
Suasana di ruang makan yang ada di mansion utama itu terasa mencekam dan begitu hening, karena keempat orang yang ada diruangan tersebut memilih diam. Bahkan setelah makan malam itu selesai, ke empat orang tersebut masih duduk diam di tempatnya masing-masing tanpa ada yang bersuara, seolah menuggu salah satu dari mereka untuk berbicara lebih dulu.
Brak.
Boy menggebrak meja makan dengan keras hingga membuat Tita, Agam, dan Baby terkejut, mereka bertiga menatap satu dan lainnya dengan raut wajah yang berbeda. Jika Agam dan Baby dengan raut wajah yang bingung, sementara Tita justru terlihat cuek.
"Kak kau kenapa?" akhirnya Baby memberanikan diri untuk bertanya, karena sejak tadi kakaknya itu bersikap aneh.
Boy yang ditanya hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Baby, ia justru menatap Agam dan meminta pria itu untuk menemaninya di ruang tengah. Sementara Agam mau tidak mau menemani Boy Arbeto, saat melihat wajah sepupunya itu yang sedang tidak bersahabat alias sedang marah.
"Kak Tita kalian masih bertengkar?" tanya Baby setelah suami dan kakaknya tidak ada di ruangan tersebut.
"Ya begitulah," jawab Tita dengan santai.
__ADS_1
"Oh my God." Baby menghela napasnya dengan kasar, ia tidak menyangka pertengkaran di dalam kamar tadi ternyata masih berlanjut hingga ke meja makan.
"Sudah kau tidak perlu memikirkan pertengkaran kami! Bagaimana kalau malam ini kau tidur di kamarku?"
Baby berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena ini kesempatan baik untuknya agar tidak satu kamar dengan Agam Mateo. Mereka berdua pun berjalan meninggalkan ruang makan, menuju kamar pribadi utama yang ada di mansion tersebut.
"Tunggu kak!" Baby menahan langkahnya saat melewati ruang tengah. "Lebih baik kita ijin dulu pada kak B, aku tidak ingin kakak ku marah saat tahu aku tidur di kamarmu." Baby menunjuk Boy Arbeto, yang saat ini tengah menatap kearah mereka.
"Tidak boleh!" Jawab Boy dan Agam bersamaan lalu saling menatap satu dan lainnya.
"Kenapa?" tanya Tita dengan mengerutkan keningnya.
"Sayang kau lupa mereka itu pengantin baru? Jadi kau tidak boleh mengganggu mereka." Jawab Boy dengan berbohong, karena sebenarnya dia tidak ingin tidur terpisah dengan istri tercintanya.
__ADS_1
"Tapi kak aku tidak keberatan tidur dengan kak Tita." Sahut Baby dengan cepat seraya memberikan kode pada kakak lelakinya itu.
"Tapi aku yang keberatan." Agam ikut bersuara dengan raut wajah datarnya.
"Kenapa kau keberatan?"
Agam diam tidak menjawab pertanyaan Baby, karena mana mungkin ia menjawab kalau dirinya ingin berduaan bersama gadis itu malam ini.
"Sudah tidak perlu berdebat lagi, Baby kau tidur di kamar mu! Karena Tita sedang hamil dan aku tidak ingin kau menendang perut istriku." Boy yang tahu betul kebiasaan tidur Baby yang tidak bisa diam, tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.
"Tapi kak..." Baby tidak jadi bersuara saat melihat kedua sorot mata kakaknya yang tajam. "Ish, gini amat ya punya kakak tidak bisa diajak kerjasama." Gerutu Baby dalam hati karena kakaknya itu tidak mengerti dengan kode yang diberikannya.
Sementara itu Agam tersenyum dalam hati saat Boy Arbeto tidak mengijinkan Baby tidur di kamar Tita, untuk kali ini ia harus berterima kasih pada sepupunya itu karena secara tidak langsung memudahkan rencananya untuk bisa satu kamar dengan gadisnya.
__ADS_1