Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
operasi Madina


__ADS_3

Zulham pun merasa tidak percaya saat Puspa mengatakan semua kebenaran tentang Zulham padanya.


"Apa, jadi Zulham "


Zamrun pun sepintas teringat akan kejadian sebelum mereka benar-benar jatuh kedalam jurang, memang terdengar suara ledakan di ban belakang, namun dia mengira jika bannya pecah, dia tidak berpikir jika Zulham menembak ban belakangnya hanya untuk membuatnya berhenti dan mengembalikan Madina.


"Saat itu kami mengejar mu, kami takut kamu membawa Madina ke Singapura, itu sebabnya Zulham mengambil keputusan itu, aku tahu Zulham melakukan semua itu untukku dan Madina, tapi aku juga tidak menyangka jika apa yang Zulham lakukan justru membahayakan dirimu dan Madina"


Jelas Puspa pada Zamrun.


Zamrun ingin sekali marah, tapi dia coba menahannya, dia tidak menyangka jika penyebab kecelakaan dirinya adalah adiknya sendiri.


Puspa pun meminta maaf untuk semua kesalahan Zulham padanya.


"Kamu tidak usah meminta maaf, aku memang bersalah, Zulham sudah benar melakukan semua ini untuk kamu dan Madina, tapi kenapa hari ini Zulham tidak datang? Kemana dia?"


Zamrun coba menanyakan dimana Zulham.


Puspa yang justru tidak mengetahui jika Zulham sempat datang kesini pun balik bertanya, kapan Zulham datang kemari? Kenapa dia tidak menemui aku dan Madina?


Zamrun pun terdiam, dia merasa ada yang aneh dengan Zulham.


Suster memanggil Zamrun untuk mengantar Madina ke ruang operasi,


Madina terlihat sangat bahagia, karena sebentar lagi dia akan pulang ke rumah berkumpul lagi bersama ibu dan teman-temannya.


Puspa berdoa semoga operasi Madina lancar, tidak ada hambatan,


Zamrun ikut masuk bersama Madina untuk menemaninya sebentar,


Tanpa terasa Puspa justru menggenggam tangan Zamrun dan mengakan


"Tolong jaga Madina"


Ucap Puspa menggenggam tangan Zamrun dan berpesan padanya untuk menjaga Madina untuknya, tangan Puspa terlihat memohon dengan air mata yang menetes.


Zamrun dibuat terdiam melihat Puspa menggenggam tangan dan memohon padanya, Zamrun menatap Puspa dengan penuh rasa kasih sayang yang tidak sengaja tumbuh.


Zamrun hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab permohonan Puspa.


Zamrun pun merasa ada yang aneh dengannya, perasaannya begitu khawatir, entah apa yang akan terjadi, tapi dia berharap semoga operasinya berhasil.


Saat masuk ke ruang operasi, tempat tidur si pendonor sudah terhalang tirai, sehingga Zamrun tidak bisa melihat siapa pendonor tersebut.


Madina pun mulai mendapat penanganan dan suntikan bius agar dia tidak sadarkan diri untuk sementara,


Zamrun mengusap kepala Madina dan mencium keningnya sebelum keluar.

__ADS_1


"Kamu anak kuat nak, kamu pasti akan kembali sehat"


Bisik Zamrun pada Madina yang mulai terlelap.


Suster pun meminta Zamrun untuk keluar ruangan, namun karena penasaran, sebelum keluar dia berjalan menuju si pendonor, namun selangkah lagi menuju tirai, suster menarik lengan Zamrun dan memintanya agar segera keluar.


"Mohon maaf pak, operasi akan segera dimulai, mohon bapak segera keluar dari ruangan ini".


Zamrun meminta maaf dan akhirnya keluar,


Dan disaat kakinya melangkah, perasaan yang sama kembali terasa, hatinya gelisah dan tidak enak hati, dadanya sesak seakan sesuatu yang buruk akan menimpanya.


"Astaga, aku kenapa?"


Tanya Zamrun memegang sebelah dadanya karena sesak.


Zamrun pun meneruskan langkah kakinya menuju keluar ruangan.


Di luar Puspa sedang berdoa dengan penuh harapan untuk operasi Madina.


Zamrun keluar dengan raut wajah yang gelisah dengan sebelah tangan memegang dadanya.


"Kamu kenapa?"


Tanya Puspa terkejut melihat wajah Zamrun yang pucat,


Zamrun kini berada di dada Puspa, detak jantung Puspa pun berdegup kencang tidak beraturan,


Napasnya sangat kencang,


"Ada apa dengan jantungku?"


Melihat wajah Zamrun yang semakin pucat, Puspa pun segera memanggil sekitar, untuk mencari dokter, namun tidak ada seorang suster pun yang lewat


Puspa coba membawa Zamrun ke tepi untuk duduk terlebih dahulu.


Puspa melepaskan pelukannya dan bertanya apa yang terjadi pada Zamrun?


"Entahlah aku tidak tahu, dadaku terasa sesak dan sakit"


Jawab Zamrun pada Puspa dengan menutup matanya menahan sakit.


Puspa pun berpikir apakah mungkin luka di tubuh Zamrun kembali terasa sakit.


"Tunggu sebentar ya, aku carikan dulu suster"


"Jangan, tidak usah"

__ADS_1


Zamrun memegang tangan Puspa, menahan ya untuk tidak pergi darinya,


"Jangan pergi, aku hanya ingin kamu disini."


Puspa melihat Zamrun yang kesakitan dengan semua jawaban yang dia ucapkan yang meminta Puspa untuk tidak pergi darinya.


Puspa menatap Zamrun dengan perasaan yang aneh,


Zamrun yang kesakitan terus menggenggam sebelah tangan Puspa dengan erat.


Puspa pun kembali duduk disamping Zamrun dan meminta untuk tenang.


"Tarik napas mu dalam, kemudian hempaskan pelan-pelan, teruslah lakukan itu sampai kamu benar-benar merasa tenang"


Ucap Puspa pada Zamrun dengan semua nasihatnya.


Zamrun pun melakukan apa yang Puspa suruh padanya.


Operasi terus berlangsung, Puspa dibuat gelisah dengan keadaan Madina dan Zamrun.


Namun ternyata, setelah melakukan pesan Puspa, Zamrun mulai sedikit lebih tenang, wajahnya pun tidak terlalu pucat seperti sebelumnya.


Zamrun berterimakasih pada Puspa dan tersadar jika dari tadi tangannya terus menggenggam tangan Puspa.


"Maafkan aku"


Ucap Zamrun meminta maaf pada Puspa karena telah menggenggam tangannya.


Puspa pun hanya terdiam.


Keduanya kini kembali mencemaskan keadaan Madina di dalam, bagaimana keadaannya? Apakah operasinya berjalan dengan lancar?


Operasi yang memakan waktu cukup lama, dirasa Zamrun.


***


Puspa pun ijin pergi ke masjid untuk melakukan solat sunat berdoa untuk keselamatan Madina.


Zamrun pun mengijinkan,


"Perasaanku sangat tidak tenang, saya ingin mendoakan Madina langsung kepada sang pemilik kehidupan, saya ingin Madina selamat dan kembali berkumpul bersama, saya pamit pergi ke mushola dulu, jika tidak keberatan tunggu Madina disini"


Ucap Puspa pada Zamrun.


Puspa pun pergi, Zamrun menunggu Madina diluar ruangan operasi dengan keadaan yang masih belum stabil.


Diperjalanan menuju mushola, Puspa melihat ada mobil Zulham terparkir bersama supirnya.

__ADS_1


"Loh bukankah itu mobil Zulham? Tapi dimana dia?"


__ADS_2