
"Kak Tita boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Baby.
"Tentu saja boleh, tapi untuk apa?" Tita ingin tahu kenapa adik iparnya itu ingin meminjam ponselnya.
"Aku ingin mendengar suara A, tapi tidak berani jika menggunakan ponselku." Jawab Baby dengan jujur. Ia ingin mendengar suara pria itu walaupun hanya sebentar saja, karena Baby tidak yakin besok-besok bisa mendengar suara Agam di saat status pria itu sudah menjadi suami Cindy.
"Baiklah tunggu sebentar."
Tita keluar dari kamar Baby dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel, dan setelah memberikan ponselnya pada Baby ia segera keluar dari kamar adik iparnya itu. Memberikan ruang bagi Baby untuk berbicara dengan Agam.
"Halo... " Agam berkata setelah mengangkat ponselnya.
Sementara itu Baby hanya diam mendengar suara Agam, sembari menahan tangis bahagianya karena bisa mendengar suara pria itu lagi.
"Halo Tita ada apa?" tanya Agam karena istri sepupunya itu hanya diam saja. "Tita are you okay?" Agam menatap ponselnya untuk mengecek sinyalnya, dan ia melihat tidak ada yang salah pada sinyal tersebut. "Tita kau—" Agam terdiam saat mendengar sayup-sayup suara orang yang menahan tangis.
"Baby.... " gumam Agam dalam hati, entah mengapa ia merasa yang menghubunginya saat ini adalah adik sepupunya.
__ADS_1
Baik Baby maupun Agam kini saling diam tidak ada yang bersuara, mereka sama-sama termenung dengan ponsel yang berada ditelinga masing-masing.
"Aku tahu ini kau Baby, bagaimana kabarmu?" tanya Agam pada akhirnya karena gadis itu hanya diam saja.
Baby tidak menjawab pertanyaan Agam, karena saat ini ia tengah mati-matian menahan isak tangisnya.
"Baby aku ingin kau hadir di acara pernikahanku, aku ingin adik yang selama ini selalu menggangguku ada di hari bahagia kami." Agam bersungguh-sungguh saat mengatakan hal tersebut, bukan karena ingin menyakiti gadis itu, tapi Agam hanya ingin gadis yang selama ini ia anggap adik bisa menjadi saksi di hari pernikahannya nanti.
"Aku akan datang." Baby langsung menutup ponselnya setelah mengatakan hal tersebut. Dan di detik berikutnya ia menangis dengan sejadi-jadinya, karena di detik terakhir pun Agam masih menganggapnya adik.
"Ya Tuhan aku mohon padamu, berikan aku satu kesempatan untuk bisa meraih kebahagiaanku. Dan A adalah kebahagiaan aku." Baby kembali menangis, tanpa menyadari ada seseorang yang mendengar semua perkataannya, dan ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Baby.
"Ini yang terbaik." Agam menyakinkan dirinya sendiri.
*
*
__ADS_1
The wedding.
Seluruh keluarga Arbeto sejak pagi hari sudah sibuk mempersiapkan diri untuk datang ke pernikahan Agam dan Cindy. Seluruh keluarga inti bahkan sudah berkumpul di ruang tengah sedang menunggu seseorang yang belum juga siap sejak dari tadi.
"Di mana Baby?" tanya Luna sembari menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya dengan gelisah, karena mereka bisa datang terlambat jika tidak pergi sekarang juga.
"Mom Baby bilang kita berangkat lebih dulu, nanti dia menyusul." Ucap Tita setelah keluar dari kamar adik iparnya.
"Tidak bisa, kita harus datang bersama." Sahut Dafa.
"Tapi Dad, Baby sedang sakit perut. Itu sebabnya dia menyuruh kita untuk berangkat lebih dulu." Jelas Tita dengan berbohong karena sebenarnya Baby belum siap untuk datang ke pernikahan Agam.
Dafa dan Luna yang cemas mendengar Baby sakit segera melihat keadaan putrinya, dan setelah memastikan keadaan Baby, Dafa pun memutuskan mereka berangkat lebih dulu baru nanti putrinya menyusul.
"Sayang apa tidak apa-apa kita meninggalkan Baby?" tanya Luna saat mereka sudah berada di dalam mobil, karena entah mengapa perasaan sangat tidak enak.
"Kau jangan cemas, Baby akan menyusul setelah sakit perutnya membaik. Tadi juga aku sudah menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Baby." Jelas Dafa.
__ADS_1
Luna pun hanya bisa mengangguk kepalanya, ia hanya bisa berdoa putri bungsunya bisa segera sembuh dan menyusul mereka ke tempat pernikahan Agam.