Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
kesaksian Nizam


__ADS_3

Warga pun menghentikan langkahnya mengusir Puspa dan Madina.


Mereka terkejut dengan kedatangan sang kepala desa yang mereka hormati.


Lantas mereka bertanya mengapa pak Ilham datang kemari, dan mengapa dia menghentikan mereka.


"Lepaskan wanita itu"


Perintah pak Ilham pada warga yang membawa Puspa.


Merekapun melepaskan Puspa.


Dengan segera pak mamat menghampiri Puspa dan menanyakan keadaannya.


"Kamu tidak apa-apa nak?"


"Tidak pak, saya tidak apa-apa"


Pak Mamat pun membawa Madina dari pangkuan Puspa. Karena dia melihat jika Puspa sudah mulai pegal dan lemah.


"Ayo sini neng, kakek gendong ya"


Dengan tersenyum riang, Madina terlihat sangat antusias di gendong pak Mamat.


Puspa pun bertanya dalam hati, siapa yang datang bersama Bu Fatimah.


Dia terlihat sangat di hormati oleh warganya.


"Dia adalah pak Ilham nak, kepala desa disini, syukurlah ibu Fatimah datang tepat pada waktunya, tapi mengapa istri pak Haris dan anaknya ikut bersama mereka?"


Ucap pak Mamat pada Puspa.


Puspa dan pak Mamat pun berjalan menghampiri pak Ilham dan Bu Siti.


Dengan perasaan tidak menentu Puspa hanya diam tertunduk sedih.


"Dengarkan saya semuanya, kita tidak boleh main hakim sendiri, semua ada aturan dan hukumnya masing-masing, kita juga tidak tahu siapa yang bersalah disini, "


Ujar pak Ilham coba menengahi.


"Sudah jelas wanita itu yang bersalah pak, dia berusaha menggoda pak Haris"


Teriak salah satu anak buah suruhan pak Haris.


"Tidak, itu tidak benar"

__ADS_1


Jawab Puspa dengan tegas kembali membela diri.


Suasana pun kembali riuh.


"Sudah tenang, tenang, kita tidak punya saksi yang kuat untuk menyalahkan salah satu diantara mereka. Jadi kita tidak berhak menyalahkannya."


"Saya tahu yang sebenarnya terjadi pak"


Ucap Bu Wati, istri pak Haris.


Semua pun terkejut dengan pernyataan Bu Wati, begitupun dengan pak Haris.


"Apa-apaan ini, mengapa dia ikut campur, mau aku siksa lagi dia"


Ucap hati pak Haris yang kesal pada istrinya.


"Ayo bicaralah nak, kamu tidak usah takut, ceritakan yang sebenarnya terjadi pada semua, ibu ada bersamamu.


Pesan Bu Wati pada anaknya yang bernama Nizam, bocah berusia 9 tahun itu.


Susana pun mulai tenang saat Nizam akan menceritakan semua yang terjadi sebenarnya.


"Sebenarnya, sepulang sekolah, saya melihat bapak di jalan, dia terlihat bahagia, saya mengira jika bapak hendak pergi ke warung, itu sebabnya saya mengikuti bapak.


Saya melihat wanita itu pergi mengambil air minum ke dapur, namun bapak langsung mengunci pintu depan saat wanita itu lengah.


Dan bapak coba menganiaya wanita itu, bapak tidak mengampuni wanita itu meski dia melihat anaknya menangis sangat kencang, wanita itu berteriak minta tolong, namun suara disel di belakang sangat kencang hingga tidak ada yang mendengar teriakannya, saya juga berusaha membuka pintu untuk menolongnya, namun tidak bisa. Akhirnya saya pergi menemui ibu dan meminta ibu untuk menolong wanita itu"


Penjelasan Nizam membuat pak Haris terkejut.


",Bohong itu fitnah, dasar anak nakal"


Pak Haris bergerak maju menuju istri dan anaknya, dia hendak menampar Nizam atas semua penjelasannya, namun Puspa berhasil menghalau tangan kasar yang hendak menampar pipi bocah kecil itu.


"Begini kah cara mendidik anakmu?"


Puspa langsung menepis tangan pak Haris dan melindungi Nizam.


Sedangkan Bu Wati terlihat sangat ketakutan.


"Ampun pak, jangan siksa Nizam"


Teriak Bu Wati yang sangat takut akan pak Haris menyakiti anaknya.


Dan ternyata ketakutan Bu Wati sangat beralasan, selama ini sering sekali Bu Wati mendapat perlakuan kasar sang suami yang menyebabkan ketakutan sendiri di dalam dirinya.

__ADS_1


Pak Haris selalu menyiksa istrinya untuk hal yang sepele, mau itu tentang kehendaknya yang tidak terlaksanakan oleh Bu Wati atau masalah apapun.


"Ibu jangan khawatir, tidak ada akan menyiksa anak ibu"


Pak Ilham pun melangkah di depan Puspa untuk melindungi semuanya.


"Jadi sekarang semua sudah terbukti, kalian bisa menilainya sendiri siapa yang bersalah, "


Pak Ilham menyuruh ajudannya untuk menelpon Kapolsek setempat.


"Kurang ajar"


Pak Haris coba melarikan diri, namun sebelum itu, pak Haris yang membawa pisau di belakang bajunya coba menyerang Bu Wati, dia sangat kesal padanya.


Namun saat pak Haris menyerang Bu Wati, Puspa melihatnya dan dalam hitungan detik, pisau itu tidak sengaja mengenai lengan Puspa hingga berdarah.


"Ah"


Teriak Bu Wati saat melihat pak Haris ingin menyerangnya.


Semua pun di buat terkejut kala Puspa lah yang akhirnya menjadi korban pisau pak Haris.


Pisau itu menancap tepat di lengan atas Puspa yang berusaha melindungi Bu Wati.


Pak Haris yang tidak menyangka jika Puspa yang akan menjadi korbannya langsung melarikan diri, hingga seluruh warga pun mengejarnya.


"Nak Puspa"


Bu Fatimah segera menolong Puspa.


Puspa kesakitan, karena lukanya cukup parah, pisau pun masih menancap di lengannya, tidak ada yang berani menarik pisau itu.


Pak Ilham yang melihatnya pun tidak tega, dia segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Puspa.


"Tahan rasa sakit nya ya, saya akan berusaha menarik pisau ini"


Ucap pak Ilham pada Puspa,


Puspa pun hanya diam menahan rasa sakit.


Dan saat pak Ilham menarik pisau tersebut.


"Ah..."


Puspa merintih kesakitan, darah pun tidak berhenti mengalir, sepertinya luka di lengan Puspa memanglah dalam.

__ADS_1


__ADS_2