
Kini mereka sudah mendekati air terjun, karena suara gemuruh air sudah sangat riuh terdengar di telinga keduanya.
"Ayah itu suara air terjun nya? Ia kan?"
Madina menghentikan langkahnya, tiba-tiba saja dia teringat akan sang ibu yang sangat menyukai air, Madina menangis memanggil ibunya.
"Ibu.."
Zamrun pun memeluk Madina dan coba menenangkannya, Zamrun berusaha menghibur Madina agar tidak sedih dan teringat akan Puspa.
"Madina ingat ibu ayah, Madina tidak ingin berpisah dengan ibu, ibu adalah segalanya bagi Madina, meskipun banyak orang yang memanggilku anak haram, ibu selalu mengistimewakan aku, Madina ingin bersama ibu"
Madina memeluk erat Zamrun dan mencurahkan semua kerinduannya akan Puspa padanya.
Sedangkan Zamrun sangat terkejut dengan pengakuan Madina, jika dirinya sering dipanggil anak haram oleh orang lain,
Dalam lubuk hati yang paling dalam, Zamrun sangat sakit hati, dia berjanji jika tidak akan pernah ada lagi yang boleh memanggil anaknya dengan sebutan anak haram.
Matanya memerah, ingin sekali dia marah, namun dia tak kuasa, Zamrun tidak ingin Madina melihat sipat aslinya, dia tidak ingin Madina kecewa padanya dan tidak mau lagi bertemu dengannya dengan semua sipat asli yang dia miliki, yaitu seorang penjahat.
Zamrun pun memeluk kembali tubuh mungil Madina dan menggendongnya.
Madina pun merasa sangat aman saat berada dalam pelukan Zamrun.
"Ayah, memangnya anak haram itu apa? Ibu selalu memarahiku jika aku menanyakan hal ini padanya? Madina kan juga mau tahu?"
Madina bertanya pada Zulham saat dalam gendongannya.
Zamrun pun dibuat tak berkutik dengan semua pertanyaannya itu,
Dalam hati, dia berpikir,
(Jadi Puspa sering memarahi Madina jika dia menanyakan soal anak haram, tapi mengapa? Apa Puspa tidak ingin Madina tahu yang sebenarnya, apa mungkin Puspa ingin tetap menjaga nama baik kedua orangtua kandungnya, daripada Madina sampai tahu apa itu anak haram.
Semua pertanyaan itu kini berputar di pikiran Zamrun.
"Tapi mengapa aku tidak mempunyai ayah seperti yang lain om Zulham?"
Tanya Madina pada Zamrun yang masih mengira jika dia adalah Zulham bukan Zamrun.
"Kamu mempunyai ayah nak, kamu jangan cemas, ada banyak orang yang sangat menyayangimu di dunia ini"
Jawab Zamrun pada Madina dan memintanya menganggap dia sebagai ayahnya.
"Jika Madina tidak keberatan, om mau jadi ayah kamu,? Ayah yang akan selalu menjaga kamu, oke"
__ADS_1
Lanjut Zamrun masih membicarakan seputar kehidupan Madina tanpa seorang ayah.
Madina pun tersenyum dan berkata, jika Zamrun menjadi ayahnya? Apakah tidak akan adalagi yang menyebutnya anak haram?
"Tentu tidak sayang, karena memang tidak ada yang namanya anak haram, semua anak dilahirkan suci, termasuk Madina, sudah ya, jangan bahas ini lagi, lihatlah air terjun sudah mulai terlihat"
Ucap Zamrun menunjuk ke arah air terjun di sebrang hutan.
"Wah... Indah sekali yah"
Suara gemuruh disertai kabut putih pancaran sang air yang jatuh membuat pemandangan air terjun terlihat sangat indah, di tambah beberapa burung beterbangan dengan suaranya yang merdu membuat Madina dan Zamrun semakin menikmati pemandangannya.
"Tapi sebentar Madina, kita tidak bisa kesana dengan mudah, lihatlah dibawah ada jurang lagi, jika kita salah melangkah maka kita akan jatuh, lebih baik kita duduk dulu sebentar ya, semoga saja ada orang yang datang kemari dan menyelamatkan kita"
Keduanya pun kini duduk berdua, sejenak menikmati pemandangan air terjun di hadapannya, suara perut Madina mulai berbunyi meminta jatah makan.
Zamrun pun tersenyum lucu mendengar suara perut anaknya itu.
"Madina tunggu sebentar disini ya, ayah akan cari makanan kesana, ingat jangan kemana-mana. Oke"
"Baik ayah, Madina akan tunggu ayah disini?"
Madina duduk menunggu Zamrun mencari makanan, sementara Zamrun coba mencari buah-buahan hutan yang bisa mereka makan untuk mengganjal perutnya yang lapar.
"Suatu hari, Madina akan bawa ibu melihat pemandangan indah ini"
Ucap Madina kecil.
Zamrun pun berhasil mendapatkan beberapa buah yang bisa mereka makan.
Betapa terkejut Zamrun saat melihat Madina yang masih duduk melihat air terjun.
"Jangan bergerak Madina, tetap tenang dan jangan bereaksi lebih, di belakangmu ada ular"
Teriak Zamrun pada Madina,
Sebagai bocah kecil biasa tentunya Madina merasa takut, meski Zamrun memintanya untuk tenang.
Zamrun perlahan mendekat untuk menyelamatkan Madina, dengan perasaan takut Madina pun berdiri dan langsung berlari menuju Zamrun.
Ular yang terkejut seketika menyerang Madina namun tidak berhasil,
Madina yang kini berada di pangkuan Zamrun merasa sangat takut dan cemas melihat ular hitam besar sedang mengincarnya.
Suara Derik ular beracun itu sangat terdengar menakutkan ditelinga Madina.
__ADS_1
Zamrun coba menghindar dari serangan ular dengan berlari sambil menggendong Madina, itupun dengan tangan kosong, namun kejaran ular lebih cepat daripada lari Zamrun, hingga akhirnya ular berhasil menyerang Zamrun tepat di kaki kanannya.
Sang ular Derik berhasil mengigit dan menyimpan racunnya pada kaki kanan Zamrun sehingga Zamrun dan Madina terjatuh.
"Ayah"
Teriak Madina dengan sangat keras hingga terdengar jelas oleh Puspa, tim SAR dan para polisi.
"Madina, itu suara Madina pak, ia itu benar suara Madina"
Ujar Puspa yang terkejut dengan teriakan Madina memanggil ayah.
Zamrun dan Madina terjatuh, Zamrun pun tak sengaja melepaskan pelukannya pada tubuh Madina sehingga dirinya jatuh dan nyaris masuk jurang air terjun,
Namun untunglah Madina lepas dari pelukannya, jika tidak mungkin Madina sudah ikut jatuh bersamanya,
Zamrun berhasil memegang pada sebuah akar pohon yang menancap di tepi tebing dengan sisa tenaga yang ada.
"Ayah ...
Tolong tolong"
Teriak Madina meminta tolong Berharap ada yang menyelamatkan ayahnya.
Madina menangis melihat Zamrun yang sudah tidak kuat lagi menahan tubuhnya yang penuh luka dengan racun yang kini mulai menyebar.
"Madina, pergilah nak, nanti ular itu bisa kembali lagi, pergilah jangan cemaskan ayah, "
Pinta Zamrun pada Madina untuk pergi meninggalkannya.
"Tidak ayah, Madina tidak akan meninggalkan ayah "
Karena tekanan pikiran yang tinggi dan rasa lapar yang Madina tahan, perutnya pun kembali terasa sakit.
"Ah sakit, parut Madina sakit ayah?"
Madina merengek kesakitan di tengah kecemasannya akan keselamatan Zamrun yang hampir terjatuh.
Zamrun pun tidak mampu lagi bergerak, tubuhnya sudah setengah mati rasa karena racun ular tersebut, ditambah luka di punggungnya membuat Zamrun merasa pasrah jika memang akhir hidupnya harus berakhir disini.
"Jika memang takdirku sampai disini, aku sangat bersyukur sekali karena engkau telah mempertemukan aku dengan anakku tuhan, anakku yang sangat cantik, baik dan lembut, aku hanya ingin anakku bahagia, jaga dia, aku titipkan dia padamu"
Sesaat Zamrun mengucapkan semua itu dalam hatinya, Madina justru jatuh pingsan tidak sadarkan diri di hadapan Zamrun.
Zamrun yang melihat Madina pingsan pun semakin dibuat tidak berdaya, wajahnya yang sudah semakin pucat dan tenaga ditangannya yang sudah melemah membuat pegangan tangan pada akar pohon pun akhirnya terlepas.
__ADS_1