
Agam yang cemas dengan keadaan Baby, segera membawa istrinya itu keluar dari mansion menuju mobil yang sudah bersiap di depan pintu utama. Namun saat Agam ingin membawa Baby masuk ke dalam mobil, wanita itu justru menolak dan minta diturunkan.
"Kenapa sayang?" tanya Agam dengan cemas.
"Sudah tidak sakit," jawab Baby dengan menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Tapi tetap saja kita harus ke rumah sakit, aku takut kau kenapa-kenapa." Agam ingin menggendong kembali istrinya.
"Tidak perlu, perutku sudah tidak sakit." Baby memilih berjalan masuk ke dalam mansion meninggalkan Agam yang terlihat bingung ditempatnya.
"Tapi sayang..." Agam yang tersadar mengejar langkah istrinya dan membawa wanita itu ke dalam gendongannya.
"A turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri."
"Tidak! Aku takut perutmu sakit lagi." Agam berjalan masuk kembali ke dalam mansion, meski hatinya sedikit tidak tenang. "Kau yakin tidak ingin ke rumah sakit?"
Baby menganggukkan kepalanya. "Perutku tadi hanya keram, tapi sudah tidak apa-apa."
__ADS_1
"Syukurlah," Agam kini bisa bernapas dengan lega sembari berjalan membawa istrinya ke dalam kamar mereka. Membaringkan tubuh Baby yang sangat berat itu ke atas ranjang, lalu mengusap perut besar istrinya dengan penuh kasih sayang. "Twin jangan membuat Mommy kesakitan seperti itu lagi," ucapnya sambil terus mengusap perut Baby.
"Oke Daddy," Baby yang menjawab dengan suara menirukan anak kecil.
Membuat Agam tertawa lalu mengecup perut istrinya dengan hangat. "Kenapa twin tidak bergerak? Biasanya mereka aktif?" tanyanya saat tidak merasakan gerakan kecil seperti biasanya ketika Agam mengajak twin berbicara.
"Mungkin mereka sedang tidur di dalam sana." Jawab Baby sambil ikut mengusap perutnya.
Agam mengerutkan keningnya lalu tersenyum penuh arti. "Karena mereka sudah tidur, kita bisa bermain sebentar."
Agam tertawa geli melihat wajah Baby yang berubah masam. "Aku hanya bercanda sayang," ucapnya sambil mengusap kembali perut Baby, dan kali ini Agam merasakan pergerakan dari twin.
"Lihat! Mereka pun protes dan tidak mau dijenguk oleh Daddy nya." Ucap Baby sambil tertawa.
Agam pun ikut tertawa dan menghujani perut Baby dengan kecupan. Dia sangat menyayangi twin dan Baby tentunya, karena bagi Agam mereka bertiga adalah hidupnya.
"Istirahatlah! Aku ingin membersihkan tubuh dulu." Agam mengecup bibir Baby dengan sekilas.
__ADS_1
Baby menganggukkan kepalanya, dan melihat suami tampannya itu masuk ke dalam bathroom.
Selama lima belas menit lamanya Agam berendam untuk menghilangkan rasa lelah, dan cemasnya ketika tadi melihat Baby kesakitan. Namun baru saja tubuhnya terasa rileks, Agam mendengar suara pintu yang diketuk dengan keras.
"A.. cepat keluar! Perutku sakit." Ucap Baby dengan berteriak.
Agam yang tengah berendam langsung keluar dari dalam bathtub saat mendengar teriakkan Baby. Bahkan karena terburu-buru Agam hanya sempat melilitkan handuk di pinggangnya, dan langsung membuka pintu.
"Baby..." tubuh Agam terasa kaku saat melihat istrinya kesakitan, apalagi saat melihat cairan bening mengalir di sela paha Baby. "Kau kenapa sayang?"
"A perutku sakit." Baby sampai menangis karena tidak kuat menahan sakit pada perutnya, karena rasa sakit itu terasa berkali lipat dari sakit perutnya yang tadi. "Sepertinya aku ingin melahirkan."
"A-apa? Melahirkan? Ta-tapi..." Agam bingung harus melakukan apa, seolah-olah otaknya sulit untuk berpikir saat mendengar kata melahirkan.
"A...!" teriak Baby.
Agam yang tersadar segera menggendong Baby, berjalan tergesa-gesa keluar dari kamar tanpa menyadari saat ini dirinya hanya mengenakan handuk yang melilit di atas pinggang.
__ADS_1