
Sementara itu di ruangan lainnya lebih tepatnya di kantin rumah sakit. Luna, Mini, dan Boy saling menatap satu dan lainnya lalu di detik berikutnya mereka tersenyum secara bersamaan.
"B apa ini tidak keterlaluan? Memaksa A menikah dengan Baby?" tanya Luna pada putranya, karena ide untuk menikahkan Baby dan Agam datang dari Boy Arbeto. Sehingga ia meminta dokter yang menangani Baby untuk mengatakan apa yang mereka pinta, sehingga Luna bisa menjalankan ide putranya itu untuk meminta Agam menikahi Baby.
"Aku rasa tidak, karena apa yang kita lakukan demi untuk kebahagiaan Baby." Boy menarik satu sudut bibirnya dengan tatapan menerawang ke depan. Malam itu ia mendengar dengan jelas permohonan adiknya yang ingin diberikan satu kesempatan untuk meraih kebahagiaannya, dan kebahagian Baby adalah bisa bersama dengan Agam. Maka Boy mewujudkan apa yang diinginkan adik satu-satunya itu walaupun dengan cara ekstrim sekalipun.
Luna menghela napasnya dengan kasar lalu menatap pada Mini sahabatnya. "Kau tidak menyesal mendukung rencana kami? Padahal kau tahu Agam tidak mencintai Baby."
"Aku tidak menyesal dan justru merasa bahagia karena sekarang kita jadi besanan." Mini menggenggam tangan Luna. "Dan kau salah jika mengatakan A tidak mencintai Baby, karena pada kenyataannya putraku itu mencintai putrimu. Hanya saja dia tidak bisa membedakan rasa cinta yang dimilikinya itu adalah cinta seorang kakak pada adiknya atau pada lawan jenis. Karena itu kita harus memaksanya untuk menikahi Baby, agar A sadar dengan perasaannya sendiri." Jelas Mini, karena ia tahu dengan pasti putranya itu mencintai Baby.
"Kau yakin A mencintai Baby?" tanya Luna tak percaya.
"Aku sangat yakin. Aku ingin orang yang melahirkan dan membesarkan A, jadi aku tahu pasti apa yang dirasakan putraku." Mini meyakinkan Luna.
"Aku percaya padamu Min, tapi —" belum sempat Luna meneruskan perkataannya, ia melihat ponselnya yang berdering lalu mengangkatnya saat tahu yang menghubunginya adalah Dafa.
__ADS_1
"Kau dimana?" tanya Dafa saat sambungan ponselnya terhubung.
"Aku ada di kantin, memangnya kenapa?"
"Cepat kembali ke ruangan! Baby sudah sadar."
"Apa! Baby sudah sadar?" tanya Luna dengan wajah yang terkejut sembari menatap Boy dan Mini, sedangkan dua orang yang ditatapnya itu juga terlihat terkejut.
"Ya, cepatlah kemari!" Dafa memutuskan sambungan teleponnya.
*
*
Setelah mereka bertiga sampai di depan ruang rawat Baby, hanya Luna yang diperbolehkan untuk masuk karena di dalam ruangan sudah ada Agam dan juga Dafa. Begitu masuk ke dalam ruangan, Luna segera menghambur ke pelukan putrinya yang terlihat sudah sadarkan diri.
__ADS_1
"Baby kau sudah bangun sayang?" Luna mengecup kening putrinya dengan penuh haru.
"Mom kenapa aku ada di sini? Dan kenapa Mom menangis." Baby mengusap air mata yang jatuh di pipi Mommy nya.
"Kau.." Luna tidak meneruskan perkataannya, lalu menatap pada Dafa dan Agam.
"Dokter bilang Baby belum sepenuhnya mengingat apa yang terjadi padanya, tapi itu hal yang wajar mengingat kejadian tabrakan itu mungkin membuatnya shock." Terang Dafa.
"Dad memangnya aku kecelakaan?" tanya Baby saat mendengar perkataan Daddy nya.
Dafa menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Sudah kau jangan banyak berbicara dan berpikir terlalu berat! Baby masih ingatkan dengan yang dikatakan dokter?"
Baby menganggukkan kepalanya dengan senyum di wajahnya, lalu menatap pada Agam sepupunya yang sejak tadi hanya diam berdiri di pojok ruangan.
Agam sendiri membalas tatapan Baby dengan sangat intens, dan entah mengapa ia merasa tatapan mata gadis itu sangat berbeda dengan tatapan yang biasa Agam dapatkan. Ia merasa ada sesuatu yang hilang tapi entah apa?
__ADS_1