
Tangan mungil Madina menyeka air mata Puspa yang terus membasahi pipinya, Puspa tidak bisa berhenti menangis karena takut kehilangan Madina dengan semua yang Zulham katakan padanya.
Puspa tidak menyangka Zulham bisa Setega itu padanya, Zulham yang selalu dia anggap karibnya dari dulu, sekarang menjelang seperti musuh yang ingin menyerang dan merebut harta berharganya yaitu Madina.
Pak Mamat dan Bu Fatimah pun bertanya, apa yang terjadi, mengapa Puspa menangis seperti itu.
Puspa tidak berani menceritakan semuanya di depan Madina, hingga akhirnya Puspa meminta Madina untuk masuk kedalam kamar dan jangan menguping semua pembicaraannya.
"Madina masuk dulu ke kamar ya nak, masih ada PR sekolah yang belum Madina kerjakan kan?"
"Ia Bu, Madina kerjakan PR dulu ya, kakek nenek Madina masuk ke kamar dulu ya"
Madina pamit pada pak Mamat dan Bu Fatimah dengan riang karena hadiah yang mereka berikan untuknya.
...
Suasana pun mulai tegang, dimana pak Mamat coba menanyakan apa yang sudah terjadi.
"Zulham pak"
Ucap Puspa pada keduanya.
Pak Mamat dan Bu Fatimah pun tersenyum karena mereka mengira jika Zulham benar melamar Puspa untuk dia jadikan istri dan menjadi ayah Madina.
"Ada apa dengan nak Zulham? Apa dia melamar mu? Terima saja dia nak, Zulham orang baik, dia akan cocok untuk menjadi ayahnya Madina?"
Mendengar semua yang Bu Fatimah ucapkan padanya tentang Zulham, Puspa langsung menepis semuanya.
"Dia bukan orang baik Bu, justru dia seorang penjahat"
Jawab Puspa dengan wajahnya yang marah.
Keduanya pun bertanya apa sebenarnya yang Puspa maksudkan.
Puspa pun menceritakan semua yang terjadi diluar sana tentang Zulham dan dirinya.
"Aku tidak menyangka jika dia bisa melakukan semua ini padaku Bu?"
Puspa kembali terisak menangis mengingat semua yang Zulham katakan padanya tentang Madina.
"Puspa tidak ingin kehilangan Madina Bu, Puspa takut sekali Zulham akan mengambil Madina dan memisahkan aku dengannya"
Lanjut Puspa yang sangat ketakutan.
Pak Mamat dan Bu Fatimah tidak menyangka dan percaya jika Zulham bisa melakukan semua itu pada Puspa dan Madina.
Karena setahu mereka Zulham adalah orang yang baik, tidak terbesit sedikitpun di benak mereka jika Zulham adalah orang jahat yang tega membuang anaknya sendiri.
"Sudah nak, kamu jangan khawatir, bapak tidak akan membiarkan Madina sampai pergi darimu, dia anakmu dan selamanya akan menjadi anakmu"
__ADS_1
Ucap pak Mamat coba Menenangkan Puspa yang sangat ketakutan dan gelisah.
Bu Fatimah pun memeluk Puspa dengan lembut, selembut pelukan sang ibu kandung yang tidak tahu kabarnya seperti apa sekarang.
Bu Fatimah dan pak Mamat pun pamit pulang, sebelum mereka pergi, mereka berpesan pada Puspa untuk tidak meninggalkan Madina sendirian dan jangan membuatnya sedih.
"Baik pak, Bu, terimakasih kalian sudah sangat baik kepada saya dan Madina"
Puspa berterimakasih pada keduanya.
***
Sepanjang malam, Puspa terus teringat akan semua yang Zulham katakan padanya untuk membawa Madina dan memisahkan dirinya dengan Madina.
Puspa tidak bisa tidur dengan semua yang telah terjadi di siang hari, kemudian Puspa pun masuk ke kamar Madina dan melihat wajah mungil itu sudah terlelap dengan senyumnya yang menggemaskan.
"Madina anak ibu, jangan pernah tinggalkan ibu nak"
Bisik Puspa di telinga Madina yang sudah terlelap.
Puspa pun akhirnya ikut terlelap di kamar Madina.
...
Keesokan harinya Madina sudah bersiap untuk berangkat sekolah seperti biasanya, Madina terlihat sangat riang gembira, karena Madina akan memakai tas baru pemberian dari Bu Fatimah.
Tanya Madina polos pada Puspa.
Puspa pun memuji kecantikan Madina yang sangat menggemaskan itu.
"Anak ibu sangat cantik memakai apa saja, karena anak ibu sudah cantik dari sananya..hihi"
Jawab Puspa pada Madina.
Puspa pun mengantar Madina sampai sekolah.
"Nanti ibu jemput kamu seperti biasa ya, ingat jangan dulu pulang sebelum ibu datang ya , Madina mengerti kan?"
Pesan Puspa pada Madina untuk tidak dulu pulang sebelum dirinya datang menjemput Madina.
"Baiklah Bu, Madina akan tunggu ibu"
"Anak ibu pintar, ayo masuk kelas, belajar yang rajin ya, "
Madina pun tersenyum dan masuk kedalam kelas, sementara itu Puspa biasa melanjutkan pekerjaan mencuci dan gosok pakaiannya di rumah pelanggannya.
Puspa berniat ingin membelikan sesuatu yang istimewa untuk Madina sepulang sekolah, dia berniat ingin membawa Madina jalan-jalan ke pasar dan membiarkan dirinya memilih apa yang ingin dia beli.
"Aku harus dapatkan uangnya sekarang, untuk Madina"
__ADS_1
Tekad Puspa kemudian melanjutkan pekerjaannya.
...
Madina belajar seperti biasa di kelasnya, kali ini tidak ada yang mengganggu Madina, karena Haikal sudah meminta maaf padanya dan menjadi karibnya sekarang, hanya Rania yang masih tidak suka pada Madina.
Bel pun berbunyi, jam pulang pun tiba
"Madina kamu mau ikut denganku? Aku dijemput papa, jalan kita kan searah?"
Tanya Haikal pada Madina menawarkan untuk mengantar Madina pulang.
"Tidak baiklah terimakasih, aku menunggu ibuku saja"
Jawab Madina menolak dengan lembut.
"Baiklah kalau begitu aku pulang duluan ya"
Madina pun tersenyum pada Haikal.
Kemudian seseorang dengan Mambawa mobil Jeep pun datang menghampiri Madina.
"Madina ayo naik"
Ajak Zamrun pada madina.
Madina yang mengira jika Zamrun adalah Zulham sangat bahagia melihat kedatangannya.
" Om Zulham"
Ucap Madina langsung berdiri dan terlihat sangat senang,
Zamrun pun turun dari mobilnya dan langsung memeluk Madina untuk yang pertama kalinya.
Zamrun sangat terharu karena kali ini dia bisa bertemu dengan anak kandungnya yang telah lama hilang.
"Anakku"
Lirih hati Zamrun kala memeluk Madina dengan tulus.
Keduanya pun saling berpelukan melepas rindu, Madina sangat rindu dengan Zulham, begitupun dengan Zamrun, dia juga sangat merindukan anaknya itu.
Zamrun meminta Madina untuk ikut dengannya, namun Madina menolak, karena dia sudah berjanji pada ibunya untuk menunggunya sampai dia datang.
"Tapi om disuruh ibu untuk menjemput kamu nak"
Ujar Zamrun memberi alasan agar Madina mau ikut dengannya.
Mendengar semua itu, akhirnya Madina pun ikut bersama Zamrun kedalam mobil Jeep nya.
__ADS_1