Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Mulai terjalin ikatan batin


__ADS_3

Setelah sekian lama Zamrun berjalan menyusuri dalamnya hutan, mereka tidak menemukan ada tanda tanda kehidupan, hingga akhirnya setelah Zamrun merasa letih, mereka pun beristirahat untuk berpikir bagaimana mereka bisa berteduh malam ini dengan aman.


"Kita istirahat dulu ya nak?"


Pinta Zamrun pada Madina yang masih dia gendong.


Madina pun tidak tega jika terus memaksa Zamrun untuk mencari jalan keluar dari jurang itu, hingga akhirnya Madina pun meminta Zamrun untuk menurunkannya.


"Ayah istirahat saja, Madina bisa berjalan ko".


Zamrun dan Madina duduk di bawah pohon yang cukup rindang, cukup aman untuk berteduh jika seandainya hujan turun.


"Maafkan ayah nak, ayah belum bisa membawamu pulang dari sini"


"Tidak apa apa ayah"


Jawab Madina tersenyum padanya, disaat mereka duduk berdua, Madina melihat banyak sekali batang kayu besar dan ranting pohon yang sudah kering berserakan di tanah,


Madina pun bangkit dan coba berjalan menahan rasa sakit di perut nya untuk memungut kayu tersebut.


"Kamu mau kemana nak?"


Tanya Zamrun yang merasa cemas saat melihat Madina berjalan meninggalkannya.


Madina pun berkata jika dirinya hanya akan mengumpulkan ranting untuk membuat api unggun, agar tubuh mereka tidak terlalu dingin,

__ADS_1


Zamrun pun memperhatikan Madina dari kejauhan, karena dia takut jika sesuatu terjadi padanya.


Setelah beberapa ranting terkumpul, Madina coba cari cara untuk membakarnya,


"Biar ayah yang menyalakan apinya nak, karena ayah membawa ini"


Zamrun mengeluarkan gasolin yang seperangkat dengan bolpoin yang selalu menempel di saku bajunya .


Keduanya pun kini bekerjasama menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


Zamrun juga melepaskan jaketnya dan memakaikan pada Madina agar dia bisa merasa lebih hangat.


"Tapi ayah, nanti tubuh ayah dingin?"


Ucap Madina saat Zamrun memasangkan jaketnya.


"Ya kan? Madina mau kan memeluk ayah?"


Madina pun melangkah dan segera memeluk Zamrun dengan erat, ikatan batin diantara keduanya pun kini mulai terjalin satu sama lain.


Zamrun sangat menikmati masa-masa ini dengan Madina, dia sangat bahagia meski tubuhnya terluka.


"Aku berjanji nak, aku akan selalu menjaga dan melindungi mu apapun yang terjadi"


Ucap Zamrun dalam hatinya saat Madina memeluknya erat.

__ADS_1


***


Melihat ada daun kelapa tua kering yang jatuh tak jauh dari tempat mereka duduk, memberikan Madina ide untuk membuat saung kecil agar mereka bisa berteduh untuk sementara.


"Ayah coba lihat itu, ada banyak daun kelapa kering disana, bagaimana jika kita membuat saung untuk berteduh, ibu pernah mengajari Madina cara untuk membuat saung dari daun kelapa, mudah ko ayah"


Mendengar semua ide dari Madina, Zamrun mulai memuji Puspa akan asuhan dan didikan pada anaknya yang berhasil menjadikan Madina anak yang baik dan pintar.


Zamrun bahkan mulai berpikir, apakah pantas dia memisahkan Madina dengan Puspa yang selama ini sudah membesarkan anaknya.


"Baiklah nak, ayo kita bawa daunnya ya, sebelum hari semakin gelap"


Mereka berdua kini kembali bekerja sama membuat saung alakadarnya dari bahan alam yang tersedia disana, batang kayu yang berserakan menjadi penopang daun kelapa agar kuat dan kokoh meneduhkan mereka.


***


Sementara Zulham kini menjadi tahanan rumah atas laporan yang Puspa berikan pada polisi, meski berat dia melakukan semua ini, namun Puspa terlanjur bicara jujur pada kepolisian hingga akhirnya polisi pun menahan Zulham dengan syarat harus wajib lapor 24 jam sehari.


Setiap saat, Puspa selalu bertanya pada polisi, bagaimana perkembangan kecelakaan yang sedang mereka selidiki? Dimana Madina dan Zamrun? Kalaupun mereka sudah tiada? Dimana jasadnya.


"Bagaimana pak? Dimana mereka?"


Tanya Puspa pada polisi.


"Aku yakin mereka pasti masih hidup pak, segera cari mereka, batinku mengatakan jika mereka saat ini sedang menunggu pertolongan kita"

__ADS_1


Ujar Zulham pada polisi.


__ADS_2