
"Madina kamu dimana nak?"
Teriak Puspa saat mencari keberadaan Madina.
Puspa terus menelusuri setiap titik yang memungkinkan mereka jatuh atau sempat pergi ke tempat itu, namun masih belum ditemukan.
Sementara di rumah, Zulham yang kini menjadi tahanan rumah merasa kesal karena tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Madina dan saudara kembarnya itu.
Meski Zamrun seorang penjahat, namun dia masih saudara kandungnya, saudara kembar satu ayah dan satu ibu, dia juga mencemaskan keselamatannya.
"Kita satu kandung Zamrun, entah mengapa saat ini aku merasa kamu masih hidup dan sedang menungguku, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong mu?"
Ucap Zulham yang tersiksa karena tidak bisa melakukan apapun.
***
Zamrun pun coba berdiri dan melepaskan jaketnya, perlahan dia menutup matanya dan coba kembali mendengarkan darimana sumber air itu berada.
Saat Zamrun memejamkan mata, sosok Puspa hadir dalam pikirannya, dia merasa jika pusat saat ini sedang berada dekat dengannya.
"Astaga, apa-apaan aku ini? Mengapa aku membayangkannya, "
Zamrun menggelengkan kepalanya coba menghilangkan bayangan Puspa dalam pikirannya.
Kemudian suara air kembali terdengar dan ternyata itu adalah air terjun dan jaraknya tidak terlalu jauh darinya.
Zamrun memanggil Madina dan mengatakan jika didekat sini ada air terjun,
"Itu artinya mungkin sebentar lagi kita akan menemukan jalan pulang nak?"
"Yeay hore, kita pulang, kita pulang "
Madina gembira mendengar semua yang Zamrun katakan, kemudian merekapun melanjutkan perjalanan mereka mencari jalan pulang.
__ADS_1
...
Di tempat lain, Puspa menemukan jepit rambut Madina di titik dimana Zamrun dan Madina pertama kali bertemu,
"Itu kan,?"
Puspa segera meraih jepit rambut Puspa dan memanggil pak polisi jika dia menemukan jepit rambut anaknya.
"Syukurlah, itu artinya, ada kemungkinan anak ibu masih selamat, ayo kita cari lebih dalam lagi"
Puspa dengan senang hati memeluk jepit rambut Madina dan mengatakan.
"Tunggu ibu nak, sebentar lagi ibu pasti akan menolong dan menemukanmu"
Merekapun berjalan lebih kedalam menyusuri setiap jejak langkah yang terlihat, jejak langkah Zamrun yang menggendong Madina kala itu.
Disana mereka kembali menemukan sebuah resleting jaket Zamrun yang kemungkinan rusak saat dirinya terjatuh dan sedang di pakai oleh Madina.
Tak lama setelah itu, Puspa melihat kepulan asap kecil dari arah selatan, dengan segera Puspa berlari ke arah sumber asap itu.
"Madina"
Puspa menemukan sebuah saung kecil beralaskan daun pisang dan beratapkan daun kelapa,
Disana juga mereka menemukan bekas pisang yang sudah dimakan yang berserakan, serta potongan baju yang terkoyak seakan terlihat seperti sudah di serang binatang buas.
"Tapi Bu, lihat lah ini? Apakah ibu tahu potongan baju siapa ini?"
Polisi memperlihatkan beberapa robekan baju Zamrun yang sengaja dia robek untuk mengikat luka di punggung dan lengannya akibat terluka karena menarik pisang tadi pagi.
Di robekan kain tersebut juga terlihat ada bercak darah yang ternyata Zamrun sengaja merobek pakaiannya karena luka di punggungnya kembali membasah dan mengeluarkan darah, itu sebabnya dia beralasan pada Madina jika dia memotong bajunya untuk membalut luka tulang yang retak di punggungnya, agar Madina tidak khawatir.
"Apa mungkin mereka diserang binatang semacam singa atau harimau pak?"
__ADS_1
Tanya seorang polisi yang lain.
Mendengar semua itu, Madina pun terkejut dan tidak percaya,
"Tidak tidak mungkin, ini semua pasti tidak mungkin, Madina pasti masih hidup, Madina Madina"
Puspa kembali berteriak, dan samar samar terdengar oleh Madina dari kejauhan.
...
"Ibu..."
Dalam hati Madina yang mendengar samar suara Puspa memanggilnya langsung terdiam dan menghentikan langkahnya.
"Kenapa nak, apa kamu lelah? Mau ayah gendong lagi?"
Tanya Zamrun melihat Madina Menghentikan langkahnya.
"Tidak ayah, Madina hanya..."
Belum selesai Madina menjawab, Zamrun akhirnya jongkok dan meminta Madina untuk naik ke atas punggungnya kembali.
"Ayo naiklah, biar ayah gendong lagi"
Madina pun kini berpikir tidak mungkin jika itu suara ibunya, mungkin dirinya hanya sedang rindu pada Puspa, dan suara itu mungkin hanya halusinasinya saja yang sudah sangat merindukannya.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalannya menuju air terjun, berharap mereka bisa menemukan jalan pulang.
"Ayah, bagaimana keadaan ibu sekarang ya? STI dia sangat mencemaskan aku? Madina tidak sanggup melihat ibu sedih"
Tanya Madina pada Zamrun membuat hatinya kembali gundah,
Haruskah dia memisahkan Madina dan Puspa untuk memuaskan rasa egoisnya.
__ADS_1
Atau bisakah dia membiarkan anak kandungnya bersama wanita itu untuk selamanya?
Semua masih berputar di pikirannya.