Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Mencari pendonor


__ADS_3

Zulham pun teringat saat dimana dirinya mendonorkan sebelah ginjalnya untuk Zamrun 10 tahun yang lalu, dimana Zamrun yang memang terlahir dengan kelainan ginjal yang lemah memaksa dirinya harus rela mendonorkan sebelah ginjalnya agar kakaknya bisa hidup sehat.


Dan berkat ginjal yang di donorkan Zulham lah Zamrun sampai saat ini masih bisa hidup.


Zulham pun berpikir apakah harus dia relakan lagi sebelah ginjalnya untuk Madina.


"Kasihan Madina, dia masih belum tahu betapa indah nya dunia ini, masa depannya masih panjang"


Ucap Zulham teringat akan Madina.


Puspa pun meminta dokter untuk memeriksa ginjalnya, berharap dia bisa menolong Madina.


"Saya mohon dok, siapa tahu ginjal saya cocok dengan Madina, meskipun saya memang bukanlah ibunya"


Dokter pun mengatakan jika memang tipis kemungkinan jika tidak ada hubungan darah akan cocok, tapi untuk menjawab semua rasa penasaran, dokter pun mengijinkan Puspa untuk memeriksakan ginjalnya, apakah cocok untuk didonorkan pada Madina atau tidak?.


"Terimakasih dokter"


Puspa pun segera menuju ruang pemeriksaan.


...


Madina yang kini masih berada di ruang Zamrun pun terus berdoa agar ayahnya bisa secepatnya sadar.


"Ayah cepat sadar ya, Madina rindu dengan ayah?"


Ucap Madina mencium lengannya kembali.


Dan disaat itu pula Madina kembali merasakan sakit di perutnya, dan kali ini dia merasakan sakit yang luar biasa.


"Ah, perut Madina sakit sus?"


Rintih Madina pada suster.


Suster pun segera membawa Madina ke kamarnya untuk di periksa.


Madina pun keluar dari ruangan Zamrun dengan rasa sakit yang menyiksanya,


Setelah Madina berlalu, perlahan Zamrun pun tersadar dan membuka matanya.


Zamrun melihat sinar lampu diatasnya yang menyorot lurus padanya.


"Aku, dimana aku?"


Zamrun memegang kepalanya yang sakit.


Zamrun yang tidak tahu jika saat ini dia berada di rumah sakit pun berpikir, bukankah dirinya berada diambang Kematian setelah ular derik menggigitnya, dan hampir jatuh di tepi air terjun.


"Astaga, apa yang terjadi, mengapa aku tidak mampu mengingat semuanya? Dan dimana Madina, Madina "


Teriak Zamrun saat teringat akan Madina.


Zulham pun datang dan coba Menenangkan Zamrun yang terus memanggil anaknya.


"Tenanglah Zamrun, tenanglah, kamu saat ini sedang berada di rumah sakit,"

__ADS_1


"Tapi dimana Madina, dimana dia?"


Tanya Zamrun masih bersikukuh ingin bangun meski tubuhnya masih tidak berdaya.


Zulham pun mengatakan jika dirinya jangan dulu banyak bergerak karena kondisinya masih lemah,


"Tenanglah aku mohon, jika tidak nanti lukamu akan semakin parah"


Ucap Zulham dengan nada tinggi pada Zamrun memintanya untuk menuruti permintaannya.


Zamrun yang lemah akhirnya mengalah, diapun kembali berbaring dengan sisa tenaga yang ada.


"Madina ,, Madina "


Ucap Zamrun di sela napasnya terus memanggil nama anaknya.


Zulham pun terbawa suasana melihat sang kakak berada dalam keadaan seperti ini.


"Zulham... Aku ingin membahagiakan Madina, apakah tuhan akan mengijinkan aku untuk hidup bersamanya? Aku tidak ingin ada satu orangpun lagi yang memanggil anakku dengan sebutan anak haram. Aku ingin Madina bersamaku Zulham"


Ucap Zamrun pada Zulham dengan sangat cemas meminta Madina untuk hidup bersamanya.


"Aku berjanji, aku akan tinggalkan semua dunia gelap ku demi Madina"


Lanjut Zamrun setengah sadar setelah suster menyuntikan obat penenang kepadanya.


Kemudian Zamrun pun benar-benar tenang, matanya terbuka, namun dengan gerak yang terbatas.


Zamrun menggenggam tangan Zulham memohon kepadanya.


"Tapi biarlah, lebih baik dia tidak tahu, aku tidak ingin kondisinya lebih buruk dengan kabar tentang Madina?"


Pikir Zulham kemudian berlalu meninggalkan Zamrun.


Di ruang pemeriksaan, Puspa harap cemas menanti hasil yang keluar dari dokter,


"Ya Allah berilah keajaibanmu padaku, aku mohon selamatkan lah Madina anakku"


Doa Puspa dengan seluruh air mata yang menetes.


Dokter keluar dengan membawa selembar kertas.


"Bagaimana hasilnya dok?"


Tanya Puspa.


Dengan wajah lesu dan tidak bersemangat, dokter pun mengatakan jika hasil ginjal dirinya tidak cocok dengan Madina.


Puspa pun lemas, mendengar kabar tersebut, dia bingung harus pada siapa dia mencari bantuan.


Puspa tidak terpikir pada Zulham sedikitpun, karena saat ini dia sudah membencinya.


Melihat Puspa sedih dan bingung, Zulham pun tidak tega, karena semua memang salahnya.


"Andai waktu bisa diputar kembali"

__ADS_1


Lirih hati Zulham saat melihat Puspa sedih.


Dokter pun coba menenangkan Puspa dengan memintanya untuk terus berusaha kuat demi Madina,


"Terima kasih dok, saya pasti akan kuat"


Jawab Puspa berterimakasih dengan semua sarannya.


Namun dokter pun mengatakan jika lebih cepat lebih baik untuk segera mendapatkan pendonor yang pas untuk Madina.


Puspa berjalan dengan tertatih menyusuri lorong rumah sakit, dia terus berpikir siapa yang bisa menolongnya saat ini.


Ingin sekali Zulham menghibur dan menenangkan sahabat wanitanya itu, namun tidak mungkin, semua kebencian Puspa padanya sudah terlalu besar, tidak mungkin Zulham bisa mendekatinya kembali.


Melihat air mata yang membasahi pipinya membuat Zulham merasa sakit hati dan ikut bersedih.


...


Suster pun memberitahu Puspa jika saat ini Madina anfal lagi, dia terus mengeluh sakit di perutnya.


"Astagfirullah yang benar sus?"


Mendengar semua kabar tersebut, Puspa pun segera berlari menuju Madina.


"Madina nak, ibu disini sayang, kamu jangan takut ya, kamu pasti akan baik-baik saja, ibu ada bersamamu"


Ucap Puspa pada Madina yang terus memegang perutnya. Puspa coba bersikap tenang agar Madina tidak ikut tegang melihat dirinya khawatir.


Puspa sangat sedih dan tidak tega melihat Madina kesakitan seperti itu, dia bahkan berdoa pada Tuhan biarlah dia yang merasakan sakit itu, asal jangan Madina.


Suster dan dokter memberi Madina obat pereda nyeri untuk meringankan sakit di perutnya sementara.


"Yang sabar ya nak, kamu pasti akan sembuh lagi"


Melihat semua yang terjadi dihadapannya, Zulham pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari hidup Puspa dan Madina, dia tidak ingin melihat mereka sedih lagi, Zulham tidak mau rasa bersalah yang teramat besar dihatinya akan terus dia rasakan.


"Ya keputusanku sudah bulat, aku harus meninggalkan mereka, dan biarkan mereka hidup bahagia"


Ucap hati Zulham saat melihat Puspa yang khawatir akan Madina yang kesakitan.


Zulham pun akhirnya pergi dari rumah sakit tanpa bertemu dengan Madina dan Puspa terlebih dahulu, Zulham cukup tahu keadaan mereka dengan melihatnya dari kejauhan, keadaan yang membuat hatinya pilu.


***


Keesokan harinya, seperti biasa Madina sudah terbangun bersama ibunya, karena mereka sudah terbiasa sholat subuh di rumah,


"Bu, apakah boleh Madina menemui ayah?"


Tanya Madina ingin melihat keadaan Zamrun.


Puspa pun tidak bisa menghalangi dan menolak permintaan Madina, akhirnya Puspa mengantar Madina menuju Zamrun.


Puspa mendorong kursi roda Madina dengan pelan, Madina pun banyak bertanya pada ibunya itu mengenai Zamrun.


...

__ADS_1


__ADS_2