
Setelah 4 tahun berlalu, Puspa baru mengetahui kabar bencana itu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dia baru tahu? Kemana saja dia selama ini?
"Astagfirullah tidak mungkin Zulham, tidak mungkin mereka tiada? Kamu pasti sedang berbohong kepadaku?".
Tanya Puspa yang tidak percaya jika mereka sudah tiada.
Zulham pun menguatkan cerita dirinya dengan memberikan sebuah foto bencana longsor yang menimpa kampung wa Hannah.
Melihat semua bukti yang ada, Puspa sangat terpukul, dia merasa sangat sedih mengingat mereka semua yang menjadi korban disana, dia tidak bisa membayangkan bagiamana jika dirinya dan Madina menjadi salah satu korban disana.
Puspa bersyukur karena dirinya dan Madina selamat namun dia justru menyalahkan dirinya akan musibah yang terjadi disana, Puspa teringat akan serapah dalam hatinya saat dia difitnah dan di usir warga hingga akhirnya dia terpaksa pergi meninggalkan desa itu.
"Apa, jadi kamu di usir dari sana karena mereka menyangka Madina adalah anak haram kamu?"
Zulham sangat terkejut saat mendengar berita tentang Puspa dan Madina,
Zulham pun semakin merasa bersalah karena telah menyeret dan membuat Puspa menderita karena telah mengurus Madina.
Puspa juga menceritakan jika tidak hanya di desa itu dia usir, tapi dari kampung halamannya dan disini juga dia hampir terusir dengan fitnah yang sama.
"Penderitaan mu begitu besar Puspa, tidak seharusnya kamu mendapatkan takdir seperti ini?"
Kata hati Zulham yang ikut sedih dengan penderitaan Puspa.
Dalam hati, Zulham ingin sekali memberitahu Puspa jika Madina adalah anak dari kembarannya, tapi dia masih belum siap, Zulham masih bimbang jika Madina sampai di urus oleh ayahnya yang seorang penjahat, di khawatirkan Madina akan mengikuti jejak sang ayah.
Tapi jika dia membiarkan Puspa terus mengurus Madina, kasihan nasib Puspa, gadis suci tidak berdosa, harus menanggung derita di panggil wanita berdosa.
Akhirnya, Zulham pun menyarankan sesuatu hal yang berharap Puspa bisa menerimanya.
__ADS_1
"Puspa, aku ingin memberitahu sesuatu padamu?"
Kata Zulham.
Puspa yang masih teringat akan kenangan dirinya bersama Nina di Cimahi, masih melayang dalam lamunannya sehingga dia tidak menyadari jika Zulham terus memanggilnya.
"Puspa, are you oke?"
Puspa pun terkejut kala Zulham kembali memanggilnya,
"Astagfirullah maafkan aku, ada apa Zulham?"
Tanya Puspa tersadar dari lamunannya.
Zulham meminta Puspa untuk tidak marah saat dirinya hendak menyampaikan sarannya ini.
"Puspa, apa sebaiknya kamu titipkan saja Madina ke panti asuhan?"
"Apa, ? Apa maksudmu?"
Tanya Puspa tidak percaya akan semua ucapannya untuk Madina.
"Apa kamu tidak percaya jika aku mampu membesarkan Madina sendiri? Apa kamu meragukan aku untuk hidup bersama Madina? Zulham? Katakanlah, katakan?"
Puspa kecewa dan marah pada Zulham karena berani berbicara jika seperti itu padanya, Puspa merasa Zulham telah meragukan kemampuannya dalam membesarkan Madina.
Yang padahal niat Zulham bukanlah untuk meragukannya, melainkan dia ingin menyelamatkan masa depan Puspa yang harus terlupakan hanya untuk mengurus dan membesarkan Madina.
Tapi Zulham masih tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku Puspa, aku percaya kamu mampu dan kamu kuat, aku sama sekali tidak meragukan kemampuan kamu mengurus Madina, tapi aku peduli dengan masa depanmu, itu saja, hanya itu saja"
Zulham pun teringat akan cerita Lilis tentang Puspa, dimana saat itu Zulham sedang melihat foto Puspa dan Madina, saat Lilis melihatnya, dia langsung mengatakan
"Tuan kenal juga dengan wanita murahan itu?"
Seketika detak jantung Zulham berdegup kencang kala Lilis merendahkan Puspa, dia ingin sekali marah, namun dia masih bisa mengendalikan dirinya, Zulham merasa heran, mengapa Lilis bisa mengatakan itu pada foto Puspa.
"Wanita itu sangat licik pak, masa hanya demi sebuah kontrakan dia rela menggoda suami orang, itu tandanya dia wanita murahan kan tuan? Tuan mengenalnya juga? Atau jangan-jangan tuan juga di goda sama Puspa?".
Dengan mulut yang tidak bisa dia rem, Lilis terus menghina Puspa di hadapan Zulham, dan itu sangat membuatnya sakit hati.
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu tahu dengannya?".
Tanya Zulham,
Lilis pun akhirnya menceritakan jika Puspa memang tinggal bersama keluarganya di kampung, dan dari sanalah dia tahu jika Puspa masih hidup dan berada di Tasik, kampung Lilis.
Cahaya harapan pun mulai terang kala mendengar jika Puspa dan Madina ternyata masih hidup, namun Zulham akan berusaha untuk menutupi kabar ini jangan sampai Zamrun mengetahui jika anaknya ternyata masih hidup.
***
Mendengar cerita Zulham tentang Lilis yang merendahkannya, Puspa pun tertunduk sedih.
"Ini alasannya mengapa aku menyarankan kamu untuk menitipkan Madina ke panti asuhan pa? Aku memikirkan kamu, memikirkan Madina juga, setidaknya jika Madina di panti, ada pengurus yang akan menjaga dan menjamin hidupnya, jadi kamu bisa melanjutkan hidup dan masa depanmu"
Ujar Zulham coba menenangkan hati Puspa yang marah kepadanya.
Perkataan Zulham pun memang dirasa benar, Puspa harus bisa menata masa depan dan meraih cita-citanya .
__ADS_1
Pikiran Puspa pun mulai gelisah, dia memikirkan semua yang dikatakan Zulham padanya
***