Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
berharap Puspa menyukainya


__ADS_3

Madina yang saat itu sedang asik bersama pak Mamat dan Bu Fatimah tidak menyadari kedatangan Zulham di dapurnya.


Karena terkejut, Puspa segera meminta Zulham untuk pergi dari rumahnya.


"Pergi kamu, tidak seharusnya kamu datang kesini Zulham, kamu tidak sopan"


Ucap Puspa mengusir Zulham.


Zulham pun hanya tertawa melihat tingkah Puspa yang ketakutan dan terkejut,


"Baiklah baiklah aku akan pergi, tapi nanti aku akan kembali lagi untuk Madina"


Zulham pun mengalah, akhirnya dia pergi dari dapur Puspa.


"Air nya sudah siap Bu?"


Ucap Madina kembali mengejutkannya, setelah Zulham pergi.


Dengan keringat yang membasahi dahinya, Puspa pun mengatakan jika airnya sudah matang, dia pun meminta Madina untuk menunggunya di luar.


"Baiklah Bu"


Puspa berusaha bersikap tenang, dia tidak mau membuat yang lain cemas karena ulahnya yang terkejut dengan kedatangan Zulham.

__ADS_1


Puspa juga tidak menyadari jika ternyata Madina sudah lupa akan kemarahannya padanya semenjak ada pak Mamat dan Bu Fatimah.


"Syukurlah, Madina sudah tidak marah lagi padaku?"


Namun meskipun Madina sudah tidak marah lagi padanya, Puspa justru semakin cemas memikirkan jawaban pertanyaan Madina tentang ayahnya,


Apa yang akan dia katakan pada Madina jika suatu waktu dia kembali menanyakan tentang ayahnya.


Siapa dan dimana ayahnya?


Sungguh semua itu membuat hati Puspa gelisah.


Puspa pun memutuskan untuk tidak memikirkannya saat itu, karena dia tidak ingin pak Mamat ataupun Bu Fatimah sampai mengetahui kesedihannya.


"Ini air nya, maafkan Puspa , pasti semua menunggu lama"


Mereka tidak keberatan karena asik bicara dengan Madina melepaskan semua kerinduannya.


Suasana rumah pun kini terasa hangat dengan kedatangan mereka.


Puspa sangat bersyukur sekali karena sudah di pertemukan dengan pak Mamat dan Bu Fatimah yang sangat menyayanginya semenjak pertama datang ke Tasikmalaya, mereka lah yang selalu membantu dan menolongnya sampai sekarang.


Puspa sudah menganggap mereka seperti kedua orangtuanya sendiri, begitupun sebaliknya, semenjak kepergian Lilis yang tanpa sebab dan salam pada mereka, membuat jarak diantara keduanya. Sehingga pak Mamat dan Bu Fatimah sudah tidak terlalu peduli lagi dengan sikap dan pribadi Lilis.

__ADS_1


Pak Mamat pun meminta untuk membeli makanan diluar untuk Madina dan mereka makan.


"Nak Puspa, kalau tidak keberatan, belilah makanan diluar untuk kalian, nah ini uangnya?"


Sambil menyodorkan selembar uang kertas 100 ribu.


Puspa pun paham dengan perintah pak Mamat, sebenarnya dia tahu jika Zulham datang kemari untuk menemuinya,


Dan yang sebenarnya terjadi ialah, pak Mamat


Justru sengaja pergi ke rumah Zulham meminta dia untuk mendekati Puspa agar Madina bisa menjadi anaknya.


Pak Mamat sangat menyayangi dan peduli pada Malika, itu sebabnya dia tidak tega membiarkan Puspa terus menahan air matanya karena sering di ejek perawan tua oleh masyarakat disekitarnya.


Puspa pun keluar rumah pergi ke warung serba ada hendak membeli makanan ringan untuk Madina.


Pak Mamat dan Bu Fatimah hanya bisa berharap yang terbaik untuk keduanya.


"Puspa tunggu"


Seseorang menghentikan langkah Puspa.


Puspa pun melihat siapa yang memanggilnya,

__ADS_1


Puspa sangat terkejut melihat siapa yang datang dan memanggilnya.


Puspa merasa heran apa yang sedang dia lakukan disini, dan mengapa dia harus kembali kemari.


__ADS_2