
Penerbangan menuju Singapura tinggal 20 menit lagi,
"Untunglah aku cepat sampai kesini, jika tidak aku pasti akan terlambat"
Sambil menggendong Madina, Zamrun meminta anak buahnya untuk memberikan tiket masuknya agar dia bisa segera masuk ke pesawatnya.
Namun saat salah satu anak buahnya masuk kedalam, dia melihat ada Zulham dengan seorang wanita,
"Gawat bos, tuan Zulham ada di dalam bersama seorang wanita, sepertinya dia sedang mencari bos"
Kabar anak buahnya dari sebrang telpon pada Zamrun yang masih berada di luar.
"Astaga, Zulham, pasti wanita yang dia maksud adalah Puspa"
Zamrun kesal, dia bingung harus berbuat apa, jika dia sampai nekad membawa Madina kedalam, pasti Zulham akan melihatnya, tapi jika dia tidak masuk, maka dia akan ketinggalan pesawat.
***
"Ayo cepat Zulham, kita cari Madina, hatiku mengatakan jika dia ada disini?"
Ucap Puspa yang terus mencari keberadaan Madina.
Merekapun masuk kedalam bandara dengan seijin petugas yang Zulham kenal.
"Ini aku Zulham pak, kau pasti mengenal aku, ijinkan kami masuk sebentar saja, karena anak kami hendak dibawa paksa pamannya menuju Singapura, kami datang untuk kembali membawanya"
Karena sudah saling mengenal dan nama Zulham cukup terkenal baik, maka petugas bandara mengijinkannya.
"Baiklah tapi hanya sebanyak ya"
Saat mendengar si petugas bandara mengijinkan mereka masuk, Puspa begitu sangat bahagia, dengan segera dia masuk ke area para penumpang, namun setelah dia cari Madina masih belum dia temukan.
__ADS_1
"Madina dimana Zulham?"
"Ayo kita cari lebih teliti lagi"
Jawab Zulham terus mencari keberadaan Zamrun dan Madina.
Keduanya berpencar, berharap mereka bisa bertemu dengan Madina.
Puspa dengan teliti melihat satu persatu calon penumpang yang menuju ke Singapura, namun tidak terlihat ada Madina.
Hatinya pun mulai menangis kembali dan putus asa,
"Dimana kamu nak? Ibu sangat merindukanmu"
Lima menit lagi pesawat akan segera terbang, penumpang sudah masuk dan bersiap untuk berangkat.
"Apa mungkin Madina sudah berada di dalam pesawat?"
"Maaf nyonya, anda tidak bisa masuk, pesawat sebentar lagi akan terbang"
Petugas yang menjaga keamanan pesawat melarang Puspa untuk masuk kedalam pesawat.
"Saya mohon pak, sebentar saja, saya mohon "
Puspa memohon pada petugas namun permohonannya tetap ditolak.
Puspa pun kembali bersedih, dia menangis karena pemberitahuan pemberangkatan pesawat menuju Singapura sudah terdengar.
"Madina, jangan tinggalkan ibu nak, kembalilah pada ibu".
Puspa kembali menangis karena gagal menemukan Madina.
__ADS_1
Zulham pun datang dan coba menyadarkannya.
"Sudah Puspa bangunlah, jika memang Madina ada di dalam pesawat itu, maka kita bisa menyusulnya, aku tahu rumah Zamrun dimana? Kita bisa menyusul Madina ke Singapura"
"Tapi aku, ..."
Ucapannya terhenti kala melihat isi di dalam dompetnya"
"Sudah kamu jangan pikirkan tentang masalah ongkos menuju kesana, yang terpenting sekarang kita beli tiketnya dulu ya".
Zulham pun segera memesan tiket menuju Singapura yang berangkat besok pagi.
...
Sementara itu, Zamrun yang bingung harus pergi kemana, sebab pesawat yang hendak dia tumpangi hanya beberapa menit lagi akan segera terbang.
Zamrun pun akhirnya berpikir untuk berangkat menuju Singapura dari bandara lain, dia pun segera menghubungi semua anak buahnya untuk mencari informasi pesawat menuju Singapura malam ini juga.
"Cepat cari informasi itu"
"Baik bos, saya akan segera mencari informasinya"
Zamrun pun akhirnya kembali kedalam mobil, dengan keadaan masih menggendong Madina yang terlelap.
Madina pun duduk di kursi depan sekarang, karena Zamrun takut akan kehilangannya, Zamrun pun akan memastikan jika Madina akan selalu ada dalam pengawasannya.
"Tidur yang nyenyak ya sayang, maafkan ayah, karena kita tidak jadi berangkat menuju ibumu malam ini, tapi ayah janji kita akan pergi menemui ibumu suatu hari nanti, karena dia juga pasti sangat merindukanmu walaupun dia sudah tiada"
Ucap Zamrun sedih mengucapkan semua itu kepada Madina yang terlihat masih tidur, merekapun kini mulai masuk mobil, dan ternyata
"Ibu...ibu..ibu"
__ADS_1
Teriak Madina kala tersadar dari tidurnya