Madina Bukan Anak Haram

Madina Bukan Anak Haram
Dimana Zulham ?


__ADS_3

Dokter mengatakan pada Puspa sebuah kabar yang akan membuatnya terkejut bahagia.


"Ya ada apa dok?"


"Saya ada kabar baik untuk ibu Puspa, kami sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Madina Bu"


Ucap dokter di hadapan Zamrun yang tidak tahu jika seandainya Madina terluka separah itu, sehingga dia membutuhkan donor ginjal.


Zamrun pun bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya itu.


Puspa pun menjelaskan semuanya pada Zamrun akan kondisi Madina saat ini.


"Astaga Madina, jadi dia..."


Seketika Zamrun teringat jika dirinya hanya mempunyai satu ginjal, dan itupun pemberian dari Zulham, tidak mungkin kini dia meminta satu ginjal Zulham kembali untuk anaknya.


"Jadi sekarang sudah ada pendonor yang cocok untuk Madina dok? Siapa dia? Bisakah saya bertemu dengannya? Saya ingin berterima kasih padanya".


Tanya Puspa penasaran.


Dokter Pun mengatakan jika nanti mereka pasti akan bertemu dengan si pendonor.


"Baiklah dok terimakasih, lalu kapan operasinya bisa dilakukan? Apakah semuanya akan aman untuk Madina kan dok?"


Melihat kecemasan di wajah Puspa, membuat Zamrun semakin merasa bersalah jika dia sampai memisahkan Madina dari Puspa.


"Dia wanita yang sangat baik, sangat pantas jika dia menjadi ibunya Madina"


...


Dokter mengatakan jika operasi bisa dilakukan siang ini juga, karena memang tidak bisa di biarkan lama sebab kasihan Madina, dia terlalu kecil untuk menahan rasa sakit penyakitnya itu.


Zamrun pun ingat betul bagaimana rasa sakit yang dirasakan Madina sekarang.


Karena dulu dia juga merasakan semua itu.


Puspa tidak bisa mengambil keputusan sendiri, karena bagaimanapun Zamrun lah yang lebih berhak memberikan keputusan.


"Semua keputusan ada di tanganmu Zamrun, kamu lebih berhak memutuskan apa yang terbaik untuk Madina?"


Puspa menyerahkan semua keputusan itu pada Zamrun, dan itu membuat Zamrun merasa dihargai sebagai ayah kandung dari Madina oleh Puspa.


Zamrun pun menyetujui operasi tersebut siang ini juga, sedangkan Madina yang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum bahagia melihat Puspa dan Zamrun bersama.


Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang mencemaskan keadaan anaknya.

__ADS_1


"Ibu, ayah.. Madina sangat senang melihat kalian bersama seperti ini"


Ucap Madina kepada Puspa dan Zamrun membuat keduanya saling menatap dengan reflek.


Zamrun pun merasa kaku saat Madina mengatakan semua itu,


"Madina sudah selesai bermain bersama susternya?"


Tanya Puspa pada Madina.


Madina pun mengatakan jika hari ini dia merasa sangat bahagia karena melihat ibu dan ayahnya dekat.


Dalam hati Madina berpikir, apakah akan ada lagi orang yang menyebutku anak haram jika mereka tahu kalau dirinya mempunyai ayah.


Yaitu Zamrun, yang Madina kira adalah Zulham. Meski hanya sebatas ayah panggilan di bibir mungilnya.


Madina berharap yang terbaik untuk hidupnya.


"Aku akan beritahu semua temanku jika aku punya ayah sama seperti mereka, agar tidak ada lagi yang menghinaku dengan menyebutku anak haram, ya akan aku lakukan setelah aku pulang, hihi"


Pikir Madina dalam bayangannya saat melihat Puspa dan Zamrun dekat.


"Oh ya nak, sekarang dokter mau memeriksa kamu dulu, ayo kita kembali ke kamar kamu?"


Ajak Puspa pada Madina.


Jawab Madina membuatnya terkejut, Madina kali ini bertingkah aneh, dia bersikap berlebihan seakan sedang menarik perhatian Puspa dan Zamrun.


Madina tidak mau kembali ke kamarnya jika tidak bersama Zamrun, Madina bersikeras sehingga Puspa pun menyerah,


Puspa berpikir apa yang sedang Madina lakukan? Mengapa dia bersikap seperti ini? Apa dia tahu jika sebenarnya lagi dia akan melakukan operasi? Itu sebabnya dia bertingkah seperti ini.


Melihat Madina membuat Puspa pusing, Zamrun pun akhirnya menuruti permintaan Madina untuk bersamanya.


"Baiklah nak, jangan bersikap seperti itu pada ibumu, itu tidak baik, ya ayah akan antar kamu ke kamar, tapi kamu janji pada ayah, kamu harus menuruti semua yang dokter katakan kali ini, minta maaflah pada ibumu"


Jawab Zamrun pada Madina membuat hatinya merasa lebih tenang, Zamrun dan Puspa pun mulai tidak canggung satu sama lain.


Akhirnya Zamrun ikut mengantar Madina ke kamarnya, meski langkahnya masih lemah, namun dia berusaha untuk kuat.


Puspa memberi kode pada Zamrun untuk memberitahu jika dokter akan mengoperasinya.


Zamrun pun berpikir sejenak,


"Madina, kamu ingin segera pulang kan?"

__ADS_1


Tanya Zamrun pada Madina.


Zamrun pun mengatakan jika Madina ingin sembuh, kata dokter dirinya harus di operasi.


"Operasi itu apa ayah?"


Tanya Madina polos,


Puspa Menambahkan penjelasan apa itu operasi pada Madina sehingga Madina mengerti dan tahu apa itu operasi.


"Jadi jika Madina ingin sembuh, maka Madina harus


Operasi?"


"Ia nak"


Madina pun setuju dengan syarat jika dia ingin ditemani Zamrun.


Puspa pun terdiam, seketika Zamrun menatap Puspa, dia bingung harus menjawab apa dengan semua permintaan Madina.


Dokter pun menjawab jika Zamrun bisa menemani Madina sampai operasi akan di mulai,


Madina pun tersenyum, dokter pun meminta Puspa dan Zamrun untuk segera bersiap.


Puspa merasa sangat bahagia karena akhirnya ada pendonor yang cocok dengan Madina? Tapi siapa?


Saat Madina hendak menanyakan siapa pendonor tersebut, dokter berlalu menuju ruang operasi untuk segera bersiap.


...


"Aku jadi teringat Zulham, bagaimana keadaannya sekarang? Aku belum sempat memberitahu dia jika Madina dan kakaknya sudah selamat, tapi pasti polisi memberitahu dia. Andai kamu tahu Zulham, sebenarnya aku tidak bisa membencimu terlalu lama"


Ucap hati Puspa teringat akan Zulham.


Zamrun pun bertanya pada Puspa, siapa pendonor yang rela memberikan ginjalnya untuk Madina?


"Sebenarnya aku juga tidak tahu"


Puspa pun menceritakan jika sebelum dokter mengatakan ada pendonor yang cocok untuk Madina, dirinya sempat memeriksakan diri, namun usahanya gagal, karena ginjalnya tidak cocok.


"Dokter juga mengatakan jika kamu tidak bisa mendonorkan ginjalmu, karena kamu hanya memiliki satu ginjal"


Lanjut Puspa pada Zamrun.


Zamrun pun coba menanyakan dimana keberadaan Zulham pada Puspa.

__ADS_1


Puspa sempat terdiam, karena dia merasa takut untuk mengatakan jika Zulham saat ini sedang menjadi tahanan rumah karena telah menjadi penyebab kakaknya mengalami kecelakaan.


.


__ADS_2