
Setelah sampai di mansion Mateo. Agam lebih dulu masuk ke dalam kamar, sedangkan Baby memilih berjalan ke ruang makan. Pikirannya yang sedang kalut membuat perutnya kembali merasa lapar, padahal tadi saat di kediaman Graham dia sudah makan banyak.
"Buatkan aku mie instan yang pedas!" pinta Baby pada pelayanannya. Karena entah mengapa tiba-tiba saja perutnya menginginkan mie berkuah itu yang jelas-jelas sangat dilarang oleh Agam.
"Tapi Nona, kami takut Tuan akan marah," ucap pelayan itu saat mendengar permintaan Nyonya Baby. Karena setahu mereka tuan Agam sangat menjaga apa yang masuk ke dalam perut istrinya, dan hanya memperbolehkan makanan yang sehat.
"Kalian tenang saja, Tuan tidak akan tahu karena aku akan makan di ruang makan kalian." Baby berjalan menuju paviliun belakang di mana tempat para pelayan berada.
"Tapi Nyonya..."
Baby menghentikan langkahnya. "Kalau Tuan marah aku yang akan menanganinya, jadi cepat buatkan mie untukku dan jangan lupa yang pedas."
"Tapi..." para pelayan itu saling berpandangan saat melihat nyonya mereka kembali berjalan menuju paviliun belakang. Dan mau tidak mau mereka membuatkan apa yang diinginkan nyonya Baby, dan berharap tuan Agam tidak akan mengetahuinya.
Sementara itu Agam yang sudah selesai membersihkan tubuhnya, menatap ke sekeliling ruang kamar dengan kening yang berkerut.
"Dimana Baby?" gumam Agam sambil berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaian ganti.
Setelah selesai berganti pakaian Agam keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya, karena tidak biasanya Baby berlama-lama di luar kamar tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
"Kau lihat istriku?" tanya Agam pada pelayan yang ada di ruang tengah.
__ADS_1
"Nyonya di ruang makan Tuan," jawab pelayan itu.
Agam pun berjalan menuju ruang makan tapi tidak menemukan keberadaan istrinya. "Kemana dia?" gumamnya sembari menghela napas dengan kasar. Tadinya Agam ingin marah pada Baby, karena wanitanya itu tidak menginginkan wajah anak mereka nanti seperti dirinya. Tapi sekarang jangankan untuk marah, keberadaan istrinya saja ia tidak tahu.
"Kau bilang istriku ada di ruang makan? Tapi kenapa tidak ada?" tanya Agam pada pelayannya.
"Tadi kami melihat Nyonya ada di sini, tapi..."
"Ck, cepat cari istriku!" perintah Agam.
"Baik Tuan," pelayan itu segera mencari keberadaan Nyonya Baby.
*
*
"A..." Baby yang sedang memakan mie instan sampai tersedak saat melihat suaminya. Dia tidak menyangka Agam bisa menemukan keberadaannya, padahal Baby sudah bersembunyi di ruang makan para pelayan.
"Apa yang kau makan?" Agam menatap kearah mangkuk yang ada dihadapan istrinya.
"Em.. ini..." Baby tersenyum kaku sembari menutup mangkuk tersebut dengan tangannya.
__ADS_1
"Kau makan mie instan?" tanya Agam saat menarik tangan Baby dari mangkuk, dan melihat isi di dalamnya.
Baby menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Baby Arbeto..." Agam yang hendak marah, menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. "Pelayan!" teriak Agam dengan menggelar ke seluruh ruangan tersebut, sampai Baby menutup kedua telinganya.
"Ya Tuan," para pelayan itu berdatangan dengan kepala yang menunduk.
"Siapa yang sudah membuat makanan sampah ini!" Agam menatap satu persatu pelayannya. "Katakan siapa?" Agam mengulangi pertanyaannya saat tak satu pun pelayan yang mengaku.
"A jangan salahkan mereka, aku yang sudah menyuruh karena anak kita yang menginginkannya." Baby menarik tangan Agam ke perutnya. "Jangan marah Daddy..." bujuk Baby dengan wajah yang memelas.
Agam menghela napasnya, amarah yang sempat naik langsung turun saat menyentuh perut Baby. "Kali ini aku maafkan kalian! Tapi jika melakukannya lagi, aku akan memecat kalian saat itu juga! Kalian mengerti?"
"Kami mengerti Tuan," jawab para pelayan itu dengan ketakutan.
"Dan kau..." Agam menarik pinggang Baby dan di detik berikutnya menggendong wanita itu. "Kau harus mendapatkan hukuman!" Agam berjalan membawa istrinya yang sudah melanggar aturan menuju kamar mereka.
Sedangkan Baby yang berada di dalam gendongan suaminya, hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Karena sebentar lagi telinganya harus mendengarkan ceramah pria itu sepanjang malam seperti yang sudah-sudah.
Ya, suaminya yang posesif dan overprotektif itu sudah merubah hukuman yang tadinya ***-*** menjadi hukuman yang menyebalkan. Walaupun ujung-ujungnya mereka pasti akan bercinta, tapi tetap saja telinganya harus mendengarkan terlebih dahulu ceramah Agam selama berjam-jam lamanya baru berakhir dengan kegiatan panas mereka.
__ADS_1