Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Surat cinta untuk Bu Siti


__ADS_3

Entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini,Puspa merasa tidak enak hati jika mengingat dirinya berada disini tanpa Nina,


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk"


Harap Puspa pada sang pencipta.


Seperti biasa setelah menjajakan kue dagangannya di depan rumah wa Hannah,sambil menunggu ada yang beli,Puspa membantu membereskan rumah wa Hannah.


Disela aktifitas kesehariannya wa Hannah coba bertanya pada Puspa tentang masa depannya,


Dia bertanya apa tidak terpikir olehnya untuk menikah atau melanjutkan masa depannya tanpa Madina.


Puspa terlihat diam,dia tidak mampu menjawab semua pertanyaan wa Hannah padanya,


Sebagai wanita biasa,tentunya Puspa juga ingin memiliki pendamping hidup yang baik dan mencintainya.


Namun keinginan itu seakan sirna seiring nikmatnya mengurus Madina kecil setiap hari hingga kini sudah mulai tumbuh besar.


"Entah lah wa,Puspa masih belum memikirkan itu,Puspa masih ingin merawat Madina sampai benar-benar dia menjadi anak yang Soleh dan pintar"


"Uwa salut sama kamu neng,tapi tidak apa-apa kan kalau uwa bantu kamu mengurus Madina"


Puspa pun tersenyum,dia justru sangat bahagia jika ada yang membantunya mengurus Madina.


...


Nina pun sampai di Sumedang,setiba disana Nina langsung menuju rumah Bu Siti untuk menemuinya dan melihat kondisi Bu Siti.


"Assalamualaikum "


Salam Nina di rumah pak Sudrajat,suasana rumah pun nampak sangat sepi,


Ternyata Bu Siti ada di dalam kamarnya.


Nina pun masuk kedalam kamar dan melihat keadaan Bu Siti.


Air mata Nina terurai kala melihat Bu Siti yang terbaring lemah tak berdaya di atas kasur,perlahan Nina pun melangkah dan duduk di sampingnya.


"Assalamualaikum Bu Siti,ini Nina Bu"


Bu Siti pun nampak menatap Nina dengan tatapan kosongnya seolah sudah tidak ada cahaya hidup dimatanya.


"Puspa titip salam buat Bu Siti,"


Seketika pandangan kosong itu hilang dan berganti sinar yang cerah di mata Bu Siti,


Mendengar nama Puspa,energi di tubuhnya kini mulai hidup kembali.


"Puspa,dia titip salam buat ibu nak,dimana dia?bagaimana keadaannya?bagaimana juga dengan Madina?"

__ADS_1


Tanya Bu Siti pada Nina dengan girang dan penuh harap yang terbaik tentang Puspa dan Madina.


Nina pun memberikan sepucuk surat untuk Bu Siti yang Puspa titipkan kepadanya.


(Assalamualaikum malaikat tanpa bersayap ku,semoga Allah senantiasa melindungi setiap langkah ibu dan bapak serta kedua adikku,


Semoga Allah senantiasa juga melindungi ku dari segala marabahaya,


Apa kabar Bu,


Puspa sangat rindu sekali dengan ibu dan bapak,


Puspa ingin sekali bertemu dengan ibu,perasaan Puspa begitu sangat gelisah kala mendengar ibu sedang tidak sehat,


Rasanya Puspa ingin sekali menemani dan merawat ibu disana,


Ibu jangan khawatirkan tentang Puspa dan Madina.


Kami disini sehat dan baik-baik saja,karena Puspa di kelilingi orang baik disini.


Ibu juga cepat sembuh ya ..Puspa disini hanya bisa mendoakan semoga ibu bapak dan kedua adik Puspa sehat selalu .


Aamiin.


Salam rindu


Puspa )


Bu Siti pun menanyakan keberadaan Puspa pada Nina,


"Dimana Puspa sekarang nak,bisakah kamu membawa ibu pada Puspa"


Nina terdiam,dia teringat akan pesan Puspa untuk tidak memberitahu keberadaan dirinya pada siapapun termasuk kedua orangtuanya.


"Maafkan saya Bu,Puspa sudah berpesan untuk tidak memberitahu keberadaannya Sekaran,namun dia berada di sekeliling orang yang baik disana,mereka sangat menyayangi Puspa dan menerima Madina"


Jawab Nina meyakinkan Bu Siti jika Puspa benar-benar dalam keadaan yang baik.


"Ibu sangat berterimakasih sekali padamu nak,Puspa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti dirimu,"


Bu Siti memeluk Nina dan berterimakasih padanya karena telah menjaga Puspa.


Nina pun membalas pelukan Bu Siti,dia tidak merasa keberatan telah menolong Puspa,karena memang seharusnya dia melakukan hal itu pada Puspa.


Nina mengetahui semua kebenaran sahabatnya itu,dia tidak akan tega seperti warga lain yang tega mengusir Puspa tanpa bukti yang jelas.


Main hakim sendiri di masa lalu memang sudah lumrah terjadi,apalagi untuk kesalahan yang melanggar norma agama,warga tak akan bisa terima dan diam saja melihat seseorang melakukan kesalahan yang melanggar norma,jika itu terjadi maka warga akan menjadi hakim sendiri untuk menghukum si pendosa.


Dan itulah yang terjadi pada Puspa kemarin saat dirinya di paksa pergi dari kampungnya dan di lempari batu.

__ADS_1


Bu Siti yang kini sudah mengetahui jika keadaan sang putri baik-baik saja mulai berangsur sehat,


Energinya kembali hidup setelah sempat putus asa atas kepergian Puspa.


Bu Siti pun yakin jika putrinya bisa mengurus Madina menjadi anak yang baik dan Solehah meski hanya seorang diri.


***


Sebulan telah berlalu,Nina tak kunjung kembali ke Sumedang karena kesibukannya yang sekarang sudah mulai bekerja di sebuah pabrik,


Sesekali Nina hanya mengirim surat lewat pos untuk Puspa,jika ada rizki lebih,Nina pun selalu menyelipkan lembaran uang untuk keperluan Madina dan puspa,meski Puspa tidak mengharapkan itu.


Kehidupan Puspa bersama keluarga wa Hannah dan pak Harun pun semakin hangat dan bahagia,


Hingga pada suatu hari disaat warung Puspa sedang ramai yang beli.


Bu Elis datang ke desa Kaliwungu, Bu Elis salah satu warga Sumedang yang mengenal Puspa dan ikut andil dalam pengusirannya dulu.


Bu Elis bermaksud untuk menjenguk saudaranya yang juga tinggal di desa yang sama dengan Puspa tinggal sekarang.


Bu Elis sangat terkejut melihat keberadaan Puspa ada di desa saudaranya.


"Puspa kau disini"


Ucap Bu Elis saat melihat Puspa.


Puspa yang mendengar Bu Elis memanggilnya langsung menoleh dan terkejut,


Puspa ingat betul satu persatu wajah semua warga yang mengusirnya dulu.


Puspa pun gemetar karena takut akan kejadian itu terulang kembali,namun dia berusaha untuk tetep tenang.


"Sedang apa kamu disini Puspa,kamu mau menodai kampung ini juga?"


Teriak Bu Elis pada Puspa di depan semua pembelinya.


Sontak semua orang yang sedang berada disana pun penasaran mengapa Bu Elis menuduh Puspa hendak menodai kampungnya.


"Maksud Bu Elis apa ya,ada apa dengan Puspa,dia wanita yang baik,mana mungkin dia menodai kampung ini"


Ucap Bu Maisaroh salah satu pelanggan setia Puspa selama ini.


"Alah ibu-ibu tidak tahu saja kalau sebenarnya Puspa itu wanita kotor,dia sudah menodai dirinya sendiri hanya demi uang,kami saja mengusirnya dari kampung dan hasilnya ya itu anak haram itu,kalau tidak percaya tanya saja Puspa sendiri"


Jelas Bu Elis kepada semua yang ada di warung Puspa,


Semua pun terkejut dan tidak menyangka jika Puspa bisa melakukan semua itu.


"Yang benar Bu Elis,astagfirullah jadi bayi yang kamu urus selama ini adalah anak dari hasil hubungan tidak sah kamu ?"

__ADS_1


Tanya Bu Maisaroh serius pada Puspa.


Puspa menggelengkan kepalanya dan hendak membela diri.


__ADS_2