Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
kembali ke Jakarta


__ADS_3

Pak Ilham meminta yang lain untuk segera membawakan peralatan obat untuk mengobati luka Puspa.


Sedangkan sebagian warga mengejar pak Haris yang melarikan diri entah kemana,


"Ayo cepat kejar pak Haris, jangan sampai dia lolos"


Teriak pak Indra salah satu petugas desa setempat.


Pak Haris yang bersembunyi di semak belukar di belakang diesel, tak sengaja menginjak ujung pembatas tembok pembuangan limbah padi, hingga akhirnya dia pun berteriak dan terjerembab kedalamnya.


"Ah..."


Warga yang mendengar, langsung melihat ke arah sumber suara, dan ternyata benar saja, itu memang teriakan pak Haris, warga di bantu dengan keamanan setempat akhirnya meringkus pak Haris untuk segera di bawa ke kantor polisi guna mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.


"Lepaskan saya, lepaskan, kurang ajar kalian semua, kalian belum tahu siapa saya, melepaskan saya, lepaskan"


Pak Haris berusaha untuk melepaskan dirinya, namun percuma. Dia tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi.


***


Ambulan desa pun datang untuk membawa Puspa ke rumah sakit, Madina yang melihat sang ibu terluka dan di masukan kedalam mobil, langsung menangis,dia mengira jika Puspa hendak meninggalkannya.

__ADS_1


"Uwa ..."


Jerit tangis Madina kecil yang menyaksikan sang ibu terluka dan dibawa naik ambulan ke rumah sakit.


"Sebentar ya nak, ibumu harus di obati dulu, nanti kita menyusul ke tempat ibumu ya, jangan menangis ya sayang, cup cup cup".


Bu Fatimah coba mendiamkan tangis Madina.


Lilis yang merasa kesal karena usaha untuk mengusir Puspa gagal langsung pergi dari sana, dia pergi menuju rumah dan langsung bergegas untuk berangkat kembali ke Jakarta.


"Kurang ajar, kurang ajar"


Teriak kemarahan Lilis kala tiba di rumah sambil membanting barang yang ada di atas meja dengan keras.


"Kau benar-benar telah mempermalukan bapak Lilis, kau tidak bisa menjaga dirimu, untuk apa kamu berusaha memfitnah Puspa, apa salahnya hingga kamu sangat membenci dia?"


Ucap pak Mamat pada Lilis.


Lilis yang kala itu dalam keadaan emosi, coba menenangkan diri, karena orang yang sedang memeehinya sekarang adalah ayahnya sendiri,


Sebagai anak baik, dan sopan Lilis lun tahu dia tidak boleh berbicara kasar pada orangtuanya.

__ADS_1


Namun keegoisan yang sudah mendarah daging dalam jiwanya membuat Lilis melawan semua yang dikatakan pak Mamat padanya.


Tanpa menjawab semua pertanyaan sang ayah, Lilis pun segera bergegas dan langsung berangkat ke Jakarta, dia cukup merasa takut akan di laporkan ke polisi, mengingat pak Haris pun kini sudah tertangkap kepolisian.


"Mau kemana kamu lilis?"


Pertanyaan pak Mamat seakan tidak dia dengar, Lilis kalap, dia pergi dalam kemarahan akan gagalnya mengusir Puspa dari rumahnya.


Lilis terus berjalan hingga akhirnya dia menemukan sebuah angkutan umum dan langsung naik, sehingga pak Mamat tidak bisa mengejarnya.


"Lilis, bapak hanya ingin bicara denganmu nak"


Ucap pak Mamat sedih akan kepergian sang anak kembali ke Jakarta.


....


Pak Ilham pun bersama satu orang anggota desa langsung menemui Bu Fatimah dan mengatakan jika keadaan Puspa sekarang sudah aman, hanya saja lengannya harus di jahit karena tusukan pisau yang cukup dalam mengenainya.


Dan sekarang Puspa sedang istirahat terlebih dahulu sebelum dia bisa pulang.


"Syukurlah pak Ilham, terimakasih bapak sudah menolong nak Puspa,"

__ADS_1


Bu Fatimah yang sedang menggendong madina berterimakasih pada pak Ilham karena sudah mau menolongnya.


__ADS_2