Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
David yang sebenarnya


__ADS_3

"Tidak...Aisyah "


Teriak David yang terpukul saat mengetahui banyak sekali korban yang tertimbun tanah longsor di desa tersebut.


Petugas tim SAR pun meminta David untuk melihat semua korban,karena mungkin ada salah satu dari mereka yang David cari.


David memberanikan diri untuk melihat jasad korban yang di temukan,meski tidak mampu namun dia harus memastikan nya dengan pasti.


Satu persatu David melihat jasad korban .


"10 jasad yang baru kami temukan berada di sebuah rumah,kemungkinan besar mereka tertimpa reruntuhan rumah sebelum tertimbun tanah longsor"


Ucap petugas tim SAR.


"Tidak...wa Hannah"


David menangis histeris kala melihat jasad wa Hannah dan pak Harun.


Seketika ingatannya pun memastikan jika Puspa/Aisyah juga turut menjadi korban bencana itu.


David terpojok di sudut tembok,layaknya kehilangan orang yang dia sayangi,David menangis tersedu dia sangat terpukul dan kehilangan semuanya.


Meski pertemuan dan kebersamaan mereka singkat,namun David merasa berkesan bisa bertemu dengan wa Hannah,pak Harun,Nina,terutama Puspa dan Madina.


Bahkan dalam hati kecilnya,dia pun sudah mengagumi dan menyukai Aisyah/Puspa,karena di matanya Puspa adalah sosok wanita yang baik dan tangguh.


Dia sangat menyayangi Madina seperti anak kandungnya sendiri.


"Mengapa aku baru tahu sekarang Aisyah,jika sebenarnya kami adalah Puspa,Puspa yang selama ini aku cari "


David memuji pribadi Puspa yang baik,


"Madina pantas berada di tanganmu Puspa,tapi mengapa Tuhan sangat cepat mengambil kalian ke pangkuannya"


Ucap David dalam kesedihannya.


"Ah..."


Teriak David.


Disaat yang bersamaan Nina dan Bu asih pun datang ke tempat bencana terjadi,Nina bertanya pada petugas tentang wa Hannah,pak Harun,Puspa dan Madina.


Petugas pun meminta Nina dan Bu asih untuk melihat korban yang baru di temukan di tenda darurat.


Nina dan Bu asih pun masuk dan mulai mencari keberadaan mereka.


Nina berharap keluarganya masih bisa di selamatkan,Nina berharap Madina dan puspa pun juga masih hidup.


Namun saat melihat jasad pak Harun dan wa Hannah,Nina pun menangis, dia tidak menyangka jika keluarganya turut menjadi korban bencana longsor.

__ADS_1


Nina yang tidak menemukan jasad Puspa dan Madina coba menanyakan pada petugas.


"Maaf pak,kedua jasad itu memang keluarga saya,namun saya masih belum menemukan Puspa dan Madina,bayi kecil berusia 1 Tahun kurang lebih,mohon pencariannya ya pak?"


Pinta Nina pada tim SAR.


Nina yang terpukul akan kehilangan semuanya sangat sedih,dia meratap sedih,dia menyesal mengapa dia harus membawa Puspa kesini,apa yang akan dia katakan pada Bu Siti.


Bu Siti sudah sangat sedih karena berpisah dengan Puspa,dan sekarang dia harus menerima kenyataan jika dia benar-benar sudah kehilangan Puspa untuk selamnya.


"Tidak,tidak mungkin,selama jasad Puspa dan Madina belum diketemukan aku yakin mereka pasti selamat,


Ya Allah lindungilah Puspa dan Madina di manapun berada"


Doa Nina pada sang penguasa takdir.


Nina pun berjalan keluar dari tenda,dia melihat sosok David di belakang pohon sedang bicara dengan ponselnya.


"Bukankah itu David,sedang apa dia disana?apa mungkin dia juga mencaritahu kabar tentang Puspa,aku harus menemuinya"


Nina pun berjalan hendak menghampiri David.


"Ya tuan,saya sudah memastikannya sendiri anak tuan yang di bawa oleh Puspa sudah tiada dalam bencana longsor itu,begitupun dengan Puspa sendiri,tim SAR sudah menemukan jasadnya,maafkan saya tuan,saya gagal membawa bayi tuan dan menghabisi Puspa"


Jantung Nina berdegup kencang kala mendengar percakapan David dengan lawan bicaranya di telpon,dia terkejut dan tidak menyangka.jika sebenarnya David berniat menghabisi Puspa.


Nada suara Nina bergetar,dia sangat ketakutan,dengan cepat Nina pun segera pergi dari sana,dia tidak ingin David sampai menemukannya.


"Aku harus pergi dari sini"


Sebelum Nina benar-benar pergi,diapun meminta tim SAR untuk segera memakamkan jasad wa Hannah dan pak Harun, Nina sangat yakin jika Puspa dan Madina selamat dan masih hidup.


"Aku harus mencari keberadaan Puspa sebelum David menemukannya"


Pikir Nina,kemudian dia pergi dari desa itu dengan segera.


Karena terburu-buru takut David menemukannya,Nina asal naik bus yang kebetulan lewat di jalan,


Dia menghentikan bus yang biasa berhenti di depan warung biasa penumpang menunggu kedatangannya.


Nina pun naik bus jurusan Bandung-Tasikmalaya,dia tidak melihat tulisan jurusan bus yang terpampang di jendela,dia hanya ingin segera pergi dari sana sebelum David melihatnya.


Di dalam bus Nina masih memikirkan Puspa dan Madina,


Dia sangat sedih karena sang paman dan uwa nya telah tiada menjadi korban bencana itu.


"Semoga wa Hannah dan wa Harun Husnul hotimah,mereka orang yang sangat baik,surga pasti menunggu kalian wa"


Ucapnya lirih.

__ADS_1


Pikirannya kembali melayang teringat akan perkataan David yang ingin menghabisi Puspa.


"Aku sama sekali tidak menyangka jika David ternyata suruhan ayah Madina untuk mencarinya,ternyata cerita Puspa memang benar,Madina tidak aman berada di Singapura,itu sebabnya dia membawa Madina kesini untuk dia besarkan seperti anaknya sendiri"


Nina memuji keberanian sahabatnya itu.


"Puspa kamu dimana,andai kamu tahu jika David bukanlah orang baik,Dia ingin membunuhmu dan merebut Madina dari tanganmu"


***


Puspa dan Madina kini bermalam di rumah pak Mamat,


Entah kenapa malam ini Madina sangat rewel,dia terus menangis,hingga tangisannya mengganggu tidur pak Mamat dan Bu Fatimah.


"Anaknya kenapa neng?"


Tanya Bu Fatimah.


"Saya juga tidak tahu Bu,tidak biasanya Madina menangis terus seperti ini?"


Puspa yang masih belum berpengalaman mengurus seorang bayi dibuat bingung dengan apa yang terjadi pada Madina.


Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangis Madina.


"Mungkin dia tidak enak badan neng,sini biar ibu yang gendong"


"Tapi...saya tidak ingin merepotkan ibu"


"Tidak apa-apa neng,ibu Fatimah dukun beranak disini,jadi dia tahu apa yang harus dia lakukan pada Madina"


Ucap pak Mamat yang terbangun karena tangisan Madina.


Dan ternyata benar saja,


Madina terus menangis karena badannya sakit,seharian dia terus berada dipangkuan Puspa,tidak ada ruang untuknya untuk tidur merebahkan tubuhnya dengan nyaman.


"Pantas saja Bu,maafkan ibu Madina".


Sebagi dukun beranak,Bu Fatimah bisa melihat pancaran aura Puspa di wajahnya,


Bu Fatimah melihat jika Puspa masih seorang gadis yang suci,dia bisa melihat dari raut wajahnya jika Puspa masih seorang perawan.


Mendengar semua yang Bu Fatimah katakan pada Puspa,pak Mamat pun langsung menjawab membela Puspa.


"Neng Puspa memang masih gadis Bu,ibu pasti akan bangga jika mendengar semua kisah tentang Puspa"


Pak Mamat pun menceritakan semua yang terjadi padanya,menceritakan tentang siapa itu Madina dan mengapa Puspa mau membesarkannya meski dia sendiri harus menanggung resiko difitnah sebagai wanita murahan karena telah melahirkan seorang anak haram yang ternyata itu bukanlah anak kandungnya.


"Jadi ini bukan anak mu nak"

__ADS_1


__ADS_2