
Semua ucapan Lilis begitu menusuk batin Puspa, mengapa dia bisa Setega itu menghina dan merendahkan dirinya, dosa apa Puspa pada Lilis.
"Jangan sembarangan bicara kamu Lilis, kurang ajar ya kamu?"
Pak Mamat menampar pipi Lilis di depan semua warga yang ada,
"Bapak menamparku, tega ya bapak, hanya demi membela Puspa, bapak tega menampar Lilis? Lilis kecewa sama bapak"
Lilis menangis karena tamparan pak Mamat di depan semua orang yang membuatnya malu.
Sedikit menyesal pak Mamat setelah menampar anaknya, karena bagaimana pun tidak seharusnya dia memberi pelajaran kepada sang anak dengan kekerasan.
Puspa yang melihat pun ikut sedih, namun tuduhan warga yang terlanjur terhasut oleh tuduhan Lilis membuatnya tidak bisa berkutik.
Puspa kini di kepung beberapa ibu-ibu yang siap mengarak dan mengusirnya. Seperti yang terjadi sebelumnya.
Pak Haris tersenyum licik menyaksikan Puspa yang malang sedang dikerumuni para ibu-ibu.
"Ya Allah akankah kejadian dulu terulang kembali setelah hamba mulai merasakan ketenangan hati di tempat ini, berilah petunjuk untuk jalan keluar dari masalah ini ya Allah, tunjukanlah kebenaran mu"
Dalam hati Puspa berdoa dan meminta pertolongan kepada sang penguasa semesta, agar dirinya bisa selamat dari fitnah yang kejam ini.
Pak Mamat coba Menenangkan warga yang mulai memanas akan tuduhan Lilis pada Puspa.
"Tenang ibu-ibu, kita tidak boleh main hakim sendiri, biarkan nak Puspa menjelaskan semua yang terjadi"
Ujar pak Mamat.
"Alah sudah terbukti jika Puspa yang salah pak Mamat, lihat saja baju pak Haris sampai robek seperti itu".
Timpal seorang pria yang datang atas suruhan pak Haris untuk membelanya.
__ADS_1
"Itu semua tidak benar, percayalah padaku? Pak Haris lah yang berusaha menganiaya saya"
Puspa tidak menyerah begitu saja, dia berusaha membela diri jika semua yang dituduhkan kepadanya tidaklah benar.
Namun dengan bantuan anak buah pak Haris yang sudah di sebarkan diantara para ibu-ibu membuat pembelaan Puspa sia-sia saja.
Anak buah pak Haris terus mengintimidasi jika Puspa lah yang bersalah.
"Usir saja wanita itu dari kampung ini, wanita itu hanya akan menjadi penggoda suami orang lain"
Sebuah tuduhan yang semakin membuat hati Puspa sakit hati.
Di tengah kerumunan warga yang semakin memanas akan kemarahannya untuk mengusir Puspa,
Madina terlihat sangat tenang tidak seperti biasanya,
Madina yang biasa menangis jika melihat keributan, untuk kali ini dia hanya melihat dan sesekali tersenyum ke arah sekitar.
Puspa sedikit merasa tenang saat melihat Madina baik-baik saja dalam pangkuannya.
Rintihan hati Puspa saat menatap wajah Madina yang tidak berdosa.
Seseorang pun menarik lengan Puspa dengan kencang dan mendorongnya hingga terjatuh.
Untunglah Puspa sangat kuat memeluk Madina, sehingga dia tidak terlepas dari pangkuannya.
Untuk kesekian kali, Puspa tidak bisa melawan.
Dia seakan pasrah jika nasibnya harus terusir kembali dari tempat ini.
Pak Mamat tidak bisa menahan amarah warga yang ingin mengusir Puspa, meski sekuat tenaga dia berusaha semua sia-sia saja.
__ADS_1
Dan akhirnya Puspa pun.
"Untuk yang terakhir kalinya, sebelum semua terlambat, saya katakan jika saya tidak bersalah, kalian boleh saja mengusir saya dari sini, tapi saya tidak bersalah, saya bersumpah saya tidak bersalah, saya tidak memaksa kalian percaya pada saya, tapi saya yakin Allah maha tahu segalanya"
Ucap Puspa dengan tegas untuk yang terakhir kalinya cukup membuat hati setiap yang mendengar merasa menusuk hati mereka.
Pak Haris yang merasa jika setelah Puspa mengatakan semua itu, kemarahan warga sedikit mencair langsung memberi kode pada anak buahnya untuk segera mengusir Puspa dari sini.
"Alah kami tidak butuh semua sumpah mu wahai wanita ******"
Sebuah hinaan yang begitu menusuk ulu hati Puspa kala mendengarnya.
Puspa hanya sedikit tersenyum kala mendengar semua hinaan mereka, meski batinnya menangis, namun dia berhasil tegar menghadapi semuanya.
Pak Mamat merasa tidak berguna karena tidak bisa menolong Puspa dari pengusiran warga.
Pak Mamat menangis melihat Puspa yang di tarik untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Tidak ingin pak Mamat merasa sedih, Puspa memberi senyum bahagianya pada pak Mamat, seraya berkata dengan pelan, jika semua akan baik-baik saja, dan terimakasih pada pak Mamat karena selama ini dia sudah sangat baik kepadanya dan Madina.
Dan disaat yang tepat,
Saat Puspa keluar dari rumah,
Bu Fatimah, Bu Wati dan Yuli datang di waktu yang tepat, mereka membawa kepala desa untuk meluruskan semua perkara yang terjadi.
",Hentikan... Hentikan semua ini, lepaskan wanita itu"
Ujar pak Ilham selaku kepala desa di sana.
Pak Haris pun terkejut dengan kedatangan sang istri dan anaknya.
__ADS_1
"Mengapa mereka datang kesini?"
Ucap hati pak Haris mulai merasa cemas.