
Puspa pun seakan tidak percaya jika saat ini Zulham sedang memegang bahunya.
"Ternyata keyakinan ku memang benar, kau masih hidup Puspa?"
Ucap Zulham pada Puspa.
Puspa pun melepaskan genggaman tangan Zulham, sedangkan Madina yang tidak tahu siapa pria yang ada di hadapan ibunya, meras takut, Madina bersembunyi di balik Puspa.
"Zulham, kenapa kamu bisa ada disini?"
Tanya Puspa dengan nada yang cetus namun di dalam hatinya terlihat sekali jika dia juga merindukan Zulham.
Mimpi apa semalam, hingga pria yang dia ingat tadi sekarang berada di hadapannya.
Pikir Puspa.
"Aku masih tidak percaya jika akhirnya aku bisa menemukanmu Puspa? Dan dimana Madina?"
Tanya Zulham,
Seketika pandangannya tertuju pada anak kecil yang bersembunyi di balik Puspa.
"Kau kah Madina?"
Tanya Zulham pada anak kecil itu.
Madina yang ketakutan tidak mau melihat Zulham,
__ADS_1
"Siapa dia Bu, Madina takut"
Ucap Madina dengan bibirnya yang mungil.
Zulham pun mengajak Madina dan Puspa pergi ke sebuah rumah makan, Puspa pun setuju, karena ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Zulham mengenainya.
Madina sangat asik makan es krim coklat kesukaannya,
Zulham pun tak hentinya menatap Madina yang kini tumbuh menjadi anak yang cantik dan menggemaskan.
"Sebenarnya kenapa kamu ada disini?"
Tanya Puspa pada Zulham.
Zulham pun menjawab semuanya pertanyaan Puspa mengenai dirinya.
Zulham memulai cerita dimana dulu Puspa pernah menginap setelah tiba dari Singapura,
"Bukankah itu Puspa dan Madina?"
Pertanyaan Lilis begitu sangat mengejutkan Zulham, dia heran mengapa Lilis mengenal Puspa dan Madina, tanpa Zulham bertanya, Lilis langsung bercerita jika Puspa dan Madina tinggal di rumahnya dulu, dan dia sangat kesal karena Puspa berusaha menggantikan posisinya sebagai anak kesayangan kedua orangtuanya.
Lantas Zulham pun langsung bertanya dan tidak percaya jika Lilis sedang membicarakan tentang Puspa, karena setahu dirinya, Puspa sudah tiada dalam bencana longsor itu.
"Bencana longsor apa pak? Jelas-jelas Puspa dan anaknya ada di rumah saya"
Ujar Lilis saat mengatakan jika Puspa sudah tiada.
__ADS_1
Dengan segera Zulham pun langsung meminta alamat rumah dirinya di Tasik dan segera berangkat kesini untuk memastikan jika semuanya itu benar.
"Dan ternyata Lilis benar, kamu dan Madina masih hidup, asal kamu tahu, selama 4 tahun ini aku hidup di Bayangi rasa bersalah sama kamu Puspa, aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya kamu hidup berdua bersama Madina"
Ucap Zulham yang merasa bersalah pada Puspa.
Namum respon Puspa justru menanyakan bencana longsor yang menewaskan dirinya.
"Bencana longsor apa maksud kamu? Kenapa kamu bisa menyimpulkan aku dan Madina sudah tiada dalam bencana longsor?"
Tanya Puspa yang masih belum tahu jika bencana longsor telah terjadi di kampungnya wa Hannah.
Zulham pun bingung, mengapa Puspa tidak tahu dengan bencana itu.
Zulham pun menceritakan,
4 tahun yang lalu saat dirinya sedang mencari keberadaan Puspa dan Madina, Zulham dikejutkan oleh David yang membawa kabar duka jika bencana longsor telah terjadi di Cimahi, tepat di desa wa Hannah dan pak Harun, David juga melihat secara langsung jasad keduanya, namun tidak menemukan jasad Puspa dan Madina, tim SAR pun mengatakan jika kamu dan Madina sudah tiada tertimpa reruntuhan dan terkubur tanah longsor.
"Saat mendengar kabar itu, perasaanku hancur, aku tidak percaya jika kamu dan Madina sudah tiada?"
Puspa pun terkejut mendengar semua cerita Zulham padanya.
"Apa, jadi wa Hannah dan pak Harun, innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, apa itu artinya Nina juga sudah tiada dalam bencana itu, aku samasekali tidak tahu apa-apa Zulham, aku baru tahu dari kamu jika mereka sudah tiada"
Puspa menangis sedih mendapat kabar duka yang sudah sekian lama.
Dia pun teringat, mungkin bencana itu terjadi selang beberapa waktu saat dirinya di fitnah dan di usir oleh para warga, sedangkan pak Harun dan wa Hannah tak mampu membela karena mereka mengancam akan mengusirnya juga.
__ADS_1
Air mata Puspa terus berderai menangisi nasib wa Hannah, pak harun dan Nina.
dia juga tidak menyangka, jika jalan warga mengusir dirinya dari desa itu, adlah wujud cinta Allah untuk menghindarkan dirinya dan Madina dari bencana yang siap memusnahkan mereka.