Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
menceritakan masa lalu


__ADS_3

Pak Mamat dan Bu Fatimah merasa bersalah untuk semua yang dilakukan Lilis pada Puspa dan Madina


"Lilis,kamu sembarangan saja kalau bicara,minta maaf sama Puspa,"


Pak Mamat dengan tegas meminta Lilis agar meminta maaf pada Puspa karena telah menghinanya.


"Loh kenapa Lilis harus minta maaf pak,dia yang tidur di kamar Lilis,kenapa Lilis yang harus minta maaf?"


Lilis yang keras kepala tidak mau meminta maaf pada Puspa meski pak Mamat dan Bu Fatimah sudah memaksa.


"Sudah pak,jangan paksa Lilis,maafkan saya karena saya telah merepotkan bapak dan ibu,mungkin saya memang harus segera pergi dari sini,"


Bu Fatimah yang mulia merasa nyaman dengan Puspa dan Madina memintanya untuk tidak pergi.


"Jangan pergi nak,biar kamu dan Madina tidur di kamar ibu ya,kamu jangan pergi apalagi membawa anakmu"


Namun Puspa tetap pada pendiriannya untuk segera pergi dari rumah mereka,


"Jangan pergi nak,maafkan anak ibu,.maafkan ibu nak?"


Ucap Bu Fatimah pada semua.


Puspa yang tersinggung dengan hinaan yang keluar dari mulut Lilis terlanjur membuat putusan untuk pergi dari rumahnya.


Setelah Lilis diam,Puspa pun segera masuk kedalam kamar untuk mengganti bajunya dan pamit keluar dari rumah pak Mamat.


"Tapi nak,"


Pak Mamat segera berucap untuk menghentikan Puspa dan Madina pergi dari rumahnya.


"Tunggu sebentar nak,jangan pergi"

__ADS_1


Meskipun pak Mamat berusaha membujuk Puspa untuk tidak pergi,


Niat Puspa sudah kuat,dia tidak mau merepotkan keluarga pak Mamat lagi.


"Maafkan saya pak,saya memang bersalah,tidak seharusnya saya merepotkan bapak dan ibu,Puspa minta maaf untuk semua itu,"


Puspa meminta maaf pada orangtua Lilis yang terus mencegahnya untuk tidak pergi.


Sementara Lilis berpikir dalam hatinya.


"Apa yang istimewa dari Puspa dan Madina,mengapa mereka seolah membelanya dan tidak rela jika dia pergi dari rumah ini"


Tanya hati Lilis mengenai Puspa.


"Baiklah jika nak Puspa memang memaksa untuk pergi,biar bapak Carikan kontrakan yang dekat dengan rumah kita ya,"


Ujar pak Mamat menawarkan dirinya untuk membantu Puspa mencari kan kontrakan.


"Terimakasih pak"


Namun dalam hati kecilnya dia kembali berpikir,jika dia ngontrak rumah,darimana dia akan membayar cicilan pertamanya,sedangkan uangnya hanya tersisa 50rb.


Pak Mamat mengerti dengan raut wajah Puspa mengenai biaya kontrakan.


Bu Fatimah mengantarkan kepergian Puspa sampai depan pintu rumah.


***


Zulham dan Zamrun kini sedang bersitegang,


Zamrun yang percaya jika Zulham mengetahui dimana keberadaan putranya tersebut meminta Zulham untuk memberitahunya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu tahu dimana anakku sekarang,cepat katakan padaku dimana anak ku"


Teriak Zamrun pada Zulham dengan luapan amarah yang sangat besar.


"Anak tuan sudah tiada"


Dari depan pintu rumah besar Zamrun,suara David terdengar sangat jelas.


"David kau...


Apa maksudmu"


Tanya Zamrun dengan wajah yang serius pada David.


Zulham juga tidak mengerti mengapa david bisa mengatakan itu pada tuannya.


Zamrun menarik kerah baju David hingga dia kesakitan dan sesak.


"Lepaskan dia ka"


Zulham coba melerai David dari amarah sang Zamrun.


"Biarkan dia bicara terlebih dahulu"


Lanjut Zulham meminta sang kakak untuk tenang dan biarkan David menceritakan dulu yang sebenarnya terjadi.


David menghela napasnya dalam.


David coba menceritakan semuanya,semua perasaannya pada Puspa yang terlanjur mencintai nya, dia menceritakan secara gamblang tentang Aisyah.


"Ya Aisyah dan anak tuan sudah tiada,mereka menjadi salah satu korban bencana longsor di Cimahi "

__ADS_1


David pun teringat jelas semua kenangan bersama Aisyah dan Madina.


Dia tidak menyangka jika mereka akan meninggalkan David secepat ini,David sangat merindukan Aisyah/Puspa dan Madina


__ADS_2