Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Lilis


__ADS_3

Puspa berlari secepat mungkin sambil membawa Madina dia terus menangis ketakutan,


Dia bingung harus pergi kemana,dia harus bersembunyi dari kejaran David yang ingin melenyapkannya.


"Diam dulu sebentar ya nak,kita harus sembunyi dulu agar kita tidak ketahuan "


Ucap Puspa pada Madina meminta dan membujuk agar Madina diam dan tidak menangis lagi.


Puspa berusaha menenangkan suasana hati seorang bayi yang sangat luar biasa membuat kesabaran kita hampir habis,


Namun untunglah, Madina seakan paham jika saat ini kondisi mereka sedang dalam bahaya,hingga akhirnya Madina pun diam dan menghentikan tangisnya.


Puspa pun lari kedalam hutan dan bersembunyi di balik pohon besar,berharap David tidak akan bisa menemukannya.


Napas Puspa begitu sangat berat,keringatnya bercucuran,Puspa sangat khawatir akan nasib Madina yang hendak di ambil paksa oleh david.


Puspa baru tahu jika ternyata David adalah orang suruhan ayahnya Madina untuk membawanya kembali padanya.


Namun Puspa tidak mau dan tidak akan pernah memberikan Madina pada siapapun,


Karena Madina kini sudah menjadi bagian dari hidupnya.manjadi jantung hatinya.


Madina sudah Puspa anggap sebagai anak kandungnya sendiri,meski belum pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.


Saat Puspa dan Madina bersembunyi,terdengar suara langkah kaki menuju ke arahnya,


"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku Puspa,aku akan melenyapkan mu"


Teriak David mencari keberadaan Puspa yang sedang bersembunyi.


Mendengar ancaman dari David,perasaannya semakin tidak menentu,Puspa coba kembali berlari menghindari kejaran David yang kian dekat dengan nya.


Namun suara langkah Puspa terdengar oleh David sehingga dia pun melihat dan kembali mengejar Puspa.


"Mau lari kemana kamu Puspa,kau tidak akan selamat kali ini?"


Ucap David dengan senyum licik nya terus mengintai Puspa dan Madina.


Langkah Puspa semakin cepat dengan sesekali melihat ke belakang,


David begitu jahat,dengan membawa senjata api,David terlihat seperti monster yang hendak memburu mangsanya.


David semakin dekat dengan Puspa,hingga akhirnya dia terjatuh karena tersandung batu.


"Ah..."


Madina pun menangis karena terkejut,


Kini David pun tepat berada di depan Puspa dan Madina ,David sudah siap membidik Puspa dengan senapannya.


"Jangan lakukan ini David aku mohon"


Ucap Puspa pada David meminta dia untuk tidak merebut Madina darinya.


"Jika kau ingin selamat,berikan Madina padaku maka aku akan melepaskan mu"


"Tidak,aku tidak akan memberikan Madina padamu"


Tangis Madina semakin menjadi kala melihat Puspa yang sangat ketakutan melihat David.


Puspa terus mundur menghindari David,


Namun ternyata langkahnya berakhir tepat di tepi jurang,

__ADS_1


"Kau sudah tidak punya pilihan lain,berikan Madina kepadaku,maka kamu akan selamat,namun jika tidak,maka maut mu akan berakhir diantara peluru dan jurang itu"


Ucap David kembali mengancam Puspa.


Puspa melihat ke belakang,langkahnya memang berada tepat di tepi jurang yang siap menelannya.


"Ya Allah tolong lindungilah hamba ,"


Pikirannya pun menerawang jauh,Puspa berharap sebuah keajaiban akan datang menghampirinya.


Namun harapan tinggallah harapan,saat Puspa lengah,David berhasil meraih tangan Puspa dan menariknya,dia langsung merebut Madina dari tangan Puspa.


Puspa yang terkejut coba melawan David untuk mengembalikan Madina kepadanya.


Hingga akhirnya dia terjatuh dan seketika David menarik pelatuk senjatanya tepat di kepala Puspa.


"Dor..."


Satu tembakan terdengar jelas oleh Madina kecil,dia menangis kencang melihat Puspa yang terkapar tak sadarkan diri karena peluru yang di tembakan David padanya.


David pun tersenyum menang karena berhasil melenyapkan Puspa dan membawa Madina


"Tidak..."


Teriak Nina terbangun dari mimpinya,keringat dingin bercucuran,perasaannya tidak tenang,Nina begitu teringat akan Puspa,hingga akhirnya dia sadar saat terbangun dia sudah ada di terminal Tasik kota.


"Astagfirullah dimana ini,mengapa aku kesini?"


Nina tidak ingat jika kemarin dia terburu-buru naik bus karena takut David melihatnya .


"Aku harus mencari keberadaan Puspa dan Madina,entah kenapa perasaanku sangat yakin jika Puspa dan Madina masih hidup"


Ucap Nina dengan penuh keyakinan jika mereka memang masih hidup.


Keesokan paginya,Puspa yang sudah terbiasa bangun di sepertiga malam pergi ke kamar mandi untuk berwudhu,dan melanjutkan dengan solat tahajud nya.


Bu Fatimah ikut terbangun karena suara keran air di kamar mandi,


Dia melihat Puspa berdoa dengan begitu khusu kepada Allah,dengan penuh linangan air mata Puspa berdoa dan bersujud,


Entah apa yang Puspa pinta dari sang pencipta,namun melihat air mata yang menetes di akhir doanya membuat Bu Fatimah menitikkan air mata tanpa dia sadari.


Bu Fatimah merasa ikut terbawa suasana hati Puspa yang sedang gundah dan sedih.


"Kenapa aku ikut menangis melihat anak itu menangis?"


Tanya hati Bu fatimah.


melihat Puspa selesai menyelesaikan doa dan solat nya,Bu Fatimah pun segera berlalu,dia tidak mau sampai Puspa melihat dirinya.


...


di pagi hari pak Mamat sudah bersiap untuk mengirim barang dagangannya pada pelanggan,namun ternyata anak bungsu nya datang dari Jakarta,


Lilis yang merantau bersama suaminya datang tanpa memberitahu pak Mamat terlebih dahulu.


"Assalamualaikum pak"


Lilis menyalami tangan pak Mamat,raut wajahnya terlihat sedang sangat kesal.


"Waalaikumsalam,loh neng,kamu kesini dengan siapa?mana suami mu?"


"Jangan tanyakan dia,Lilis capek pak,Lilis mau istirahat"

__ADS_1


tanpa menggubris pertanyaan sang ayah,Lilis pun langsung masuk ke dalam rumah dan hendak masuk ke dalam kamarnya,


Namun dia terkejut karena kamar nya ada yang mengisi,yaitu Puspa dan Madina.


"Sejak kapan bapak dan ibu menyewakan kamar Lilis pada orang lain?"


Dengan nada tinggi dan kasar,Lilis mencela Puspa dengan ucapannya.


Puspa pun terkejut sehingga Madina pun bangun dan menangis,


Puspa coba mendiamkan tangis Madina yang makin keras,


Namun suara Lilis yang terus marah-marah pada kedua orangtuanya membuat Madina tidak bisa tenang.


"Maaf nak,kamu bisa istirahat di kamar ibu dulu sementara, nak Puspa dan bayinya sedang ikut istirahat "


Karena terlanjur marah dan kesal Lilis pun terus menggerutu memarahi Bu Fatimah dan pak Mamat.


Dia masih tidak terima jika kamarnya ada yang mengisi.


Namun setelah Lilis melihat wajah Puspa dengan baik,dia merasa ingat sesuatu.


"Kenapa aku merasa pernah melihatnya,tapi dimana?"


Tanya hati Lilis yang terus melihat Puspa yang sedang menggendong Madina.


Lilis pun coba mengingat kembali.


"Bukankah dia wanita yang datang bersama tuan Zulham malam itu?tapi siapa dia?"


Lilis pun mengingat tentang Puspa.


Ternyata Lilis adalah salah satu asisten rumah tangga di kediaman Zulham.


Lilis pernah melihat Puspa saat dirinya sedang mengurus ibunya Zulham,dia juga yang menyajikan jamuan untuk Puspa waktu itu.


"Tapi kenapa dia ada disini?siapa dia sebenarnya?"


Lilis pun semakin penasaran.


Akhirnya dia pun bertanya pada kedua orangtuanya mengenai Puspa.


Dan akhirnya pak Mamat pun menceritakan jika Puspa hendak pergi dari Bandung karena telah di usir dan dikira wanita tidak baik-baik oleh warga karena mempunyai anak tanpa ayah.


"Oh astaga,jadi bayi itu anak haram?"


Ucapnya dengan senyum meledek.


Pak Mamat pun memarahi Lilis karena telah berucap tidak baik tentang Madina.


"Kamu jangan bicara seperti itu nak,itu tidak baik?"


"Loh memang benar kan pak,anak yang tidak jelas asal usulnya bahkan tanpa ayah,ya anak haram jatuhnya,Lilis tidak salah kan?"


Puspa coba bersikap tenang untuk semua yang dikatakan Lilis tentang dirinya,namun saat mendengar dia memanggil Madina dengan sebutan anak haram.


Puspa pun tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Cukup mba,saya memang salah karena telah masuk dan tidur di kamar mba,saya minta maaf untuk itu .


Tapi saya tidak bisa terima jika seseorang memanggil anak saya dengan sebutan anak haram,dia bukan anak haram,jika mbak tidak tahu cerita yang sebenarnya,mbak jangan asal bicara,karena nanti bisa jadi fitnah"


Puspa keluar kamar dengan raut wajah yang kecewa dan sedih.

__ADS_1


Dia coba membela dirinya dan Madina,dia tidak mau dihina dan di rendahkan terus menerus oleh Lilis ataupun orang lain.


__ADS_2