Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Tertutup kain putih


__ADS_3

Dalam hati Puspa bertanya-tanya apa mungkin Zulham datang kemari? Tapi kemana dia?


Kenapa dia tidak menemuinya?


Banyak sekali pertanyaan di benaknya mengenai Zulham.


Namun saat Puspa hendak menemui supir Zulham, dia kembali teringat jika harus ke mushola untuk melakukan solat sunat meminta keselamatan untuk Madina kepada Allah.


"Biar nanti aku temui mereka dan menanyakan keberadaan Zulham?"


Puspa pun kembali menuju masjid,


Suasana mushola sangat sepi, sehingga Puspa bisa dengan leluasa mencurahkan segala kegundahan hatinya kepada sang pencipta.


Semua keresahan akan keselamatan anaknya.


Entah petunjuk apa yang alah berikan padanya, hingga pada sujud terakhir nya, sepintas terlihat bayangan senyuman Zulham,


Puspa pun tidak mengerti apakah karena dia tidak khusu sehingga bayangan Zulham muncul di sujud terakhir nya.


Dalam doa, Puspa terus menyebut nama Madina.


"Ya Allah sang penguasa takdir, hamba tahu, dia bukanlah darah dagingku, tapi hamba sudah menyayanginya ikhlas karena mu, hamba mohon selamatkan lah dia, lancarkan operasinya, dan persatu kan kami kembali, sungguh hanya kepada engkaulah hamba memohon dan meminta"


Dengan linangan air mata, Puspa memohon agar Madina bisa selamat dan kembali padanya, meski hatinya mulai pasrah akan takdir sang ilahi jika memang Zamrun meminta Madina untuk ikut bersamanya.


"Zulham kamu dimana? Saat ini aku sangat membutuhkanmu"


Ucap Puspa yang rindu akan sosok Zulham yang selalu mendengarkan keluh kesahnya tentang Madina.


Ingin sekali Puspa menceritakan semua kecemasannya akan Madina pada Zulham, karena hanya dia yang bisa mengerti dan memahaminya.


Tapi kini setelah pertengkaran keduanya, jarak diantar mereka memang sedikit renggang,


Puspa pun berniat ingin menemui supir Zulham dan mencarinya.


"Aku harus bertemu dengannya? Aku harus meminta pendapatnya mengenai Madina dan Zamrun, karena hanya dia yang akan memberiku solusi yang tepat"


Pikir Puspa akan Zulham.


Puspa pun bergegas menuju mobil Zulham, disana masih terlihat supir Zulham sedang menunggu tuannya,


Puspa pun menyapa supir itu dan menanyakan keberadaan Zulham


"Mas ini supirnya Zulham kan? Dimana dia sekarang?"


Tanya Puspa langsung menanyakan keberadaan Zulham.


Belum sempat supir menjawab, Puspa melihat anak buah Zulham yang lain mendorong ibunya Zulham yang menaiki kursi roda.


"Itukan ibunya Zulham? Jadi bukan Zulham yang datang kemari?"


Tanya hatinya saat melihat ibu Zulham menuju ke arahnya.


"Nak Puspa, disini juga?"


Tanya ibunya Zulham pada Puspa.

__ADS_1


Puspa tersenyum dan mencium tangan ibunya Zulham dia membantunya masuk kedalam mobil,


Puspa sempat bertanya sedang apa ibunya ada disini? Dan ternyata dia habis menjenguk Zamrun, ibunya datang kesini sendiri ditemani anak buah Zulham, karena Zulham pergi entah kemana? Ibunya juga tidak tahu kemana dia pergi?


"Apa? Zulham pergi?"


Puspa sangat terkejut dengan kabar tentang Zulham,


Dia ikut berpikir kemana Zulham pergi? Apakah dia marah karena Puspa membenci dirinya.


Puspa pun kini mulai mencemaskannya, belum selesai rasa khawatir akan Madina, kini kekhawatirannya bertambah dengan hilangnya Zulham.


Puspa bingung harus berbuat apa?


Ponsel Puspa pun berdering, seseorang meneleponnya dari dalam rumah sakit memberitahu jika operasi Madina selesai.


Dengan segera Puspa pun menuju ruang operasi untuk melihat Madina,


"Maafkan saya Bu, tapi saya harus segera kembali ke dalam, operasi Madina sudah selesai"


Ibunya Zulham pun memeluk Puspa dengan air mata yang menetes.


Puspa heran mengapa ibunya menangis memeluk dirinya. Namun dia tidak mau memikirkan hal itu saat ini, karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Madina.


Akhirnya Puspa keluar dari mobil dan berlalu meninggalkan ibunya Zulham.


Di depan ruangan operasi, Puspa tidak melihat ada Zamrun.


"Apa Zamrun sudah ada di dalam ya?"


Pikir Puspa yang akhirnya diapun masuk kedalam ruangan Madina.


Namun saat kakinya berhasil melangkah, Puspa sangat terkejut melihat Zamrun yang sedang menangis terisak menggenggam tangan Madina.


"Madina, apa yang terjadi padanya? Mengapa Zamrun begitu sangat terpukul menangis menggenggam tangan Madina? Dan jasad di samping Madina? Siapa dia?"


Kata Puspa penuh dengan pertanyaan melihat jasad tertutup kain putih berada di samping tempat tidur Madina.


Dengan perlahan Puspa pun menuju Madina dan Zamrun yang sedang meneteskan air matanya di hadapan Madina? Apa yang sebenarnya terjadi, pada Madina dan Zamrun.


Puspa pun menghampiri Zamrun dari belakang dan membuatnya terkejut.


Zamrun tidak menjawab sama sekali pertanyaan Puspa akan Madina, dia hanya terus menangis mencium tangan kecil Madina.


Puspa pun melihat kondisi Madina, dia nampak biasa saja meski tidak sadarkan diri.


Madina terlihat sedang tertidur dengan oksigen dan infus yang menancap di lengannya.


"Itu siapa Zamrun? Apakah dia pendonor ginjal untuk Madina?"


Tanya Puspa masih belum bisa Zamrun jawab,


Karena penasaran, Puspa pun berjalan menuju jasad tertutup kain putih itu untuk mengetahui siapa yang telah baik hati merelakan ginjalnya untuk Madina.


Puspa pun kini berdiri disamping jenazah, siap untuk membuka penutup wajahnya,


Zamrun melihat Puspa mendekati jenazah tersebut, dia tidak kuasa menghentikan Puspa.

__ADS_1


...


Bak tersambar petir di siang bolong,


Perasaan Puspa hancur berkeping-keping kala melihat jasad tertutup kain putih adalah sosok pria yang selama ini selalu melindungi dirinya dan Madina dari sejak awal mereka berjumpa.


Sosok pria yang selalu mengisi hatinya selama ini tanpa dia sadari,


Sosok pria yang mungkin sudah mulai menumbuhkan rasa cinta dihatinya yang sekian lama mati.


Puspa menangis terisak dengan suara yang dia tahan,


Sesak dia rasa kala tangannya meraih wajah jasad yang dia lihat.


"Hik hik hik"


Dengan tangan menutup mulutnya, Puspa terus menahan suara tangisnya agar Madina tidak terganggu.


"Zulham, tidak mungkin"


Dari belakang Zamrun menyentuh bahu Puspa coba membuatnya kuat dan tabah, walaupun dirinya saat ini sedang rapuh dan hancur.


Puspa menatap wajah Zamrun dan berkata.


"Semua ini tidak benar kan? Dia pasti sedang tidur, katakanlah Zamrun, semua ini tidak benar"


Dengan suara yang memaksa Puspa bertanya.


Zamrun pun memeluk Puspa dan mengatakan jika semua memang benar.


Pria yang telah rela mendonorkan sebelah ginjalnya adalah Zulham,


Dia rela mendonorkan satu-satunya ginjal yang dia miliki untuk Madina, agar dia bisa hidup bahagia dengan keadaan yang sehat dan sempurna.


Sebuah surat pun Zamrun berikan pada Puspa yang sudah anak buah Zulham titipkan padanya.


sebuah surat permintaan maaf dirinya pada Puspa dan permintaannya untuk menjaga Madina dan kakaknya Zamrun.


TAMAT


HAI READER SETIA MADINA BUKAN ANAK HARAM, TERIMAKASIH KALIAN SEMUA SUDAH STAY NUNGGU UP DAN MEMBERI LIKE, KOMENTARNYA, SEMUA SANGAT BERHARGA UNTUK SAYA YANG MASIH PEMULA.


SEMOGA ALLAH MEMBALAS KEBAIKAN KALIAN SEMUA. 🥰


MOHON MAAF MASIH BANYAK KEKURANGAN DAN KESALAHAN DALAM PENULISAN.


EITSSS TAPI JANGAN LUPA YA,


MADINA BUKAN ANAK HARAM AKAN ADA SEASON KE DUANYA.


MASIH INGAT DENGAN RAHASIA NYONYA ZAKARIA YANG BELUM TERUNGKAP?


NANTIKAN KISAH SELANJUTNYA.


"MADINA IS CELLINA "


SAMBIL MENUNGGU UP.. SIMAK KARYA MAHEER QIRANI YANG LAIN YA ..

__ADS_1


HAPPY READING.



__ADS_2