
4 tahun telah berlalu,
Kini Puspa dan Madina hidup tenang tanpa gangguan siapapun, bersama pak Mamat dan Bu Fatimah, Madina pun menjadi anak yang pintar dan menggemaskan.
"Tahun depan Madina masuk sekolah ya nak?"
Tanya Bu Fatimah pada Puspa.
Puspa tidak menyangka jika anak yang dia bela sepenuh hati, kini sudah beranjak besar, Madina sudah mulai banyak bertanya apa ini? Dimana? Kenapa? Dan lain sebagainya.
Puspa pun teringat akan sang ibu, Nina dan keluarga wa Hannah di Cimahi, karena sampai saat ini dirinya masih belum tahu jika wa Hannah dan pak Harun sudah tiada karena bencana longsor besar waktu itu.
Puspa pun mulai mencari informasi kontak untuk menghubungi ibunya, karena sudah lama sekali dia tidak mendengar kabarnya.
"Nina, ya aku harus coba hubungi Nina"
Pikir Puspa kala itu coba mencari nomor Nina di buku kecil miliknya.
Nomor Nina tertulis di buku kecil itu, namun mungkin karena sudah terlalu lama, nomor Nina sudah tidak aktif lagi.
Akhirnya Puspa pun memutuskan untuk mengirim surat via pos untuk mengabari kedua orangtuanya.
"Bu, Madina ingin sekolah sama ka rani?"
Madina kecil sudah meminta ingin sekolah pada Puspa, merasa terharu akan permintaan sang anak, Puspa pun tidak menunggu apapun untuk memutuskan itu semua.
Saat Puspa mendengar Madina meminta ingin sekolah, dia langsung masuk ke dalam kamar untuk membawa uang pendaftaran.
"Ayo nak, kita pergi ke sekolah, ibu akan daftarkan kamu ke sekolah yang sama dengan ka Rani, oke"
Jawaban Puspa sangat membuat Madina merasa bahagia.
"Hore Madina mau sekolah, hore hore"
Madina bersorak gembira, layaknya seorang anak yang baru mendapat hadiah, Madina berlarian mengelilingi Puspa dengan tawa gembiranya.
Pak Mamat dan Bu Fatimah datang, mereka ikut bahagia melihat Madina gembira.
"Apa yang membuat cucu kakek ini sangat bahagia?"
Tanya pak Mamat sambil menggendongnya, dengan memberikan sebuah biskuit pak Mamat mencium Madina kecil.
Puspa pun mengatakan jika Madina sangat gembira karena dirinya akan sekolah,
"Oh Alhamdulillah, jadi Madina mau sekolah ya, biar nanti nenek belikan tas dan sepatunya ya?"
Ujar Bu Fatimah yang sikut gembira dan antusias dengan sekolah Madina.
Puspa sempat menolak tawaran Bu Fatimah untuk membelikan barang sekolah untuk Madina, karena dia juga bisa memberikan nya, namun Bu Fatimah tidak mau menerima penolakan Puspa, karena bagiamana pun, Madina sudah dia anggap seperti cucunya sendiri.
Puspa pun mengalah, dia tidak bisa berdebat dengan orang yang menyayangi Madina.
Merekapun sangat gembira.
...
__ADS_1
Puspa dan Madina kini tiba di sekolah yang di inginkan Madina, letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, cukup dengan berjalan kaki, 10 - 15 menit juga sudah sampai.
Puspa masuk ke ruangan pendaftaran,
"Nama anaknya siapa Bu?"
"Ameena nur Madina, panggilannya Madina"
Sepintas ingatan Puspa tertuju pada Zulham yang membantunya memberi nama itu untuk Madina.
"Zulham, bagaimana keadaan kamu sekarang, andai kamu tahu jika Madina sudah besar?"
Ucap hati Puspa kala teringat akan Zulham.
"Ya, kemudian nama ayahnya?"
Pertanyaan Bu guru yang membuat jantung Puspa berdegup tidak beraturan,
Puspa seketika terdiam kala mendengar pertanyaan seputar nama ayah.
Apa yang harus dia katakan pada Bu guru.
"Ayah itu apa Bu?"
Tanya Madina polos pada sang Bu guru.
Mendengar pertanyaan itu, Bu guru pun tersentuh dan mengerti dengan keadaan Madina dan Puspa, sehingga Bu guru tidak melanjutkan untuk mengisi formulir pendaftaran Madina.
"Baiklah kalau begitu, Madina bisa langsung masuk saja ke kelas ya, tapi jangan sama mama nya, Madina harus belajar mandiri oke"
"Maafkan saya Bu, Madina tidak tahu mengenai ayahnya"
Puspa meminta maaf pada Bu guru untuk kekurangan pengisian formulir Madina.
Bu guru yang mengira jika ayah Madina sudah tiada, tidak keberatan dengan semua yang Madina tanyakan kepadanya tadi.
" Ya Bu Puspa, saya mengerti, adakalanya kita harus diam atau bahkan berbohong demi menjaga perasaan anak kita, "
Ucap Bu guru yang bernama Bu Ria.
"Baiklah kalau begitu, ibu bisa tanda tangan disini, dan melengkapi semua identitas Madina yang terlewat ya Bu, saya harus pergi ke kelas sebentar, jangan lupa isi saja dengan nama ayahnya "
Lanjut Bu guru yang kemudian berlalu meninggalkan Puspa di ruang pendaftaran.
Puspa kembali dilema untuk mengisi nama ayah Madina, nama siapa yang harus dia tulis di kolom ini, tidak mungkin dia mencantumkan nama dirinya di kedua kolom ibu dan ayah.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?"
Puspa pun akhirnya menulis nama Zulham di kolom nama ayah Madina.
"Maafkan ibu nak, ibu terpaksa berbohong kepadamu hanya untuk mengisi pertanyaan ini, "
...
Puspa melihat Madina terlihat sangat gembira saat masuk kedalam kelas, ibu guru yang ramah dan bersahaja, membuat Madina semakin betah belajar disana.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa menjadi anak yang pintar nak"
Harapan Puspa untuk Madina.
Puspa menunggu di luar bersama orangtua yang lain, karena mereka tidak bisa ikut masuk ke kelas, ditakutkan sang anak tidak bisa belajar mandiri.
Namun mereka yang masih malu dan takut ada juga yang masih ditemani orangtuanya.
"Anaknya baik ya, baru masuk langsung mau masuk ke kelas sendiri"
Tanya Bu Fitri salah satu wali murid.
Puspa pun tersenyum dan bangga pada Madina.
Jam pulang sekolah pun tiba, saatnya semua murid pulang, sebagian wali murid mulai berdatangan untuk menjemput anak-anaknya.
"Ibu..."
Teriak Madina dengan senyum cerianya.
Puspa pun langsung memeluk Madina.
"Bagaimana sekolahnya nak?"
"Madina sangat suka sekali Bu, Madina punya banyak teman baru, ibu guru baru, nyanyi bersama, joget bersama pokok nya seru Bu"
Jawab Madina yang tidak bisa menghentikan jawabannya karena saking bahagia dan menikmati masa belajarnya.
Melihat Madina yang antusias untuk belajar, akhirnya Puspa pun mengajak Madina untuk pergi ke pasar membeli perlengkapan sekolah nya, seragam, alat tulis dan lainnya.
"Asyik ye kita mau pergi ke pasar ya Bu, Madina mau beli boneka baru Bu, baju baru sama sendal baru ya Bu"
Jiwa anak kecil yang kegirangan di ajak pergi ke pasar pun muncul di jiwa Madina yang banyak menginginkan ini itu, Puspa pun hanya membalas dengan senyum ikhlas nya.
Merekapun akhirnya bergegas menuju pasar, namun saat mereka melangkah, tiba-tiba terdengar dari belakang memanggil nama Puspa.
"Puspa"
Nada suara yang tidak asing di telinga Puspa, namun entah siapa, Puspa pun coba menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya, namun tidak ada seorangpun.
"Apaan aku ini, mana mungkin disini ada yang mengenalku,".
Ucap hati Puspa kala tidak menemukan orang yang memanggilnya.
Dan untuk sekali lagi
"Puspa "
Suara langkah kaki pun terdengar mendekati mereka.
Dan saat Puspa membalikan badannya, dia sangat tidak percaya jika seseorang yang dia tulis di formulir Madina, kini sedang berdiri di hadapannya.
"Kau.."
"Apakah aku tidak mimpi? Apakah ini benar dirimu Puspa"
__ADS_1
Tubuh tinggi itupun kini benar-benar berada di hadapan Puspa, lengannya coba memegang bahu Puspa untuk memastikan jika wanita yang ada di hadapannya memanglah Puspa.