Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Mimpi buruk


__ADS_3

"beraninya kamu menolong gadis itu,mau aku potong gaji kamu?"


Nyonya Zakaria marah kepada Puspa karena menolong Meeta dari amarahnya.


"Maaf nyonya,saya bukan bermaksud seperti itu,Meeta anak baru disini,jadi dia belum paham betul bagaimana cara kerja disini,biar saya yang kasih tahu Meeta,agar dia tidak melakukan kesalahan lagi"


dia coba membela Meeta agar tidak terus nyonya Zakaria tampar.


"Tapi dia sudah membuatku rugi besar"


Nyonya Zakaria masih dalam emosi besar,


Puspa pun mengeluarkan $100 dari sakunya untuk membayar kerugian yang disebabkan Meeta padanya,


"Saya rasa itu cukup untuk membayar ganti rugi Meeta kepada nyonya".


Nyonya Zakaria dibuat diam oleh Puspa karena sejumlah uang yang dia berikan padanya,dia tidak menyangka anak buahnya akan mempunyai uang sebanyak itu,sejumlah uang yang karyawan lain dapatkan dalam 2 hari.


"Darimana dia mendapat uang ini,setahuku tabungan nya untuk pulang masih belum dicairkan"


Pikir nyonya Zakaria kala menerima uang dari Puspa.


"Tapi yasudah lah,itu tidak penting"


Nyonya Zakaria kembali tersenyum mencium uang yang diberikannya.


Puspa langsung membawa Meeta ke kamarnya untuk dia obati.


"Kamu tidak apa-apa Meeta"


Tanya Puspa kepada teman kerjanya itu,


Meeta menangis dan langsung memeluknya.


"Aku ingin pulang Puspa,aku tidak tahan bekerja disini"


Ucap Meeta pada Puspa.


Dia paham mengapa Meeta ingin pulang,karena dia juga pernah merasakan hal yang sama dengannya dulu,saat baru pertama bekerja disini.


Puspa pun dulu sempat ingin lari dari tempat ini karena dia tidak nyaman bekerja disini,namun semua sia-sia,dia menyadari posisi nya sekarang bukan di negaranya,maka akan sulit baginya untuk bisa melarikan diri.


"Saat kau ingin pulang,cobalah kau ingat kembali,apa tujuanmu datang ke luar negri ini?"


Puspa.bertanya dengan pelan pada Meeta.


"Ingatlah untuk siapa kau rela pergi sejauh ini meninggalkan semua kehidupanmu disana"


Meeta pun teringat akan keluarga yang selalu dia rindukannya.

__ADS_1


"Jika kau sudah mengingatnya,maka hati dan tubuhmu akan kuat menghadapi segala yang kau lewati di masa sekarang dan di masa yang akan datang.sebuah tamparan dari nyonya Zakaria,biarlah,anggap itu sebagai cambuk untuk kamu agar bisa bekerja lebih giat lagi,perkara mereka berlaku tidak sopan kepadamu,anggap saja itu sebagai terpaan,yang terpenting,kamu bisa menjaga dirimu baik-baik,"


Puspa coba menjelaskan sedikit pesan kepada Meeta agar dirinya bisa tenang,meski di dalam pesan itu dia pun merasa sedih.


Meeta pun terdiam dan menghapus air matanya,


"Tapi kau dapat darimana uang tadi,bukankah sudah lama kita tidak mendapat gaji"


Tanya Meeta pada Puspa.


"Sudahlah jangan kau pikirkan mungkin itu sudah menjadi Rizki kamu melalui tanganku"


Meski tabungan nya sedikit berkurang demi menebus ganti rugi untuk Meeta,dia tidak merasa sedih,yang terpenting Meeta tidak terus di siksa oleh nyonya Zakaria.


...


Malam pun tiba,tempat refleksi akan segera tutup,namun datang seorang pria yang ingin memijat di waktu yang sudah seharusnya karyawan beristirahat.


Saat melihat keluar jendela Meeta melihat pria itu berbisik kepada nyonya Zakaria,entah apa yang mereka bicarakan,Meeta pun mulai mencurigainya,Meeta terus memperhatikan nyonya Zakaria dan pria tersebut.


Tak lama kemudian nyonya Zakaria pun berjalan menuju kamar Leony dan memanggilnya,TKW asal Tiongkok untuk ikut bersama pria itu.


Meeta terkejut mengapa Leony ikut dengan pria itu,apa Leony hendak memijat pria itu? atau.. pikiran Meeta melayang jauh memikirkan apa yang akan Leony lakukan bersama pria itu.


Meeta tidak berani berbicara karena takut ketahuan jika dirinya melihat nyonya Zakaria,dia masih trauma akan tamparan tadi siang yang mendarat pipinya.


Meeta menutup mulutnya rapat-rapat sampai nyonya Zakaria dan Leony pergi.


Tanya hati Meeta,


Dia terus melihat kearah luar,sampai Leony akhirnya masuk kedalam mobil bersama pria itu,


Nyonya Zakaria pun tersenyum dan melambaikan tangannya pada mereka saat mobil itu berlalu.


Nyonya Zakaria terlihat sangat bahagia,dengan mengelus dan mencium selembar kertas putih,dia pun kembali kedalam panti pijat untuk membereskan semua pemasukan hari ini dan pulang ke rumahnya.


Meeta pun dengan segera menutup jendelanya,


Nafas Meeta sangat terasa berat,terlihat dengan jelas ketakutan Meeta,dia duduk di pojok tembok kamarnya dengan menekuk kan kedua kakinya.


"Apa mungkin nyonya Zakaria menjual Leony,tidak ini pasti tidak mungkin"


Pikirannya masih dalam ketakutan.


Hingga Puspa keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat keadaan Meeta yang sangat ketakutan.


"Kamu kenapa meet?"


Tanya Puspa khawatir melihat ketakutan yang dirasakan Meeta,

__ADS_1


"Dia...dia menjual Leony"


Tangan Meeta menunjuk kearah jendela kamarnya.


Puspa sangat tidak mengerti apa yang dimaksudkan Meeta padanya dengan berkata seperti itu,


"Aku tidak mengerti,apa maksudmu,bicaralah dengan jelas"


Dia memaksa Meeta untuk bicara yang sebenarnya,apa yang sudah dia lihat.


Meeta pun menjelaskan semua yang dia lihat tadi diluar jendela pada Puspa.


Namun seketika tawa Puspa pecah.


"Aku kira kamu kenapa Meeta,hihi"


Puspa tersenyum pada Meeta,atas semua yang telah dia ceritakan.


Meeta pun merasa heran kenapa Puspa tersenyum mendengar ceritanya,sedangkan Meeta sangat ketakutan dan merasa semua aneh.


"Pasti kamu mengira nyonya Zakaria menjual Leony kan,ya awalnya aku juga pernah mengira seperti itu,tapi ternyata perkiraan ku salah,Leony adalah karyawan kesayangan nyonya Zakaria,jadi setiap tamu yang datang kemalaman kesini,nyonya Zakaria selalu menyuruh Leony untuk memijatnya di rumah tamunya,begitulah Meeta,jadi kamu tidak usah khawatir lagi,"


Puspa berhasil menenangkan Meeta dengan penjelasannya,meski perasaannya masih meyakini ada yang tidak beres dengan nyonya Zakaria dan Leony, namun Meeta berusaha menepis semuanya dengan berpikir positif.


Mereka berdua pun kemudian istirahat,


Sepanjang malam Puspa memikirkan pria yang telah memberinya uang banyak tadi.


pria berwajah oriental,dan terlihat sangat baik dan ramah,meski pada akhirnya dia terlihat sombong,namun dia meyakini jika pria itu adalah pria baik.


"Siapa dia,mengapa dia baik kepadaku"


Tanya hati Puspa.


Sampai Puspa terlelap,akhirnya pria itu masuk kedalam mimpinya.


Pria itu melambaikan tangannya dan tersenyum padanya.dia terlihat sangat tampan namun sesaat pria itu menghilang seiring kedatangan pak Sudrajat.


Di dalam mimpi pak Sudrajat terlihat sangat marah kepada Puspa, dia menyiksanya dengan sangat kejam,dia memukul Puspa sampai berdarah.


Dan akhirnya Puspa pun terbangun dari mimpinya.


"Tidak..."


teriak Puspa kala terbangun dari mimpinya.


"astagfirullah mimpi apa aku ya Allah"


ucapnya gelisah akan mimpi yang baru saja menghiasi tidurnya.

__ADS_1


Bak mandi keringat,tubuh dan kepalanya begitu basah sebab mimpi tersebut.


Nafas nya terasa sangat berat,Puspa kemudian melihat jam di handphone nya,waktu menunjukan pukul 02 malam waktu Singapura,dia tidak bisa melanjutkan tidurnya,dia terlalu takut akan mimpi buruk yang telah membangunkan tidurnya,


__ADS_2