
"semua tidak benar Bu ibu,semua itu fitnah"
Teriak wa Hannah dari dalam rumah sambil menggendong Madina coba membela Puspa.
Bu Maisaroh yang masih ragu langsung bertanya pada Puspa yang sebenarnya.
"Lalu kalau bayi ini bukan anaknya anak siapa dia,mengapa Puspa mau merawatnya?"
Pertanyaan yang kembali membuat Puspa diam seribu bahasa, janjinya pada Zulham sangat teringat untuk tidak memberitahu siapapun siapa Madina sebenarnya.
Puspa terdiam hingga membuat Bu Maisaroh menyimpulkan jika ucapan Bu Elis memanglah benar.
"Dia tidak akan bisa menjawabnya Bu,karena dia memang bersalah dan mengakui jika anak itu anak haramnya dia bersama lelaki hidung belang disana"
"Astagfirullah"
Semua terkejut dan tidak menyangka jika Puspa bisa melakukan hal serendah itu.
"Usir saja Puspa dari sini Bu,dia hanya membawa sial untuk kampung ini"
Ujar Bu Elis menyarankan semua orang yang ada disana untuk mengusir Puspa.
Namun kali ini Puspa tidak tinggal diam,kini dia mulai bicara
"Ya,Madina memang anakku,apa salahnya dengan Madina,apa salahnya jika dia lahir ke dunia ini untuk hidup bersamaku,apa aku salah membesarkan dan mengurusnya,apa ibu semua tega membiarkan Madina terlantar sendirian tanpa pengasuhan disana,tidak kan?"
Ujar Puspa membela diri dan Madina.
"Madina bukan anak haram,dia adalah anakku,Madina anak yang suci sama seperti anak yang lain,dia tidak terlahir hina seperti yang kalian kira,"
Lanjut Puspa menegaskan jika Madina bukanlah anak haram.
Dengan linangan air mata Puspa coba kuat membela dirinya dan Madina agar kejadian pengusiran sebelumnya tidak terulang kembali.
Wa Hannah memeluk Puspa coba menguatkannya,dia mengusap bahunya agar merasa lebih tenang.
"Kalian dengar sendiri kan,Madina itu bukanlah anak haram,justru Puspa begitu baik ingin membesarkan Madina meski dia bukanlah...."
"Alah itu hanya alasannya saja untuk membela diri supaya kita tidak mengusirnya"
Tanpa wa Hannah menyelesaikan semua ucapannya,Bu Elis langsung menepis dan memotong semua pembicaraannya yang hendak menjelaskan jika Puspa memang bukan ibu kandungnya.
Puspa hanyalah seorang wanita biasa yang Ina dan kasihan pada Madina yang sudah menjadi anak yatim dan ingin membesarkannya.
__ADS_1
Bu Elis pun mengompori para warga untuk mengusir Puspa dari kampungnya.
"Usir saja Puspa.dari sini Bu,dia hanya akan menjadi aib di kampung ini,"
Ucap Bu Elis yang meminta warga untuk mengusir Puspa dari kampung mereka.
"Ia pergi saja kamu dari sini Puspa ,kami tidak mau kampung kita ketiban sial karena adanya pendosa seperti kamu"
Puspa menangis,wa Hannah pun coba melindungi,
Dia meminta Puspa untuk menggendong Madina terlebih dahulu,
Wa Hannah pun meminta para ibu-ibu untuk tenang terlebih dahulu,karena semua hanyalah salah paham,Puspa tidak seperti yang mereka kira.
Namun usaha wa Hannah sia-sia Bu Elis terlanjur berhasil meracuni pikiran para ibu disana untuk mengusir Puspa.
Dengan tangis nya yang sudah tak mampu Puspa tahan dia berikrar dengan suara yang keras
Jika dirinya memang terbukti bersalah maka biar Allah yang menghukumnya langsung pada dirinya tepat di depan semuanya.
Namun jika dirinya terbukti tidak bersalah,maka Allah akan menimpakan hukuman bagi mereka yang telah memfitnah dirinya.
Suara gemuruh petir pun terdengar seakan mendengar ikrar Puspa pada dirinya di depan semua yang mendengar.
Ucap wa Hannah yang sangat percaya pada Puspa jika dirinya tidak bersalah.
"Kami tidak akan terpengaruh dengan semua alasanmu Puspa,lebih baik kamu pergi dari sini sebelum mereka mengusir mu dengan paksa dari sini"
Ujar Bu Elis kembali mengusir Puspa.
Warga yang terlanjur terpengaruh oleh fitnah dari Bu Elis pun kini ikut mengusir Puspa dan Madina agar mereka pergi dari kampungnya.
"Pergi saja kamu dari sini Puspa,pergi"
Teriak salah seorang warga yang ada disana.
Tangis Puspa semakin pecah kala melihat Madina menangis karena suara gemuruh warga yang mengganggu pendengarannya,
Madina sangat ketakutan akan teriakan para ibu-ibu yang mengusirnya dari kampung itu.
"Cepat pergi kami tidak pantas ada disini"
Ucap Bu Maisaroh.
__ADS_1
Pak Harun pun yang mengetahui jika dirumahnya sedang terjadi kerusuhan langsung berlari dari sawah menuju ke rumahnya.
Dengan sigap pak Harun coba menghentikan aksi main hakim sendiri yang di lakukan warga pada Puspa.
"Sudah sudah ,berhenti,ada apa ini,mengapa kalian menarik Puspa dan Madina, kalian tidak lihat bayi ini menangis teriak karena suara kalian"
Ucap pak Harun yang tidak terima melihat Puspa di tarik paksa oleh ibu-ibu untuk di usir.
Puspa yang saat itu hanya terdiam pasrah bersyukur dengan kedatangan pak Harun,dia berharap pak Harun bisa menyelamatkannya dari pengusiran ini.
"Lepaskan Puspa,kalian tidak ada hak untuk mengusirnya,siapa kalian memangnya berani mengusir wanita tidak bersalah seperti itu"
"Wanita ini sudah bersalah pak Harun,Puspa sudah menodai dirinya,maka dia tidak pantas berada di kampung kita,nanti kampung kita ketiban sial "
Ujar Bu Maisaroh yang masih panas akan cerita Puspa .
Sekuat apapun pak Harun coba menghentikan warga mengusir Puspa ternyata pak Harun juga kalah,dia tidak mampu menahan amarah para ibu-ibu yang terlanjur marah pada fitnah yang menimpa Puspa.
"Bagaimana ini pak,tolong Puspa loh".
Disaat pak Harun dan wa Hannah hendak menolong Puspa yang sedang di tarik warga untuk segera pergi,
Salah seorang ibu-ibu pun mengancam jika pak Harun dan wa Hannah masih bersikukuh untuk menghentikan Puspa pergi dari sini maka merekapun juga harus pergi dari sini.
Langkahnya pak Harun pun terhenti mendengar ancaman mereka,
Dalam hati pak Harun ingin sekali menghentikan Puspa dan menolongnya,namun keadaan memaksa langkah nya terhenti.
Puspa yang mendengar ancaman itu pun meminta wa Hannah untuk tidak menghentikan nya karena dia tidak mau jika wa Hannah dan pak Harun harus menderita karena membela dirinya.
"Sudah wa,biarkan Puspa pergi, Puspa ikhlas dengan semua ini,Puspa serahkan semuanya pada yang maha kuasa,karena Puspa yakin jika kebenaran suatu hari akan terungkap.terimaksih karena selama ini wa dan pak Harun sudah baik pada Puspa dan Madina,kebaikan kalian tidak akan pernah Puspa lupakan sampai kapanpun"
Ucap Puspa sebelum pergi meninggalkan kampung wa Hannah karena dipaksa pergi oleh warga sekitar yang termakan fitnah dari Bu Elis.
Puspa merasa mungkin inilah nasibnya, kebencian akan dirinya kini mulai tumbuh kembali dihatinya setelah sekian lama dia meyakinkan diri jika langkahnya tidak salah.
Puspa pun akhirnya pergi dari kampung itu degan berjalan kaki,entah harus kemana Puspa sekarang,dia sangat bingung,karena dia juga tidak pegang uang banyak,
Celengannya masih ada di dalam kamar di rumah wa Hannah.
Meski hati sangat sakit menerima semua ini,namun dia berusaha untuk lebih tenang dan tetap berpikiran
Baik untuk semua hal yang Allah sedang berikan padanya.
__ADS_1