Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
ejekan untuk Madina


__ADS_3

Setelah lelah bermain dengan Zulham, Madina pun akhirnya pulang dengan membawa banyak bingkisan pemberian darinya.


Zulham pun pamit pada Puspa untuk kembali ke Jakarta, meski dirinya masih ingin bersama mereka, namun Zulham harus kembali, karena ibunya disana lebih membutuhkannya.


"Aku mohon, pertimbangkan kali masukanku tadi Puspa, kau berhak menata masa depanmu, ini bukan sebuah kejahatan, "


Zulham kenali mengingatkan Puspa untuk menitipkan Madina ke panti asuhan. Puspa pun di buat dilema dengan semua yang dia katakan.


Sebagai wanita biasa, tentunya puspa juga mempunyai mimpi dan cita-cita yang ingin dia raih dalam hidupnya, Puspa pun mulai berpikir dengan semua yang Zulham katakan kepadanya.


"Bu ini simpan dimana?"


Tanya Madina membangunkan pikiran Puspa yang sedang kosong.


Puspa yang tersadar akhirnya memeluk Madina dengan erat, tanpa terasa air matanya pun menetes membasahi pipinya.


"Ibu kenapa? Mengapa ibu menangis?"


Madina mengusap air mata Puspa yang terjatuh.


Puspa pun dibuat semakin haru kala tangan kecil itu coba mengusap air matanya dan meminta Puspa untuk tidak menangis.


"Astagfirullah apa yang sedang aku pikirkan ya Allah, tega betul jika aku membiarkan anak sekecil Madina aku titipkan di panti asuhan, tidak tidak akan "


Ucap hati Puspa berperang melawan egonya yang teringat akan masa depannya.


Puspa pun mengatakan jika dirinya tidak apa-apa, Puspa hanya sedang sedih dan ingin di peluk Madina.


Merekapun saling tersenyum dan berpelukan.


***

__ADS_1


Setelah pertemuan dengan Zulham, hari demi hari Puspa lewati dengan terus melawan egonya, Puspa harus terus menguatkan keyakinannya agar dia memikirkan lagi tentang menitipkan Madina ke panti asuhan.


Seperti biasa, setiap pagi setelah puspa selesai membuat kue untuk dia jual ke pasar dan warung di sekitarnya, dia mengantar Madina sekolah.


"Kita sudah sampai nak, belajar yang rajin ya sayang, nanti ibu jemput lagi, ingat ya, jangan pulang sebelum ibu datang, oke"


Ucap Puspa pada Madina yang hendak masuk sekolah.


Madina yang manis pun berkata


"Ya Bu, Madina akan tunggu ini disini"


Puspa pun kembali ke rumah untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai, disamping berjualan kue, untuk menyambung hidup dan biaya sekolah Madina, Puspa juga menerima jasa cuci dan setrika baju, dan sekarang ada 5 orang yang memakai tenaganya.


"Puspa, apa kamu tidak lelah seharian bekerja dan malam kamu harus menyiapkan dagangan untuk kamu jual di pagi hari?"


Tanya Bu Risma salah satu pengguna jasa setrika bajunya Puspa.


Puspa hanya tersenyum, dia sebenarnya lelah, namun apa dayanya, sebagai singel mom dia tidak bisa mengharapkan pemasukan dari pihak lain selain dari hasil tenaganya sendiri.


Bu Risma mulai menggoda Puspa dengan tawarannya.


"Terimakasih Bu Risma, ini bajunya sudah selesai, saya pamit pulang ya"


Tanpa menjawab pertanyaan Bu Risma, Puspa pun berpamitan.


Bu Risma dan warga yang lainnya sudah hapal betul dengan sikap Puspa yang seperti itu, Puspa tidak akan pernah menjawab atau meladeni siapapun yang bertanya tentang kehidupannya ataupun menjodohkannya dengan seorang pria.


Puspa pun berlalu dari rumah Bu Risma setelah bajunya setrikaannya sudah selesai.


"Puspa Puspa, padahal kamu wanita baik dan cantik, banyak sekali pria yang ingin dengan kamu, tapi kamu tidak pernah terbuka dan mau membuka hatimu untuk yang lain"

__ADS_1


Ujar Bu Risma dalam hati tentang Puspa.


...


Di sekolah, guru Madina yang saat itu sedang menerangkan tentang keluarga coba bertanya pada setiap murid tentang nama ibu dan ayahnya masing-masing.


"Haikal, siapa nama ayah dan ibumu?"


Hampir semua murid menjawab pertanyaan sang guru dengan benar.


Namun saat pertanyaan itu sampai pada Madina, dia pun terdiam.


"Coba katakan siapa nama ayah dan ibumu Madina?"


Madina terdiam sejenak,


"Ayah itu apa Bu guru?"


Madina balik bertanya pada gurunya, gelak tawa seketika terdengar memecah keheningan suasana kelas Madina, semua teman Madina tertawa dengan pertanyaannya yang di rasa konyol bagi mereka.


"Hahaha Madina gak punya ayah kali Bu?"


Timpa Haikal di tengah suara tawa semua temannya.


Bu guru pun meminta semua diam dan coba mendengarkan penjelasan Madina, mengapa dia sampai bertanya hal seperti itu?


"Kenapa kamu bertanya seperti itu nak?"


Bu Ida, guru Madina pun bertanya.


Madina pun menjelaskan jika dalam hidupnya dia hanya mempunyai seorang ibu, Madina tidak tahu apa itu ayah karena dia tidak mempunyai ayah.

__ADS_1


"Hahaha Madina gak punya ayah, kasihan deh Lo" semua pun kembali tertawa dengan apa yang di ucapkan Haikal.


Mendengar semua teman sekelas mengejek dirinya, Madina pun hanya tertunduk sedih. Dan menahan air matanya.


__ADS_2