur semuanya!" perintah Agam.
"Tapi Tuan apa Anda yakin? Anda tahu bukan, Nona Cindy yang turun langsung dalam proyek ini?" Jonathan tidak ingin tuannya mengambil keputusan yang salah, mengingat orang yang akan berhubungan langsung dengan mereka adalah Cindy Bernade, yang kemungkinan besar mempunyai niatan tertentu karena gagalnya pernikahan mereka.
"Kau jangan banyak bertanya, tugasmu hanya mengatur semuanya!" ucap Agam dengan tegas dan tatapan yang mematikan.
"Baby duduklah! Mau sampai kapan kau berdiri di sana?" Agam menatap gadis itu yang masih berdiri di tempatnya. "Baby...!" sentak Agam saat melihat gadis itu hanya diam saja.
"Nona," Jonathan menyentuh lengan gadis yang berdiri di sampingnya, dan apa yang di lakukan oleh Jonathan tadi dilihat sangat jelas oleh Agam.
"Eh, kau bicara denganku?" tanya Baby yang baru tersadar dari lamunannya saat Jonathan menyentuh lengannya.
"Bukan aku Nona, tapi Tuan A."
__ADS_1
"Oh.. ada apa kak?"
"Tidak ada." Jawab Agam dengan tatapan yang menelisik tajam, karena merasa curiga dengan sikap Baby yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka lalu tampak melamun setelahnya. "Oh ya buatkan aku kopi dan bawa kemari!"
"Aku?" Baby menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya, karena Agam menyuruhnya untuk membuat kopi.
"Ya, dan Jo antar Baby ke ruang pantry!"
"Tapi Tuan—"
"Jo....!" Agam menatap tajam asisten pribadinya.
Jonathan yang mengerti pun menganggukkan kepalanya. "Mari Nona." Ucap Jonathan saat melihat nona Baby hanya diam saja.
"Tunggu dulu!" Baby menatap Jonathan lalu menatap sepupunya. "Kak ini serius? Kau menyuruhku membuat kopi?" tanya Baby, memastikan apa yang didengarnya itu tidak salah.
Agam menganggukkan kepalanya. "Kenapa? Kau keberatan?"
"Tidak." Baby pun berjalan keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Jonathan.
__ADS_1
Meninggalkan Agam yang menatap punggung Baby dengan seringai tipis dibibirnya. "Kita lihat apa kau benar-benar lupa ingatan atau hanya berpura-pura?" Bukan tanpa alasan Agam menyuruh gadis itu untuk membuat kopi, karena ia ingin memastikan apa benar Baby hilang ingatan. Karena jika gadis itu hanya berpura-pura dia pasti akan mencegahnya untuk minum kopi, karena Baby tahu dirinya alergi terhadap kafein.