
Luna dan Mini yang berada di luar ruangan, langsung masuk ke dalam saat mendengar teriakan Baby. Dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat Agam tengah menutup mulut Baby dengan tangannya.
"Ada apa sayang?" Luna reflek memukul pundak Agam sembari membawa Baby ke dalam pelukannya.
"Mom, Kak A..."
"Kenapa sayang? Ceritakan pada Mom." Luna mengusap rambut putrinya, sembari menatap tajam pada keponakannya.
"Dia.. dia..." Baby hanya bisa menangis sambil memeluk mommy nya.
"A apa yang sudah kau lakukan?" Mini menatap tajam pada putranya.
"Aku—" Agam bingung harus menjawab apa, terlebih lagi saat melihat Baby menangis. "Jangan bilang gadis itu menangis karena aku menciumnya?" Gumam Agam dalam hati.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Baby?" Mini mengulangi pertanyaannya saat melihat Agam hanya diam saja.
"Dia mencium bibirku, Kak A sudah mengambil ciuman pertamaku." Baby yang menjawab pertanyaan Aunty Mini dengan isak tangis dibibirnya.
__ADS_1
"What?" pekik Luna dan Mini bersamaan dengan wajah yang terkejut, saat mengetahui kenapa Baby berteriak dan menangis. Tidak lupa tatapan tajam mereka lemparkan pada Agam Mateo.
Sementara itu Agam hanya menunduk saat Aunty Luna dan Mom Mini menatapnya dengan tajam, ia pun mengumpat dalam hati setelah mendengar perkataan Baby. "Dia bilang apa? Ciuman pertama? Yang benar saja."
"Sayang, mungkin A tidak sengaja melakukannya." Luna berusaha menenangkan putrinya yang terlihat shock.
"Tapi Mom itu ciuman pertamaku," Baby mengusap air mata dan ingus yang keluar dari hidungnya. "Aku ingin mendapatkan ciuman pertama dari orang yang aku cintai, bukan dengan kakak sepupuku sendiri." Protesnya.
"Baby hentikan sandiwara mu! Kau tahu dengan jelas ciuman tadi bukan ciuman pertama kita." Ucap Agam dengan emosi.
"What?" Lagi-lagi Luna dan Mini terkejut, begitu pun dengan Baby.
"Maksud kakak kita pernah berciuman?" Baby ikut bertanya dengan wajah yang bingung.
"A cepat jawab pertanyaan Aunty Luna dan Baby!" Mini mendesak putranya untuk berbicara.
Sementara orang yang ditanya hanya bisa menghela napasnya saat menyadari dirinya sudah kelepasan berbicara.
__ADS_1
"Sudahlah lupakan yang tadi aku katakan." Agam ingin keluar dari ruangan itu, ia merasa sulit bernapas berada di satu ruangan bersama tiga wanita yang terlihat emosi kepadanya.
"Kau mau kemana? Jawab dulu pertanyaan kami!" Luna menahan langkah Agam.
"Tanya saja pada Baby." Agam menatap pada gadis yang berstatus sebagai istrinya.
"Aku?" sahut Baby menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja kau! Jangan bilang kau lupa apa yang kita lakukan saat malam pertunangan aku dengan Cindy?" Agam berjalan mendekati Baby, menatap gadis itu dengan intens untuk mencari kebenaran tentang hilangnya memori Baby yang berhubungan dengan perasaan cintanya.
"Memangnya apa yang kita lakukan?" Baby mencoba mengingat-ingat, namun yang ia ingat hanya saat dirinya mengalami kecelakaan ketika ingin pergi ke acara pernikahan Agam. Dan kejadian sebelum-sebelumnya bahkan hari pertunangan Agam ia tidak dapat mengingatnya.
"Mau aku bantu untuk mengingatnya?" Agam duduk di atas ranjang dengan tatapan mata yang terus tertuju pada Baby. Ia bahkan lupa jika diruangan tersebut ada Aunty Luna dan Mom Mini yang tengah menatap dirinya. "Kau cukup diam dan aku akan membuatmu mengingat semuanya." Bisik Agam.
Baby menggelengkan kepalanya dan ingin menjawab tidak, namun belum sempat ia mengatakan tidak bibirnya sudah lebih dulu dicium oleh Agam.
Sementara itu Luna dan Mini yang melihat bagaimana Agam mencium Baby, sampai membelalakkan kedua matanya. Mereka terkejut dengan keberanian Agam mencium Baby di depan kedua mata mereka.
__ADS_1
"Bagaimana? Kau sudah mengingatnya?" Agam mengusap bibir tipis yang sudah ia cium sebanyak dua kali dalam satu hari ini.
Baby tidak menjawab pertanyaan Agam, karena wajahnya langsung terkejut saat menengok ke samping. Begitu pun dengan Agam, ia bahkan sampai mundur ke belakang saat melihat wajah Aunty Luna dan Mom Mini yang berada persis di sampingnya.