
Puspa yang kini benci pada Zulham tidak mau mendengar semua perkataan yang keluar dari mulutnya, setiap Zulham berkata apapun padanya mengenai Madina, Puspa selalu memalingkan wajahnya.
"Saya mohon pak, ijinkan saya untuk ikut mencari anak saya"
Kata Puspa pada polisi.
***
Keesokan harinya, pencarian Madina dan Zamrun pun kembali dimulai. Kali ini Puspa ikut mencari dengan polisi turun langsung kedalam jurang, meski beresiko, namun dia tetap memaksa.
Madina kala itu masih tertidur, sedangkan Zamrun yang kini mulai merasa lapar, coba mencari sesuatu yang bisa di makan, dia mengingat kemarin dirinya dan Madina berhasil menemukan daun pisang, Al hasil Zamrun pun kembali melihat apa ada buah pisang yang matang untuk bisa mereka makan.
Dan benar saja, pisang liar tumbuh tidak terlalu tinggi, sehingga Zamrun dengan mudah menarik dan memetiknya untuk makan pagi ini.
Dan saat Madina membuka mata, dia melihat ada pisang dan buah kelapa di hadapannya.
"Ayah, apakah semua ini ayah yang dapatkan?"
Tanya Madina dengan senyum bahagia, karena akhirnya ada makanan yang bisa mereka makan meski hanya sebuah pisang dan kelapa.
Zamrun pun tersenyum dengan mengikat tangan dan dadanya dengan kain agar tulang yang retak di punggungnya tidak terlalu sakit dia rasakan.
__ADS_1
Zamrun kali ini sudah tidak memakai baju, Madina pun mengembalikan jaket miliknya pada Zamrun.
"Ayah sedang terluka, maka pakailah jaket ini, Madina sudah merasa lebih baik, sekarang ayah yang lebih membutuhkan jaket ini, nanti luka ayah semakin parah"
Zamrun memeluk Madina, dia terharu dengan semua yang Madina ucapkan padanya,
"Terimakasih Puspa, kamu luar biasa mendidik anakku"
Bola mata Zamrun berkaca-kaca menahan air mata yang hendak menetes.
Kini keduanya makan bersama dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan sederhana yang membuat hati Zamrun merasa menjadi manusia yang paling bahagia di seluruh dunia.
...
"Tapi ayah jangan gendong Madina lagi ya, Madina tidak mau luka di punggung ayah semakin parah, biar Madina berjalan disamping ayah, ayah tidak akan melepaskan tangan ayah kan?"
Zamrun tersenyum dengan semua perhatian Madina padanya.
"Tidak akan nak, mana mungkin ayah melepaskan genggaman tangan ayah pada anak ayah sendiri?"
Sepanjang jalan mereka banyak bicara kesana kemari, tak jarang keduanya melempar senyum dan tawa dengan semua cerita yang keluar dari masing-masing.
__ADS_1
Di pertengahan jalan, Madina melihat ada pohon mangga yang sangat berbuah lebat.
Dia ingin sekali buah mangga itu. Akhirnya Zulham coba melempar batu pada buah mangga yang ingin mereka makan, sebuah permainan kecil Zamrun di desanya melempar buah mangga dengan batu, maka Zamrun pun terlihat lihai melakukan semua itu.
"Yeay ayah hebat..."
Dengan gembira, Madina bersorak riang.
Keduanya pun sejenak beristirahat untuk memakan buah mangga, disaat keduanya menikmati buah mangga tersebut, terdengar suara air mengalir samar-samar dari arah belakang Madina.
"Apa kamu dengar itu nak?"
Tanya Zamrun pada Madina.
Madina tidak mengerti dengan apa yang Zamrun tanyakan padanya. Karena dia sedang asik dengan buah mangganya itu.
***
Di Singapura, kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Zamrun sudah sampai ditelinga nyonya Zakaria.
Dia sangat terkejut.
__ADS_1
"Tidak boleh, dia tidak boleh tiada, karena jika dia sampai tiada aku tidak akan pernah mendapatkan apapun darinya, aku masih memegang rahasia besar untuknya"
Ucap nyonya Zakaria yang terkejut akan kabar kecelakaan Zamrun.