Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Aisyah


__ADS_3

Pria itu tidak menghargai usaha puspa untuk mengganti rugi kesalahannya karena tak sengaja membuat ponselnya rusak.


Pria itu terlihat sangat kesal karena ponselnya benar-benar mati dan tak bisa dia pakai lagi.


"Bagaimana jika nanti tuan menghubungiku.


Ah sial"


Pria itu pun menatap Puspa dengan penuh kebencian dan berlalu dari hadapannya.


Puspa yang merasa bersalah terus coba meminta maaf namun pria itu terus menepisnya.


Puspa pun menghentikan langkahnya kala pria itu kini menaiki bus menuju Cimahi,


Bus yang sama dengan tujuan arah Puspa dan Madina.


Nina yang melihat Puspa berada di bawah bus menuju Cimahi coba menghampirinya,


Dia berpikir mungkin Puspa hendak naik saat itu juga.


"Ayo naiklah,sebentar lagi bus nya akan berangkat,ya kan mang?"


Tanya Nina pada seorang kenek bus yang ada di terminal.


"Ia neng cepat naik neng,sebentar lagi bus nya berangkat"


Puspa sedikit ragu karena dia pasti akan bertemu kembali dengan pria yang dia tabrak tadi,


Namun dia pun berusaha untuk tenang dengan niat akan meminta maaf kembali padanya jika bertemu.


Di dalam bus tersisa dua jok kosong,namun masing-masing sudah terisi satu orang,alhasil Nina dan Puspa harus duduk terpisah.


"Bagaimana ini,?"


Tanya Puspa pada Nina yang bingung karena ini kali pertama dia menaiki bus setelah sekian lama.


Nina pun menyarankan Puspa untuk duduk di sebelah pria yang ada di baris 3 sementara dirinya duduk di belakang Puspa.


"Aisyah,ya aku akan panggil kamu Aisyah sekarang,ini sudah diluar Sumedang,kau masih ingat dengan saran ku tadi kan?"


Nina pun coba mengingatkan Puspa akan pesannya untuk mengganti namanya.


Karena menurutnya nama Puspa sudah di anggap buruk oleh kampungnya,dia menghindari kejadian buruk terjadi pada Puspa dengan namanya jika ada salah seorang warga yang mengenal nama Puspa di kemudian hari bertemu dengannya.


Puspa pun mengangguk setuju dan tidak banyak bicara,


Dengan menggendong Madina Puspa pun duduk di samping pria berjaket kulit warna coklat.


Pria itu nampak melihat ke arah luar jendela sehingga tidak melihat kedatangan Puspa duduk di sampingnya.


Madina sedikit merengek seakan cemas akan dirinya saat duduk di samping pria itu.


"Ada apa nak,sut jangan nangis ya sayang"


Puspa coba mendiamkan Madina yang menangis,pria itu pun berbalik seakan terganggu dengan suara tangisan Madina.


Puspa merasa takut saat pria itu berbalik,


Dia terus coba mendiamkan Madina dengan semampunya,namun Madina tak kunjung diam.


"Kamu kenapa dek,sini om gendong?"


Pria itu membantu Puspa untuk membuat Madina diam dengan caranya.

__ADS_1


Puspa tidak mengira jika pria yang ada disampingnya adalah pria sama yang dia tabrak hingga ponselnya rusak.


Pria berparas indo Inggris itu terlihat sangat bersahaja menggoda baby Madina hingga membuat Madina yang menangis kini bisa tersenyum kembali dengan wajah lucu David yang bertingkah seperti anak kecil di depan bayi Madina .


Puspa ikut tersenyum gemas melihat tawa Madina yang tak hentinya melihat kekonyolan wajah David,hingga dia pun tidak menyadari jika dompetnya terjatuh dari sakunya saat kaki Madina tak sengaja bergerak ke arah saku baju Puspa.


Puspa mengucapkan terimakasih pada pria itu karena sudah membuat Madina kembali tersenyum,


"Terimakasih karena kamu sudah membuat bayiku tidak menangis lagi"


"Ya sama-sama"


David menjawab ucapan terimakasih Puspa dengan dingin,seakan dia masih belum memaafkan nya untuk kesalahan di toilet tadi.


"Saya tahu,mungkin kamu masih kesal padaku atas kejadian tadi,tapi saya akan ganti rugi ponsel nya mas,"


"Tidak usah,saya sudah memaafkan anda"


"Tapi..."


"Saya sudah memaafkan anda berarti sudah saya tidak ingin lagi membahas tentang kejadian yang sudah terjadi,lupakan lah,"


Puspa pun terdiam dan merasa cukup jika memang pria itu sudah memaafkannya.


Suasana pun kembali hening,


Puspa merasa sangat mual,mungkin dia mabuk perjalanan.


Keringat dingin bercucuran di kening Puspa,dia merasa gelisah,dia coba memanggil Nina untuk menolongnya namun tidak bisa.


Sedikit bergerak saja perutnya begitu sangat perih dan mual,


Puspa pun tak sengaja meremas celana pria dengan sangat keras,


David yang tersadar jika wanita di sampingnya sedang tidak baik-baik saja langsung melihat dan memastikan keadaan Puspa.


David pun mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka keringat di kening Puspa,


Kepala Puspa bersandar lemah di jok,


Sementara baby Madina masih terlelap.


David pun coba meminta minyak angin pada penumpang di depannya yang kebetulan melirik ke arah Puspa.


"Istrinya kenapa mas?"


David terdiam saat penumpang itu mengira Puspa adalah istrinya.


"Bisa saya minta minyak anginnya Bu?"


Penumpang itu pun memberinya minyak angin untuk Puspa.


David yang melihat Puspa semakin melemah berusaha untuk membuatnya agar tetap sadar.


"Ayo minumlah dulu"


David menyodorkan sebotol air mineral baru pada Puspa untuk dia minum.


Dia juga menggosokkan minyak angin di tangannya agar dia merasa hangat.


Nina yang kala itu tertidur tidak menyadari jika sahabatnya sedang lemah tak berdaya.


Dengan semua usaha David akhirnya Puspa sedikit bertenaga untuk bisa bicara

__ADS_1


"Maafkan saya telah merepotkan mu"


Ucap Puspa pada David.


Nina pun terbangun dan mendengar semua penumpang membicarakan Puspa yang hampir pingsan ,dia langsung berdiri dan melihat ke arah Puspa.


"Aisyah.. kau tidak apa-apa ?"


Nina memanggil Puspa dengan nama barunya,sontak Puspa pun langsung menoleh ke arah suara Nina yang memanggilnya.


Puspa masih belum bisa banyak bicara,dia masih sangat lemah dan mual.


"Perutku sangat mual sekali nin,kepalaku juga sangat pusing"


Sambil berdiri Nina pun mengusap dan memijat bahu Puspa.


"Kamu pasti masuk angin,sedari pulang dari Singapura "


Mendengar kata Singapura David pun langsung menatap wajah Puspa,


Dia berpikir apa dia wanita yang dia cari,karena dia juga membawa seorang bayi.


"Kamu pasti kecapean Aisyah,ditambah selalu begadang urus Madina "


Namun setelah mendengar nama Aisyah keluar dari mulut wanita di depannya David pun berpikir mungkin dia bukan Puspa yang dia cari.


Puspa pun mengatakan jika dirinya kini sudah membaik berkat pertolongan pria di sampingnya.


Nina pun ikut berterimakasih pada pria yang mereka belum tahu namanya.


David hanya diam dan sedikit tersenyum.dia bukan tipe pria yang banyak bicara.


"Sebentar lagi kita sampai ko,kamu masih kuat kan,kalau kamu memang sudah tidak kuat naik bus,kita turun disini saja "


Puspa hanya menggelengkan kepalanya dan menyuruh Nina untuk kembali duduk di bangku joknya,karena bahaya jika dia terus berdiri di sampingnya.


Nina pun kembali ke kursinya,


"Memangnya kalian hendak kemana?"


Tiba-tiba saja David bertanya pada Puspa.


"Kami hendak turun di terminal Cimahi mas, mas sendiri hendak kemana?"


David pun menerangkan jika dirinya juga sedang menuju Cimahi untuk mencari seseorang.


Merasa kebetulan akan tujuan yang sama David pun memperkenalkan dirinya.


"David"


Puspa nampak ragu untuk memperkenalkan namanya,apa harus dia berganti nama setelah semua yang terjadi.


"Aisyah "


Puspa hanya menjawab namanya tanpa merima jabatan tangan dari David.


David pun paham karena itu sudah lumrah terjadi pada wanita yang menjaga dirinya.


David pun tersenyum dan kembali fokus pada perjalanannya.


Madina masih terlelap,sepertinya dia sangat menikmati perjalanannya tanpa terganggu suatu apapun.


...

__ADS_1


Di tempat lain,Bu Siti masih sedih dengan kepergian Puspa dari rumah,dia meratapi nasib Puspa yang kurang baik,


Niat hati ingin menyelamatkan seorang anak tapi justru petaka membawanya pada jurang penderitaan.


__ADS_2